Kurikulum Berbasis Cinta Mulai Diterapkan, Kemenag Cilegon Minta Guru Mengajar Pakai Hati

CILEGON, WILIP.ID – Transformasi pendidikan di lingkungan madrasah terus didorong Kementerian Agama. Kali ini, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Cilegon menjadi tuan rumah Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam yang diikuti puluhan guru dari berbagai madrasah di Kota Cilegon, Kamis (6/8/2026).

Mengusung tema “Menghadirkan Cinta dalam Pembelajaran, Membangun Madrasah Berprestasi”, kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas guru agar mampu menghadirkan proses belajar yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, empati, dan akhlak peserta didik.

Ketua Pelaksana, H. Muizudin, menjelaskan workshop digelar sebagai upaya menyamakan persepsi seluruh guru madrasah mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang saat ini menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama.

Menurutnya, pendidikan saat ini tidak cukup hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara intelektual. Madrasah juga memiliki tanggung jawab membentuk generasi yang memiliki akhlak mulia, kepedulian sosial, serta kecintaan kepada Allah SWT, sesama manusia, ilmu pengetahuan, dan tanah air.

“Workshop ini menjadi forum untuk memperkuat pemahaman guru tentang Kurikulum Berbasis Cinta sekaligus menyusun strategi implementasinya di masing-masing madrasah,” ujarnya.

Ia menjelaskan kegiatan berlangsung selama dua hari, 6-7 Agustus 2026, dengan peserta sebanyak 72 orang yang terdiri dari guru MAN 2 Kota Cilegon dan perwakilan dari 10 madrasah yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah (KKM).

Para peserta mendapatkan materi dari tim Pusat Pengembangan Kompetensi Kementerian Agama, pengawas madrasah, serta narasumber bidang strategi pembelajaran dan penguatan literasi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Cilegon, Dr. H. Amin Hidayat, M.Ag., menegaskan Kurikulum Berbasis Cinta merupakan kebijakan yang digagas Menteri Agama sebagai penguatan terhadap kurikulum yang telah berjalan.

Menurutnya, konsep tersebut bukan mengganti kurikulum sebelumnya, melainkan memberikan penekanan pada nilai-nilai kemanusiaan dan karakter dalam proses pembelajaran.

“Intinya bagaimana guru mampu menanamkan rasa cinta kepada Allah, kepada orang tua, kepada guru, kepada sesama, dan kepada bangsa. Jadi bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga membangun karakter anak melalui pendekatan yang humanis,” kata Amin.

Ia menilai pendekatan tersebut sangat relevan dalam menjawab tantangan pendidikan saat ini yang tidak hanya membutuhkan kecerdasan akademik, tetapi juga pembentukan moral dan kepribadian peserta didik.

Amin juga mengapresiasi dukungan Komite MAN 2 Kota Cilegon yang turut membantu pembiayaan penyelenggaraan workshop.

“Saya bangga karena komite madrasah memiliki kepedulian terhadap peningkatan kualitas guru. Dukungan seperti ini menjadi investasi penting bagi kualitas pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala MAN 2 Kota Cilegon, Mamad, mengatakan workshop tidak berhenti pada penyampaian teori.

Setelah memperoleh materi, para guru langsung diminta menyusun perangkat pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam proses belajar mengajar.

“Harapannya setelah workshop selesai, guru langsung memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran yang bisa diterapkan di kelas. Jadi bukan hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mempraktikkannya,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, siswa kelas XII tetap mengikuti program try out sebagai persiapan masuk perguruan tinggi. Sementara pembelajaran kelas X dan XI dilakukan secara daring karena sebagian besar guru mengikuti workshop.

Menurut Mamad, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan mampu menghadirkan suasana belajar yang lebih hangat, humanis, dan menyenangkan sehingga hubungan guru dan siswa tidak hanya sebatas penyampaian materi pelajaran.

Sekretaris Komite MAN 2 Kota Cilegon, Rachmatullah AS, menegaskan keterlibatan komite dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap peningkatan kompetensi tenaga pendidik.

Menurutnya, peningkatan kualitas guru akan berdampak langsung terhadap mutu pendidikan yang diterima para siswa.

“Komite memang tidak bertanggung jawab secara teknis terhadap pelaksanaan kegiatan, tetapi kami berkewajiban memberikan dukungan. Ketika kualitas guru meningkat, manfaatnya akan kembali kepada anak-anak yang belajar di madrasah,” ujarnya.

Ia berharap workshop tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan nyata dalam proses pembelajaran di madrasah sehingga mampu mencetak generasi yang berprestasi sekaligus berkarakter.

Melalui implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, madrasah di Kota Cilegon diharapkan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan insan yang religius, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

(Has/Red*)