MAN 2 Kota Cilegon Terapkan Absensi Digital, Disiplin Siswa Masuk Era QR Code.

CILEGON, WILIP.ID – Absensi siswa kini tak lagi sekadar urusan mencatat siapa yang hadir dan siapa yang tidak. Di tengah tuntutan digitalisasi pendidikan, data kehadiran menjadi bagian penting dari tata kelola madrasah sekaligus instrumen untuk membangun budaya disiplin.

Langkah tersebut dilakukan MAN 2 Kota Cilegon dengan menerapkan Sistem Absensi Digital Siswa berbasis QR Code atau kartu presensi digital. Sistem ini mulai diberlakukan sejak Agustus 2026 untuk mencatat kehadiran siswa saat masuk maupun pulang madrasah.

Kepala MAN 2 Kota Cilegon, Mamad, S.Ag., M.Ag., mengatakan penerapan absensi digital merupakan bagian dari upaya madrasah meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus membangun sistem pendataan kehadiran yang lebih efektif.

“Absensi digital ini kami terapkan untuk meningkatkan kedisiplinan sekaligus memudahkan proses pencatatan dan pemantauan kehadiran siswa,” kata Mamad.

Menurut dia, digitalisasi absensi tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan teknologi. Lebih dari itu, sistem tersebut diharapkan mampu menciptakan tata kelola kehadiran siswa yang lebih tertib, akurat dan transparan.

Dengan sistem berbasis QR Code, proses presensi diharapkan menjadi lebih cepat sehingga siswa tidak perlu menghabiskan waktu untuk antre dalam proses pencatatan kehadiran.

Data presensi juga dapat menjadi bagian dari pemantauan yang dilakukan madrasah, wali kelas hingga orang tua. Dengan begitu, informasi mengenai kehadiran siswa dapat diketahui secara lebih cepat dan dapat ditindaklanjuti apabila ditemukan persoalan kedisiplinan.

Bagi MAN 2 Kota Cilegon, penerapan absensi digital bukan sekadar mengganti sistem manual dengan teknologi.

Ada pesan kedisiplinan yang ingin dibangun di balik sebuah QR Code.

Siswa dituntut terbiasa datang tepat waktu, melakukan presensi sesuai ketentuan dan bertanggung jawab terhadap kehadirannya di madrasah.

Mamad menegaskan, perkembangan teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pendidikan, bukan sekadar menjadi simbol modernisasi.

“Teknologi harus memberikan kemudahan dan manfaat bagi pelayanan pendidikan. Karena itu, kami berharap sistem ini dapat digunakan secara baik dan menjadi bagian dari pembiasaan disiplin siswa,” ujarnya.

Penerapan sistem tersebut sekaligus membuka ruang bagi madrasah untuk memiliki data kehadiran yang lebih terstruktur. Data presensi dapat menjadi salah satu bahan evaluasi dalam melihat tingkat kedisiplinan siswa secara berkala.

Di sisi lain, keterlibatan orang tua menjadi penting. Ketika data kehadiran dapat dipantau dengan lebih mudah, komunikasi antara madrasah dan keluarga diharapkan semakin cepat ketika terdapat persoalan terkait kehadiran siswa.

Digitalisasi pun akhirnya tidak berhenti pada perangkat.

Ia menjadi bagian dari perubahan cara kerja madrasah: dari pencatatan manual menuju sistem yang lebih terintegrasi, dari sekadar administrasi menuju data yang dapat digunakan untuk evaluasi.

Bagi siswa, perubahan itu mungkin terlihat sederhana. Cukup membawa kartu presensi digital atau QR Code dan melakukan pemindaian saat datang dan pulang.

Namun di balik proses sederhana tersebut, terdapat pesan yang lebih besar: disiplin harus menjadi kebiasaan, sementara teknologi hadir untuk membuat kebiasaan itu lebih terukur.

MAN 2 Kota Cilegon pun terus mendorong transformasi tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan layanan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Sebab, madrasah modern bukan hanya tentang fasilitas digital. Lebih jauh, modernisasi harus mampu melahirkan sistem pendidikan yang tertib, transparan, responsif dan tetap berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.

Madrasah maju, bermutu, mendunia.

(Has/Red*)