20 Tahun Mengabdi, “Papih” Dilepas di Tengah Semarak Maulid MAN 2 Cilegon

CILEGON, WILIP.ID – Maulid Nabi Muhammad SAW biasanya identik dengan tausiah dan acara seremonial. Namun, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Cilegon memilih cara berbeda.

Peringatan Maulid Nabi yang digelar Jumat (11/9/2026) itu dikemas lebih hidup. Bukan hanya mendengarkan ceramah, para siswa diajak berkompetisi dalam berbagai lomba keagamaan, belajar berbagi melalui infak dan sedekah, hingga menyaksikan momen haru pelepasan guru yang telah mengabdi lebih dari dua dekade.

Pesannya sederhana: meneladani Rasulullah SAW tak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus terlihat dalam prestasi, akhlak dan kepedulian.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Gemah Maulid. Sejumlah cabang lomba keagamaan digelar, mulai dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqah Syarhil Quran, Fahmil Quran, lomba khotbah hingga marawis.

Kepala MAN 2 Kota Cilegon, Mamad, S.Pd., M.Pd., mengatakan lomba tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk menggali kemampuan yang mereka miliki.

“Banyak sekali potensi anak-anak dari hasil lomba itu. Mudah-mudahan potensi tersebut menjadi bekal bagi mereka dan bisa memberikan sumbangsih untuk MAN 2 Kota Cilegon dalam berbagai event, baik tingkat kabupaten/kota hingga nasional,” kata Mamad.

Bagi Mamad, kompetisi keagamaan bukan sekadar persoalan siapa yang menjadi juara. Ada potensi yang harus ditemukan, diasah dan kemudian diarahkan agar mampu berkembang lebih jauh.

“Alhamdulillah, sebelumnya kita melaksanakan berbagai kegiatan lomba keagamaan, seperti Musabaqah Tilawatil Quran, Musabaqah Syarhil Quran, Fahmil Quran, lomba khotbah dan marawis,” ujarnya.

Sekretaris Komite MAN 2 Kota Cilegon, Rachmat AS, mengatakan Maulid Nabi merupakan agenda rutin keluarga besar madrasah. Namun, tahun ini konsepnya diperkuat dengan lomba keagamaan.

Menurut dia, kegiatan tersebut selaras dengan identitas madrasah yang menjadikan pendidikan keagamaan sebagai salah satu kekuatan utama.

“Madrasah itu produk unggulannya adalah keagamaan. Karena itu, kegiatan seperti Tilawatil Quran, Syarhil Quran dan Fahmil Quran menjadi pembekalan bagi anak-anak,” kata Rachmat.

Pada puncak acara, siswa mendapatkan tausiah dari penceramah muda, Ustaz Abdu Rijal Azhar dari Jakarta.

Pesan yang disampaikan pun tak sekadar mengajak siswa mencintai Rasulullah SAW. Mereka diingatkan mengenai bekal penting untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat, yakni akal, ilmu dan Al-Qur’an.

Di sinilah Maulid ditempatkan bukan hanya sebagai perayaan, tetapi sebagai bagian dari proses pendidikan karakter.

Ada satu pelajaran lain yang coba ditanamkan MAN 2 Kota Cilegon: berbagi tidak harus menunggu kaya.

Rachmat mengatakan pembiayaan kegiatan Maulid berasal dari sumbangsih siswa dan dukungan komite melalui para orang tua murid.

Namun, menurutnya, yang paling penting bukan besarnya nominal yang terkumpul. Anak-anak justru dibiasakan memahami makna memberi dengan tulus dan ikhlas.

“Yang kita utamakan adalah bagaimana anak-anak mengenal infak dan sedekah dengan tulus dan ikhlas,” ujarnya.

Kebiasaan tersebut tidak hanya muncul saat Maulid. Infak juga dilakukan rutin setiap Jumat bersamaan dengan istighosah.

Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga besar madrasah, termasuk membantu siswa yang membutuhkan.

“Dari kita, oleh kita, juga kembali untuk kita,” kata Rachmat.

Praktik tersebut menjadi semacam laboratorium sosial bagi siswa. Mereka tidak hanya mendengar nasihat tentang kepedulian, tetapi melihat bagaimana kepedulian itu diwujudkan.

Dalam Maulid kali ini, sejumlah siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi juga mendapat perhatian dan bantuan.

“Ini contoh kecil bagaimana anak-anak belajar memberikan perhatian dan kepedulian kepada rekannya yang kurang atau bahkan tidak mampu,” ujarnya.

Di tengah semarak lomba dan tausiah, suasana Maulid berubah haru ketika MAN 2 Kota Cilegon melepas salah satu pendidiknya, Pak Rus, yang memasuki masa purna bakti.

Bagi siswa, ia dikenal dengan sapaan “Papih”. Sementara di kalangan para pendidik, sosoknya akrab dipanggil “Pak Dhe”.

Lebih dari 20 tahun mengabdi di MAN 2 Kota Cilegon membuat perjalanan Pak Rus tidak bisa dipisahkan begitu saja dari perjalanan madrasah.

Generasi demi generasi siswa telah melewati masa pendidikan dengan sosok tersebut sebagai bagian dari lingkungan mereka.

Pelepasan itu pun menjadi bentuk penghormatan keluarga besar MAN 2 Kota Cilegon atas pengabdian dan dedikasinya.

Ada pesan yang tersirat dari momen tersebut: pendidikan bukan hanya tentang mereka yang datang untuk belajar, tetapi juga tentang orang-orang yang bertahun-tahun memilih bertahan untuk mendidik.

Pada akhirnya, Maulid Nabi di MAN 2 Kota Cilegon menunjukkan bahwa peringatan keagamaan bisa menjadi ruang pendidikan yang jauh lebih luas.

Ada siswa yang belajar berkompetisi. Ada yang belajar membaca dan memahami Al-Qur’an. Ada yang belajar berbagi. Ada pula yang belajar menghargai sebuah pengabdian.

Sebab, mencintai Rasulullah SAW tidak berhenti pada perayaan. Nilainya harus turun menjadi akhlak, ilmu, prestasi dan kepedulian.

Dan itulah yang coba ditanamkan MAN 2 Kota Cilegon: mencetak siswa yang bukan hanya pintar di ruang kelas, tetapi juga punya bekal agama, karakter dan kepedulian sosial.

(Has/Red*)