CILEGON, WILIP.ID — Ketika air mulai menjadi persoalan di sejumlah wilayah Kota Cilegon, warga tak hanya menunggu langit berubah. Ikhtiar pun ditempuh dari lapangan.
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Cilegon menggelar Sholat Istisqa bersama masyarakat di Lapangan Futsal M Sport, tepat di depan Kantor DPTD PKS Kota Cilegon.
Sholat untuk memohon turunnya hujan itu digelar di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah titik di Kota Cilegon. Persoalan tersebut diperberat dengan debu vulkanik yang masih dirasakan masyarakat menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sejak pagi, warga dari berbagai kalangan berdatangan. Kegiatan dijadwalkan dimulai pukul 06.30 WIB.
Bagi PKS Cilegon, Sholat Istisqa bukan sekadar seremoni keagamaan. Kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bentuk ikhtiar spiritual masyarakat menghadapi kondisi yang sedang terjadi.

Sebelum sholat dimulai, jemaah terlebih dahulu mendapatkan penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan Sholat Istisqa. Ustadz Waishul Qurni, Lc., dari Dewan Etik Daerah PKS Kota Cilegon, memberikan bimbingan tersebut menggantikan Ustadz Sutisna Sekretaris MUI Kota Cilegon yang berhalangan hadir.
Setelah itu, KH. Zubaidi Ahyani, BA tampil sebagai imam sekaligus khatib. Sholat berlangsung khusyuk.
Dalam khutbahnya, Zubaidi mengingatkan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar dan berdoa, sementara hasil akhirnya merupakan kehendak Allah SWT.
Jemaah juga diajak memperbanyak istighfar dan memohon ampun atas kesalahan serta maksiat yang dilakukan. Bukan hanya meminta hujan, tetapi juga melakukan introspeksi dan berkomitmen memperbaiki diri.
Pesannya sederhana: ketika langit belum menurunkan air, manusia diminta tidak berhenti mengetuk pintu langit sekaligus terus berusaha di bumi.
Ketua DPD PKS Kota Cilegon, H. Fery Budiman, SKM., S.Kep., MARS, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan ikhtiar bersama untuk menghadapi kekeringan.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan ikhtiar spiritual kita bersama untuk menghadapi musibah kekeringan, semoga Allah segera menurunkan berkah dan rahmat-Nya bagi masyarakat Cilegon.”
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah.
Di tengah persoalan kekeringan, Sholat Istisqa menjadi pengingat bahwa masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar harapan. Doa menjadi ikhtiar batin, sementara penanganan kekeringan tetap membutuhkan langkah nyata agar kebutuhan air warga benar-benar terjawab.
Bagi warga yang tengah menunggu hujan, setiap tetes air tentu punya arti. Bukan hanya untuk membasahi tanah, tetapi juga untuk meringankan beban kehidupan sehari-hari.
(Has/Red*)















