Ekbis  

IKM Cilegon Jangan Jadi Penonton, Ibrohim Dorong Hilirisasi Logam-Plastik Masuk Rantai Industri

CILEGON, WILIP.ID — Cilegon punya modal yang tak dimiliki banyak daerah. Kota ini berdiri di atas ekosistem industri baja, kimia, petrokimia hingga manufaktur yang selama bertahun-tahun menjadi mesin penggerak ekonomi daerah.

Namun, di tengah besarnya investasi dan aktivitas industri tersebut, muncul satu pertanyaan penting: sejauh mana masyarakat dan pelaku industri kecil menengah (IKM) lokal ikut menikmati besarnya rantai ekonomi industri Cilegon?

Pertanyaan itulah yang kini didorong oleh Direktur Eksekutif Asosiasi IKM Logam dan Plastik Cilegon-Banten, M. Ibrohim Aswadi.

Ia mendorong hilirisasi IKM sebagai strategi untuk membawa pelaku usaha lokal naik kelas. Bukan sekadar menjadi produsen kecil, tetapi masuk sebagai bagian dari rantai pasok industri besar yang selama ini berkembang di Kota Cilegon.

“Cilegon adalah kota industri baja dan kimia. Kekuatan industri besar yang ada harus menjadi ekosistem yang mendorong tumbuhnya IKM lokal. Jangan sampai IKM hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari rantai industri,” ujar Ibrohim.

Menurut dia, keberadaan industri baja dan kimia seharusnya tidak berhenti pada investasi, produksi dan aktivitas industri skala besar. Ekosistem tersebut harus mampu melahirkan industri turunan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Di sinilah, kata Ibrohim, hilirisasi IKM menjadi penting.

Ibrohim menilai, tantangan IKM Cilegon bukan hanya bagaimana meningkatkan jumlah pelaku usaha, tetapi juga bagaimana meningkatkan kualitas produk dan posisi mereka dalam rantai industri.

Untuk sektor logam, misalnya, bahan baku dan material yang tersedia harus mampu diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Misalnya sektor logam. Bahan baku atau material yang tersedia jangan berhenti sebagai bahan mentah atau setengah jadi. Kita dorong menjadi komponen, peralatan, spare part, produk fabrikasi dan berbagai kebutuhan industri lainnya,” jelasnya.

Menurutnya, pola tersebut dapat membuka ruang bagi IKM lokal untuk menjadi pemasok kebutuhan industri besar.

Begitu pula sektor plastik. Dengan dukungan ekosistem industri kimia di Cilegon, peluang pengembangan produk turunan plastik dinilai sangat terbuka, mulai dari komponen industri, kemasan, produk rumah tangga hingga produk berbasis ekonomi sirkular dan daur ulang.

Artinya, bahan baku yang tersedia di kawasan industri tidak semestinya hanya berputar di dalam industri besar. Sebagian peluang tersebut harus dapat ditangkap pelaku usaha lokal melalui proses hilirisasi.

Bagi Ibrohim, persoalan utama bukan semata-mata ada atau tidaknya pasar. Pasarnya sebenarnya sudah tersedia.

Industri besar membutuhkan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari komponen, spare part, jasa fabrikasi, packaging, produk pendukung produksi hingga berbagai kebutuhan lainnya.

Di sisi lain, IKM memiliki fleksibilitas untuk memproduksi berbagai kebutuhan tersebut.

Masalahnya adalah bagaimana mempertemukan kedua kepentingan tersebut dalam sebuah pola kemitraan yang konkret.

“Industri besar membutuhkan supplier dan mitra kerja. IKM membutuhkan pasar. Ini yang harus kita hubungkan. Kita ingin ada kemitraan yang konkret, bukan hanya seremonial,” tegasnya.

Menurut Ibrohim, kemitraan industri tidak boleh berhenti pada kegiatan seremoni, pelatihan atau penandatanganan nota kesepahaman.

Lebih jauh dari itu, harus ada transaksi, kontrak, pembinaan kualitas, transfer teknologi dan kepastian pasar yang benar-benar dirasakan pelaku IKM.

Untuk mewujudkan hilirisasi tersebut, Ibrohim menyebut pembangunan ekosistem menjadi kunci.

IKM tidak bisa dipaksa naik kelas hanya dengan modal semangat. Mereka membutuhkan dukungan teknologi, sumber daya manusia, pembiayaan, standardisasi, sertifikasi, pemasaran hingga akses langsung kepada industri pengguna.

Karena itu, Asosiasi IKM Logam dan Plastik Cilegon-Banten mendorong terbentuknya mata rantai industri lokal yang mempertemukan pelaku IKM dengan industri besar.

Jika mata rantai tersebut terbentuk, dampaknya bukan hanya kepada omzet pelaku usaha.

Lebih jauh, hilirisasi dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal, melahirkan wirausaha baru dan memperkuat struktur ekonomi masyarakat.

Dengan kata lain, keberadaan industri besar di Cilegon tidak hanya dihitung dari nilai investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar ekonomi lokal tumbuh di sekitarnya.

Ibrohim menegaskan, Cilegon harus mampu bergerak dari sekadar menjadi lokasi berdirinya industri besar menuju kota yang memiliki ekosistem industri lokal yang kuat.

“Kita tidak ingin IKM Cilegon-Banten selamanya berada di kelas usaha kecil. Kita ingin naik kelas menjadi bagian dari industri. Dari produsen lokal menjadi supplier, dari supplier menjadi mitra strategis industri,” katanya.

Gagasan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Pemerintah Kota Cilegon dituntut membuka akses dan menciptakan kebijakan yang berpihak kepada penguatan IKM. Industri besar diharapkan membuka ruang kemitraan dan rantai pasok bagi pelaku usaha lokal.

Sementara perbankan, BUMN, BUMD, perguruan tinggi, lembaga sertifikasi dan asosiasi IKM perlu mengambil peran dalam memperkuat kapasitas usaha.

Sebab, tanpa ekosistem yang saling terhubung, hilirisasi hanya akan menjadi jargon.

Sebaliknya, jika seluruh kekuatan tersebut dipertemukan, Cilegon memiliki peluang besar membangun industri turunan yang tumbuh dari masyarakat sendiri.

“Cilegon sudah memiliki modal besar: industri baja, industri kimia, SDM, infrastruktur dan pasar. Sekarang tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut kita hilirisasikan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Cilegon,” pungkas M. Ibrohim Aswadi.

(Has/Red*)