Semangat Kemerdekaan dari Pesantren: Santri Fajrul Karim Tasmi’ 30 Juz Bergilir

SERANG, WILIP.ID – Kemerdekaan tak cukup dirayakan dengan upacara dan kibaran bendera. Di Pondok Pesantren Tahfizh Fajrul Karim, semangat HUT ke-81 Republik Indonesia diterjemahkan dengan cara berbeda: para santri memperdengarkan hafalan Al-Qur’an hingga 30 juz secara bergilir.

Kegiatan Tasmi’ Al-Qur’an 30 Juz itu digelar Senin (31/8/2026), sejak pukul 05.00 WIB hingga selesai. Para santri, ustadz, dan ustadzah terlibat dalam rangkaian kegiatan yang menjadi bagian dari pembinaan tahfizh di lingkungan pesantren.

Juz demi juz dibacakan. Bukan sekadar untuk menunjukkan seberapa banyak ayat yang telah dihafal, tetapi juga untuk menguji seberapa kuat hafalan tersebut ketika harus diperdengarkan di hadapan guru dan lingkungan pesantren.

Di sinilah tasmi’ menjadi penting. Sebab, menjadi penghafal Al-Qur’an bukan hanya soal mengejar jumlah juz. Hafalan harus terus dijaga, bacaan diperbaiki, dan keberanian dibangun agar Al-Qur’an benar-benar menjadi bagian dari kehidupan santri.

Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Fajrul Karim, Mulhat Ali Nuh, Lc., M.A., yang akrab disapa Kyai Mulhat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pesantren membentuk generasi yang tidak hanya memiliki hafalan Al-Qur’an, tetapi juga akhlak dan tanggung jawab sosial.

“Di usia kemerdekaan yang ke-81 ini, kami ingin menegaskan bahwa salah satu bentuk cinta tanah air adalah dengan mencetak generasi yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi bagi bangsa. Generasi Qur’ani adalah generasi yang akan menjaga marwah umat dan negeri,” ujar Kyai Mulhat.

Menurutnya, pendidikan Al-Qur’an memiliki posisi penting dalam mengisi kemerdekaan. Kemerdekaan, kata dia, tidak semata-mata terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga bagaimana generasi muda memiliki ilmu, karakter, akhlak, serta kemampuan menentukan arah masa depannya.

“Tasmi’ 30 Juz ini merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk membangun tradisi Qur’ani di pesantren. Kami ingin para santri memiliki hafalan yang kuat, bacaan yang baik, serta karakter yang tumbuh melalui nilai-nilai Al-Qur’an,” katanya.

Sejumlah santri kelas 8, kelas 11, dan kelas 12 turut tampil dalam kegiatan tersebut. Mereka menyetorkan hafalan secara bergilir bersama para pengasuh dan tenaga pendidik pesantren.

Bagi pesantren, proses tersebut sekaligus menjadi evaluasi. Santri dibiasakan menyimak hafalan, menjaga hafalan yang sudah diperoleh, memperbaiki bacaan, sekaligus membangun mental ketika harus membaca Al-Qur’an di hadapan orang lain.

Tradisi inilah yang hendak diperkuat Fajrul Karim. Targetnya bukan sekadar melahirkan santri yang mampu menyebutkan berapa juz yang telah dihafalkan, tetapi membentuk generasi yang mampu menghidupkan nilai Al-Qur’an dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Kegiatan Tasmi’ 30 Juz juga dibuka untuk masyarakat melalui siaran langsung di media sosial Pondok Pesantren Tahfizh Fajrul Karim. Orang tua, keluarga, alumni, hingga masyarakat luas dapat menyaksikan aktivitas pembinaan santri dari jarak jauh.

Buka Penerimaan Santri Baru 2027/2028

Momentum tersebut sekaligus menjadi pintu bagi Pondok Pesantren Tahfizh Fajrul Karim untuk memperkenalkan program Penerimaan Santri Baru Tahun Ajaran 2027/2028.

Pesantren membuka kesempatan bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan agama, tahfizh Al-Qur’an, pendidikan umum, sekaligus pembinaan karakter kepada putra-putrinya.

Program pendidikan Fajrul Karim mencakup tahfizh Al-Qur’an secara terstruktur, pendampingan hafalan oleh ustadz dan ustadzah, pendidikan agama dan umum, pembinaan akhlak, pembiasaan ibadah, serta pendidikan kedisiplinan dan kemandirian.

Pola tersebut dirancang untuk membangun keseimbangan antara kemampuan akademik, hafalan, ibadah, dan karakter.

“Kami mengundang para orang tua untuk mengenal lebih dekat program pendidikan di Pondok Pesantren Tahfizh Fajrul Karim. Semoga pesantren ini dapat menjadi pilihan pendidikan yang membantu putra-putri tumbuh sebagai generasi berakhlak, berprestasi, dan hafal Al-Qur’an yang bermanfaat bagi umat,” tutur Kyai Mulhat.

Pada akhirnya, Tasmi’ 30 Juz bukan hanya tentang suara santri yang melantunkan ayat demi ayat. Ada pesan yang ingin ditanamkan: kemerdekaan harus diisi dengan membangun manusia.

Dan bagi Fajrul Karim, membangun manusia itu dimulai dari ilmu, Al-Qur’an, akhlak, kedisiplinan, dan keberanian untuk menjadi generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan umat.

(Has/Red*)