CILEGON, WILIP.ID — Ada jabatan yang memiliki batas waktu. Ada pula pengabdian yang tidak mengenal kata selesai.
Bagi Eha Nurseha, mantan Lurah Bagendung, Kecamatan Cilegon, Banten, berakhirnya masa pengabdian sebagai aparatur pemerintahan justru membuka cerita baru.
Jika dahulu ia dikenal berada di tengah masyarakat melalui tugas pemerintahan, kini Eha memilih berhadapan dengan dunia yang berbeda: dunia usaha kuliner.
Di balik aktivitas RM Rempah Cilegon, Eha tidak sekadar mengejar keuntungan. Ia membawa semangat yang sama seperti ketika masih menjadi bagian dari pemerintahan: bagaimana keberadaannya tetap bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Setelah purnabakti, kegiatan saya di samping usaha juga ada kegiatan sosial. Intinya bagaimana supaya kegiatan yang saya lakukan bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Eha.
Dari Seragam Dinas ke Dapur Rempah
Sembilan bulan terakhir menjadi babak baru bagi Eha.
Hobi memasak yang selama ini dilakukan bersama keluarga perlahan berubah menjadi sebuah usaha. Bersama sang anak, Eha mencoba mengembangkan kegemaran tersebut menjadi peluang ekonomi.
Dari dapur itulah lahir RM Rempah Cilegon.
Bukan restoran yang sengaja mengejar kesan mewah, RM Rempah justru mengandalkan sesuatu yang dekat dengan keseharian masyarakat: masakan rumahan dan cita rasa lokal.
Ayam rempah, pindang kepala ikan dan gepuk menjadi menu yang diunggulkan.
“Ini masakan rumahan, masakan wong kene. Kita juga ingin melestarikan masakan-masakan lokal,” kata Eha.
Ada pesan yang ingin ia titipkan melalui makanan.
Di tengah derasnya tren kuliner modern, makanan lokal jangan sampai kehilangan tempat di rumahnya sendiri.
Bukan Sekadar Soal Cuan
Menariknya, Eha tidak memandang RM Rempah semata sebagai mesin penghasil omzet.
Ada misi sosial yang ingin tetap dibawa setelah dirinya meninggalkan dunia pemerintahan.
Saat ini, RM Rempah mempekerjakan lima orang karyawan, seluruhnya tenaga kerja lokal.
“Minimal kita bisa membantu penyerapan tenaga kerja dan membantu khususnya Cilegon supaya ada pengurangan angka pengangguran,” tuturnya.
Bagi Eha, satu lapangan pekerjaan mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan besarnya persoalan pengangguran.
Namun, setiap pekerjaan tetap berarti satu keluarga memiliki sumber penghasilan.
Dan dari situlah ia memaknai kembali arti pengabdian.
Pernah Menembus Rp10 Juta Sehari
Perjalanan bisnis selama sembilan bulan juga menghadirkan dinamika.
Pada masa awal, terutama saat Ramadan, omzet RM Rempah disebut pernah mencapai sekitar Rp10 juta per hari.
Angka tersebut tentu menjadi sinyal bahwa usaha yang dibangun dari hobi memiliki potensi.
Namun, kondisi ekonomi tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Belakangan, omzet mengalami penyesuaian seiring kondisi ekonomi dan efisiensi masyarakat.
Eha tidak memilih menaikkan harga secara sembarangan.
Ia justru berusaha menjaga agar makanan tetap bisa dijangkau konsumen.
Baginya, mempertahankan usaha di tengah situasi ekonomi yang tidak selalu stabil merupakan tantangan yang tidak kalah penting dibandingkan mengejar omzet besar.
“Intinya kita bisa bertahan dalam kondisi ekonomi sekarang. Yang penting tenaga kerja tetap bisa kita gaji,” ujarnya.
Lokasi Strategis, Peluang Terbuka
Pemilihan lokasi juga menjadi bagian dari strategi bisnis RM Rempah.
Rumah makan tersebut berada di jalan utama Kompleks Taman Cilegon Indah, kawasan yang dikelilingi aktivitas perusahaan dan para pekerja.
Manajer RM Rempah, Vika Arifianti, mengatakan karakter pelanggan cukup beragam.
Pekerja kantoran datang untuk makan siang. Para pelaku usaha memanfaatkan tempat tersebut untuk bertemu. Tak sedikit pula pelanggan yang datang untuk sekadar makan sekaligus nongkrong.
“Untuk saat ini baru lima karyawan dan semuanya tenaga kerja lokal,” kata Vika.
Menurut Vika, keberadaan kompetitor yang belum terlalu banyak di sekitar lokasi juga menjadi peluang bagi RM Rempah untuk berkembang.
Artinya, Eha tidak hanya memasak. Ia juga sedang membaca peta bisnis.
Menu Baru Tak Boleh Asal Tambah
Bisnis kuliner selalu dituntut berinovasi.
RM Rempah pun menyiapkan rencana menambah menu baru. Salah satu yang tengah dipertimbangkan adalah bebek.
Namun, Eha tidak ingin sekadar menambah daftar menu.
Baginya, menu baru harus melalui pertimbangan matang. Mulai dari cita rasa, cara penyajian hingga respons konsumen.
“Penambahan itu tidak semudah kita membuat lalu langsung disodorkan. Kita harus melihat apakah konsumen menyukai atau tidak,” ujarnya.
Pelan, tetapi terukur.
Sebab, dalam bisnis kuliner, mempertahankan pelanggan terkadang jauh lebih sulit daripada mendapatkan pelanggan baru.
Purnabakti yang Justru Membuka Babak Baru
Perjalanan Eha Nurseha menyimpan pesan yang lebih besar daripada sekadar kisah seorang mantan lurah yang membuka rumah makan.
Ada transformasi di dalamnya.
Dulu ia mengabdi melalui pelayanan pemerintahan.
Kini ia mengabdi melalui dunia usaha.
Dulu ia membantu masyarakat dari ruang birokrasi.
Kini ia mencoba membantu dengan menciptakan lapangan pekerjaan.
Dan dari hobi memasak, ia membangun usaha yang sekaligus menjadi ruang untuk menjaga cita rasa lokal.
Jabatan memang memiliki masa. Tetapi semangat pengabdian tidak seharusnya ikut pensiun.
Eha memilih membuktikannya dengan cara sederhana: membuka usaha, mempekerjakan warga lokal, mempertahankan masakan rumahan dan tetap membuka ruang bagi kegiatan sosial.
Di balik aroma ayam rempah dan pindang kepala ikan, terselip cerita tentang seorang perempuan yang tidak ingin purnabakti menjadi garis akhir.
Justru setelah seragam dinas dilepas, Eha Nurseha menemukan panggung pengabdian yang baru.
Dari lurah menjadi pengusaha. Dari melayani masyarakat melalui pemerintahan, kini memberi manfaat melalui usaha.
Dan RM Rempah Cilegon menjadi bagian dari perjalanan baru itu.
(Has/Red*)















