CILEGON, WILIP.ID — Semangat kemerdekaan tidak selalu harus dirayakan dengan seremoni. Bagi Madrasah Ibtidaiyah Unggulan (MIU) Al Imtyaz, kemerdekaan justru menjadi momentum untuk menanamkan keberanian, prestasi, dan karakter kepada anak sejak usia dini.
Hal itu diwujudkan melalui kegiatan “Panggung Prestasi Merah Putih” yang digelar di City Mall Cilegon, Sabtu (22/8/2026). Sebanyak 90 siswa tingkat kelas 1 dan 2 ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Kepala MIU Al Imtyaz, Musyafa, mengatakan pemilihan nama “Panggung Prestasi Merah Putih” bukan sekadar slogan. Nama tersebut menjadi doa sekaligus target agar para siswa sejak dini terbiasa memiliki prestasi, baik di bidang keagamaan maupun akademik dan keterampilan lainnya.
“Jadi kita tidak hanya mengejar prestasi dalam bidang agama atau tahfiz. Mudah-mudahan anak-anak juga memiliki prestasi di bidang lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan di ruang publik juga menjadi bagian dari proses pendidikan. Anak-anak tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga dikenalkan dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
Momentum Agustus sengaja dipilih agar para siswa memahami bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini lahir dari perjuangan panjang para pahlawan.
“Dari kecil memang kita kenalkan dengan kegiatan seperti ini, supaya mereka ingat dengan perjuangan para syuhada dan para pejuang dulu hingga Indonesia bisa merdeka,” katanya.
Ketua Yayasan Al Imtyaz, H. Munirudin, menilai pemilihan lokasi kegiatan di pusat keramaian memiliki makna tersendiri.
Menurutnya, tampil di hadapan masyarakat menjadi sarana untuk menguji keberanian dan mental siswa. Terlebih, sebagian besar peserta masih duduk di kelas 1 dan 2.
“Ini sebuah terobosan baru untuk anak-anak tingkat sekolah dasar. Kita memilih tempat seperti ini agar mental anak lebih teruji dan lebih kuat,” ujarnya.
Selain menjadi ruang aktualisasi siswa, kegiatan tersebut sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan MIU Al Imtyaz kepada masyarakat.
“Ini bagian dari promosi, tetapi yang paling penting adalah tes mental anak. Bagaimana mereka berani tampil di depan umum,” katanya.
MIU Al Imtyaz sendiri baru berdiri sekitar dua tahun. Meski masih tergolong muda, perkembangan jumlah siswanya menunjukkan tren positif.
Munirudin menyebut, jumlah siswa yang sebelumnya sekitar 36 orang kini telah berkembang menjadi 55 siswa.
Namun, yayasan tidak ingin mengejar pertumbuhan siswa secara berlebihan. Batas penerimaan siswa baru setiap tahun dirancang maksimal sekitar 60 siswa atau tiga kelas.
“Kita tidak mau terlalu mengutamakan kuantitas tetapi kualitasnya tidak terjaga. Karena itu, guru dan proses pembelajaran harus menjadi perhatian utama,” tegasnya.
Musyafa menjelaskan, MIU Al Imtyaz memiliki konsep pembelajaran yang menitikberatkan pada pendidikan agama dan tahfiz, tanpa menghilangkan mata pelajaran umum.
Komposisinya sekitar 75 persen pendidikan agama dan 25 persen materi umum. Namun, mata pelajaran umum seperti matematika, bahasa Inggris, sejarah dan pelajaran pokok lainnya tetap diberikan sesuai kurikulum.
Perbedaannya terletak pada penambahan jam pembelajaran tahfiz.
“Tidak ada mata pelajaran umum yang kita kurangi. Hanya ada penambahan jam, terutama untuk hafalan,” jelasnya.
Proses pembelajaran tahfiz bahkan dilakukan secara klasikal dengan pendampingan intensif. Satu guru mendampingi sekitar tujuh siswa dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.
Sistem tersebut dirancang agar hafalan siswa benar-benar tuntas, bukan sekadar mengejar target.
“Kalau sudah hafal satu juz, harus benar-benar hafal. Kalau dua juz, ya harus benar-benar dua juz. Tidak sekadar selesai setor lalu ditinggalkan,” katanya.
Konsep tersebut menjadi salah satu karakter pendidikan yang ingin dibangun MIU Al Imtyaz: sedikit tetapi berkualitas, terukur tetapi berkelanjutan.
Komite MIU Al Imtyaz, Rachmatullah AS, mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk manajemen City Mall Cilegon yang memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan pembelajaran di luar sekolah.
Menurutnya, kegiatan semacam ini penting karena pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.
“Sebagai komite, kami mengucapkan terima kasih kepada manajemen City Mall Cilegon yang sudah memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mendapatkan pembelajaran di luar sekolah,” katanya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada kepala madrasah yang dinilai memiliki visi kuat dalam membangun lembaga pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu dan berakhlak.
Rachmatullah menilai dukungan wali murid juga menjadi faktor penting. Kolaborasi antara yayasan, sekolah, komite, guru, dan orang tua harus terus diperkuat agar cita-cita pendidikan dapat diwujudkan.
“Ini harus kita jalankan dengan kebersamaan sehingga cita-cita itu bisa tercapai sesuai harapan,” ujarnya.
Menurutnya, momentum kemerdekaan menjadi pengingat bahwa generasi muda harus mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif.
“Bagaimana kita sebagai anak bangsa mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, salah satunya melahirkan anak-anak bangsa yang lebih baik ke depan,” katanya.
Munirudin menambahkan, pendidikan dasar merupakan fase penting dalam membentuk karakter anak.
Ia mengibaratkan pendidikan di usia dini seperti mengukir di atas batu. Apa yang ditanamkan sejak kecil akan menjadi fondasi bagi perjalanan anak di masa mendatang.
Karena itu, MIU Al Imtyaz tidak hanya membekali siswa dengan ilmu agama dan akademik, tetapi juga berupaya membangun kemampuan mereka dalam menghadapi perkembangan teknologi.
“Sekarang kita tidak bisa mengerem kemajuan dan kecanggihan teknologi. Anak-anak sejak dini harus dibekali bagaimana membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena anak-anak yang semakin sulit lepas dari telepon seluler. Karena itu, yayasan tengah menyiapkan penguatan sistem pendidikan, termasuk rencana pengembangan asrama ketika siswa memasuki kelas 4.
Harapannya, pola pendidikan yang dibangun tidak berhenti pada kemampuan akademik dan hafalan, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, kemandirian, serta kemampuan menyaring pengaruh lingkungan.
Saat ini, MIU Al Imtyaz fokus pada jenjang RA dan MI. Pengembangan ke jenjang pendidikan berikutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan lembaga.
“Harapan saya, masyarakat Kota Cilegon semakin terbuka dan bisa melihat lembaga pendidikan mana yang memang memiliki cita-cita mewujudkan anak-anak bangsa yang lebih baik,” tutur Munirudin.
Panggung Prestasi Merah Putih akhirnya bukan sekadar panggung pertunjukan. Ia menjadi ruang kecil tempat keberanian ditumbuhkan, prestasi dikenalkan, nasionalisme ditanamkan, dan masa depan anak-anak mulai dibentuk.
(Has/Red*)















