Ekbis  

Krakatau Steel Buka Ruang Hilirisasi, IKM Cilegon Didorong Masuk Rantai Industri

CILEGON, WILIP.ID — Hilirisasi industri bukan lagi sekadar jargon pembangunan ekonomi daerah. Di Kota Cilegon, gagasan tersebut mulai diarahkan pada langkah konkret dengan membuka peluang bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk masuk lebih jauh ke dalam rantai industri.

Ketua Forum IKM Kota Cilegon, H. Rebudin, mengatakan penguatan hilirisasi dan pembinaan IKM menjadi salah satu pokok pembahasan dalam pertemuan antara PT Krakatau Steel, Pemerintah Kota Cilegon, dan pelaku IKM.

Pertemuan yang berlangsung di Gedung Wisma Krakatau Steel, Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 54, Jakarta Selatan, tersebut mempertemukan unsur perusahaan, pemerintah daerah, koperasi, serta pelaku IKM melalui Koperasi CMM Kota Cilegon.

Menurut Rebudin, pertemuan itu menghasilkan naskah kesepakatan yang menjadi pijakan awal untuk membangun sinergi antara PT Krakatau Steel, pemerintah daerah, dan pelaku IKM lokal.

“Program Krakatau Steel tentang pembinaan kepada IKM dalam program hilirisasi. Alhamdulillah, ada sebuah naskah yang disepakati bersama,” ujar Rebudin, Selasa 25 Agustus 2026.

Ia menilai kesepakatan tersebut menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha lokal, khususnya IKM sektor logam, untuk mendapatkan ruang yang lebih besar dalam ekosistem industri di Kota Cilegon.

Rebudin, yang juga menjabat Ketua Koperasi CMM Kota Cilegon berdasarkan hasil Rapat Anggota Tahunan (RAT) pada awal Agustus 2026, mengatakan sinergi tersebut harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha lokal.

“Dengan data-data yang diambil, sinergi dengan pemerintah untuk ke depan beberapa kebijakannya akan memperhatikan pelaku-pelaku riil di Kota Cilegon,” katanya.

Bagi Rebudin, hilirisasi tidak boleh berhenti pada diskusi, kesepakatan, maupun seremoni. Lebih dari itu, hilirisasi harus mampu membuka akses usaha dan menciptakan peluang ekonomi bagi IKM.

Cilegon selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan industri strategis dengan basis industri logam dan baja. Karena itu, keberadaan industri besar semestinya mampu memberikan efek berantai terhadap pertumbuhan usaha lokal.

Dalam konteks tersebut, PT Krakatau Steel diharapkan tidak hanya berperan sebagai industri hulu sektor baja, tetapi juga ikut mendorong pertumbuhan IKM di Cilegon dan sekitarnya.

Menurut Rebudin, sebagai BUMN yang bergerak di sektor hulu industri baja, PT Krakatau Steel memiliki posisi strategis untuk membuka ruang dan peluang bagi IKM, khususnya melalui akses terhadap bahan baku yang dibutuhkan pelaku usaha lokal.

“PT Krakatau Steel sebagai pabrik hulu dalam core usaha baja dan sebagai BUMN berkewajiban untuk mendorong, membina, serta memberikan ruang dan peluang kepada IKM di Cilegon dan sekitarnya, khususnya dalam rantai pasok bahan baku yang dibutuhkan IKM Cilegon,” ujarnya.

Ia berharap langkah tersebut dapat memperkuat keterlibatan IKM melalui peningkatan kapasitas, pembinaan, akses bahan baku, serta peluang kemitraan bisnis.

“Insya Allah kita juga akan memberikan kesepakatan bagaimana hilirisasi di Kota Cilegon, dengan Krakatau Steel sebagai BUMN Indonesia,” kata Rebudin.

Namun, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah industri besar tumbuh, melainkan seberapa besar pertumbuhan tersebut ikut dirasakan dan mampu mendorong perkembangan pelaku usaha lokal.

IKM perlu didorong menjadi bagian dari rantai pasok industri, baik sebagai penyedia barang dan jasa maupun sebagai pengolah produk turunan yang memiliki nilai tambah.

Rebudin menilai momentum pertemuan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membangun pola kerja sama yang lebih konkret, sehat, dan berkelanjutan.

Ia berharap sinergi antara PT Krakatau Steel, Pemerintah Kota Cilegon, Koperasi CMM, dan Forum IKM dapat melahirkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan pelaku usaha di lapangan.

“Alhamdulillah, mudah-mudahan ini menjadi hari yang berkah. Kami bersama berdiskusi tentang program hilirisasi dan pembinaan IKM sektor logam Kota Cilegon,” ujarnya.

Pada akhirnya, tantangan hilirisasi bukan sekadar bagaimana meningkatkan produksi industri besar, melainkan bagaimana menciptakan ekosistem yang memungkinkan pelaku usaha lokal ikut tumbuh dan menikmati nilai tambah dari aktivitas industri.

Pertumbuhan industri yang tidak melibatkan pelaku usaha lokal berisiko membuat manfaat ekonomi hanya berputar di kalangan pelaku usaha besar. Sebaliknya, ketika IKM mampu masuk ke dalam rantai pasok dan mendapatkan ruang untuk mengembangkan produk bernilai tambah, hilirisasi dapat menjadi penggerak ekonomi yang lebih inklusif.

Bagi Kota Cilegon, keberhasilan hilirisasi pada akhirnya bukan hanya diukur dari seberapa besar produksi industri meningkat, tetapi juga dari seberapa banyak IKM lokal yang naik kelas, memperoleh akses pasar, menyerap tenaga kerja, dan ikut menikmati pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, ruang yang mulai dibuka PT Krakatau Steel perlu dikawal agar tidak berhenti sebagai kesepakatan di atas kertas. Hilirisasi harus benar-benar hadir sebagai jembatan yang menghubungkan industri besar dengan kekuatan ekonomi lokal.

(Has/Red)