Yayasan Ash Sholihin Resmi Buka Pembinaan Al-Qur’an, 85 Peserta Jadi Angkatan Perdana

 

CILEGON, WILIP.ID — Belajar Al-Qur’an tak mengenal kata terlambat. Bukan pula hanya milik mereka yang sejak kecil sudah terbiasa mengaji.

Pesan itulah yang coba dihidupkan Yayasan Tarbiyatul Qur’an Ash Sholihin di Kota Cilegon, Banten. Yayasan tersebut membuka program pembinaan Al-Qur’an bagi masyarakat umum dengan titik tekan pada kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik, benar, dan sesuai kaidah.

Sebanyak 85 peserta tercatat mengikuti program perdana yang digelar yayasan tersebut. Jumlah itu menjadi penanda awal dari ikhtiar membangun ruang belajar Al-Qur’an yang terbuka bagi siapa saja, termasuk mereka yang selama ini masih merasa malu untuk kembali belajar.

Pendiri sekaligus Ketua Yayasan Tarbiyatul Qur’an Ash Sholihin, KH Khusni Fatoni, mengatakan lembaga yang beralamat di Jalan Keserangan, Link. Curug RT 04/03, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, itu telah berjalan sekitar satu setengah tahun.

Secara kelembagaan, yayasan juga telah memiliki administrasi yang terdaftar.

Namun, kata Khusni, gagasan mendirikan ruang pembelajaran Al-Qur’an tidak lahir semata dari kebutuhan kelembagaan. Ada pesan orangtua yang terus ia pegang.

“Tidak punya pesantren, tetapi tolong Al-Qur’an dijaga. Ajarkan anak-anak supaya mereka menjadi generasi Qurani,” ujar Khusni, Minggu (23/8/2026).

Pesan tersebut kemudian menjadi semacam amanat yang ingin ia teruskan. Ia memilih membuka ruang pembelajaran yang lebih dekat dengan masyarakat, tanpa harus menunggu berdirinya pesantren dengan sistem pendidikan berasrama.

Khusni melihat persoalan pembelajaran Al-Qur’an di masyarakat bukan hanya soal ketersediaan tempat belajar. Ada persoalan lain yang lebih sederhana, tetapi kerap menjadi penghalang: rasa malu.

Sebagian masyarakat, terutama mereka yang sudah berusia dewasa, merasa sungkan ketika harus kembali belajar membaca Al-Qur’an. Ada yang merasa sudah terlambat, ada pula yang khawatir dinilai tidak mampu.

Bagi Khusni, anggapan semacam itu justru harus dipatahkan.

“Banyak orang tidak mau belajar karena malu. Padahal kesempatan untuk belajar Al-Qur’an harus dibuka untuk semua,” katanya.

Karena itu, pembinaan pada tahap awal diarahkan pada tahsin Al-Qur’an dan ilmu tajwid. Peserta dibimbing memperbaiki pelafalan huruf, makhraj, harakat, hingga ketepatan bacaan.

Tahsin menjadi fondasi penting. Sebab membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengejar kelancaran, tetapi juga memastikan setiap huruf dan harakat dilafalkan sesuai kaidah.

Dari pembinaan dasar tersebut, yayasan berencana mengembangkan sejumlah program lain seperti mujawwad, tilawah, hafalan Al-Qur’an, dan kaligrafi.

Peserta yang menunjukkan kemampuan atau bakat tertentu juga akan diarahkan untuk memperoleh pembinaan lebih lanjut.

Bagi yayasan, 85 peserta bukan sekadar angka dalam daftar pendaftaran.

Jumlah tersebut menjadi modal awal untuk membangun gerakan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih luas di lingkungan masyarakat.

Khusni bahkan ingin mendorong kembali tradisi mengaji selepas Maghrib di kampung-kampung. Tradisi yang dahulu begitu lekat dengan kehidupan masyarakat itu diharapkan dapat kembali menjadi bagian dari rutinitas keluarga.

Target akhirnya bukan sekadar melahirkan masyarakat yang fasih membaca Al-Qur’an.

Lebih jauh, pembelajaran tersebut diharapkan mampu melahirkan masyarakat yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.

“Harapannya masyarakat ke depan menjadi masyarakat madani yang dekat dengan Al-Qur’an. Dengan bacaan yang tahsin dan fasih, insyaallah hati menjadi bersih dan amal yang dilakukan juga menjadi amal saleh,” ujar Khusni.

Menurut dia, pendidikan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca. Bacaan harus menjadi pintu menuju pemahaman, kemudian bermuara pada pengamalan.

“Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk diamalkan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya tahsin dan tajwid. Kesalahan dalam melafalkan huruf maupun harakat, menurut dia, dapat memengaruhi makna bacaan.

Satu hal yang menjadi daya tarik program tersebut adalah pembinaan diberikan secara gratis kepada masyarakat.

Wali santri, Rachmatullah AS, mengapresiasi langkah tersebut. Ia mengaku akan menitipkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran di yayasan.

“Saya sebagai masyarakat merasa bangga dan bersyukur. Ada sosok guru teladan yang menjadi panutan dan mau meneteskan ilmunya kepada masyarakat untuk melahirkan anak-anak bangsa yang berilmu dan berakhlak,” kata Rachmatullah.

Bukan hanya anaknya yang ingin mengikuti pembinaan. Rachmatullah juga mengaku tertarik belajar karena merasa masih memiliki keterbatasan dalam mempelajari Al-Qur’an.

Baginya, kesempatan belajar langsung dari tokoh agama yang bersedia membuka ruang ilmu tidak seharusnya dilewatkan.

“Mumpung masih ada guru atau tokoh yang meneladani Al-Qur’an dan mau berbagi, kami sekeluarga insyaallah akan ikut menimba ilmu,” ujarnya.

Rachmatullah menilai yayasan tersebut tidak sekadar menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun generasi yang lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Ia juga mengapresiasi kebijakan yayasan yang tidak memungut biaya pembelajaran. Kendati demikian, masyarakat tetap diberikan ruang untuk memberikan infak dan sedekah guna menopang keberlangsungan kegiatan.

“Yang penting lilah, ikhlas untuk sama-sama membangun, mengembangkan, dan memajukan generasi Qur’an,” katanya.

Ikhtiar pendidikan Al-Qur’an yang dilakukan Yayasan Tarbiyatul Qur’an Ash Sholihin sejatinya bukan cerita yang baru dimulai.

Salah satu lembaga pendidikan di bawah naungannya, Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKQ) Ash Sholihin, disebut telah berjalan sekitar 27 tahun.

Pada masa awal, kegiatan pendidikan dilakukan di sebuah musala. Seiring waktu, yayasan memperoleh hibah tanah seluas sekitar 400 meter persegi.

Di atas lahan tersebut kemudian dibangun gedung yang kini digunakan untuk berbagai kegiatan pendidikan dan pembinaan.

Khusni mengatakan pembangunan gedung beserta fasilitasnya telah menghabiskan biaya ratusan juta rupiah.

Namun, ia tidak ingin bangunan menjadi simbol utama perjuangan yayasan.

Gedung, menurut dia, hanyalah sarana. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sarana tersebut dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, yayasan juga membuka kesempatan bagi lembaga maupun kelompok masyarakat yang membutuhkan tempat untuk kegiatan pembinaan yang dinilai bermanfaat.

Untuk saat ini, Yayasan Tarbiyatul Qur’an Ash Sholihin belum menerapkan sistem pendidikan berasrama.

Peserta datang mengikuti pembelajaran, kemudian kembali ke rumah masing-masing. Pola seperti ini lazim dikenal masyarakat sebagai santri kalong.

Meski demikian, Khusni memiliki gagasan untuk mengembangkan sistem pembinaan yang lebih luas, termasuk kemungkinan menghadirkan pendidikan berasrama pada masa mendatang.

Gagasan itu menunjukkan bahwa program perdana dengan 85 peserta bukan titik akhir. Justru menjadi langkah awal dari sebuah perjalanan yang ingin terus diperluas.

Di usianya yang telah mencapai 63 tahun, Khusni menyadari bahwa membangun generasi Qurani bukan pekerjaan sehari atau dua hari.

Ia membutuhkan waktu, konsistensi, guru, peserta didik, fasilitas, serta regenerasi.

Karena itu, ia berharap perjuangan tersebut tidak berhenti pada dirinya. Anak dan cucunya diharapkan dapat melanjutkan apa yang telah dirintis.

Ada satu cara pandang yang menjadi pegangan Khusni dalam menjalankan perjuangan tersebut: kekayaan tidak selalu berbentuk materi.

Ilmu yang dibagikan dan kemudian memberi manfaat kepada orang lain, menurut dia, merupakan bentuk kekayaan yang nilainya jauh lebih panjang.

“Orang kaya raya bukan hanya orang yang banyak uang. Orang yang memiliki ilmu dan mengajarkan satu ayat atau satu kalimat yang baik juga merupakan orang yang kaya di dunia dan akhirat,” tuturnya.

Pandangan itulah yang menjadi napas dari pembinaan Al-Qur’an di Yayasan Tarbiyatul Qur’an Ash Sholihin.

Di tengah kehidupan masyarakat yang bergerak cepat, ruang belajar Al-Qur’an mencoba menawarkan sesuatu yang sederhana: kembali membaca, memperbaiki bacaan, memahami nilai, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut turut dihadiri tokoh pendidikan agama Islam H. Munirudin dan Ketua MUI Kecamatan Grogol Ustaz Khotib.

Bagi Yayasan Tarbiyatul Qur’an Ash Sholihin, 85 peserta dalam program perdana bukan sekadar statistik.

Mereka adalah 85 pintu yang terbuka.

Dari sana, yayasan berharap tumbuh lebih banyak masyarakat yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan fasih, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam bersikap, membangun keluarga, mendidik anak, dan menjalani kehidupan.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan Al-Qur’an bukan hanya seberapa banyak ayat yang mampu dilafalkan, melainkan seberapa jauh nilai-nilainya hidup dalam perilaku manusia.

(Has/Red*)