CILEGON, WILIP.ID – Sampah plastik yang selama ini menjadi momok lingkungan mulai dilirik sebagai sumber energi alternatif. Di Kelurahan Gerem, Kota Cilegon, limbah plastik kini diuji melalui teknologi pirolisis untuk diolah menjadi cairan yang disebut memiliki karakteristik menyerupai bahan bakar.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui program di Bank Sampah Kelurahan Gerem. Teknologi ini bekerja dengan memanaskan plastik di dalam reaktor pada temperatur tertentu dengan kondisi tanpa udara bebas, sehingga menghasilkan uap yang kemudian dialirkan ke kondensor.
Ketua Forum Komunikasi Industri Kecil Menengah (FK-IKM) H. Rebudin mengatakan, proses pirolisis dilakukan dengan temperatur sekitar 300 derajat Celsius.
“Pirolisis itu rangkaian kegiatan melakukan proses pembakaran dengan temperatur yang mencapai sekitar 300 derajat. Bahan baku plastik dimasukkan ke dalam reaktor dan tidak boleh ada unsur udara yang masuk secara bebas,” ujar Rebudin, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, ketika plastik dipanaskan dalam reaktor, material tersebut mengalami penguapan. Uap kemudian dialirkan menuju kondensor untuk mengalami proses pendinginan dan kondensasi.
“Dari kondensor, penguapan tadi akan terkondensasi. Output-nya berbentuk seperti bensin, solar dan minyak tanah,” katanya.
Rebudin melihat teknologi tersebut bukan semata-mata sebagai cara mengurangi timbunan sampah plastik. Lebih dari itu, pirolisis dinilai membuka peluang mengubah persoalan lingkungan menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Apalagi Cilegon dikenal sebagai salah satu kawasan industri besar di Banten. Menurut Rebudin, inovasi pengolahan sampah berbasis teknologi semacam ini layak mendapatkan perhatian lebih serius dari pemerintah maupun kalangan industri.
Namun, ia mengakui teknologi yang diterapkan di Bank Sampah Gerem saat ini masih berada pada skala kecil.
“Kami dari Forum Komunikasi IKM tentu mengharapkan dukungan proaktif, khususnya dari pemerintah,” ujarnya.
Ia juga mendorong perusahaan-perusahaan BUMN maupun pelaku industri yang berada di sekitar Gerem ikut mengambil bagian dalam pengembangan teknologi tersebut.
Bukan sekadar memberikan bantuan, dukungan industri menurut Rebudin dapat diarahkan pada pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, pendampingan, hingga penguatan aspek keselamatan dan lingkungan.
“Ini baru inovasi yang sangat mendasar, masih skala kecil. Seandainya bisa ditingkatkan, berarti ada peralihan energi. Kita bisa menghasilkan bahan bakar dari proses sendiri,” tuturnya.
Gagasan mengubah plastik menjadi bahan bakar memang menarik. Tetapi tantangannya bukan hanya bagaimana menghasilkan cairan dari proses pirolisis.
Teknologi tersebut membutuhkan pengujian lebih lanjut untuk memastikan kualitas produk, keamanan operasional, efisiensi proses, serta aspek lingkungan sebelum hasilnya dapat diposisikan sebagai bahan bakar yang memenuhi standar dan digunakan secara luas.
Karena itu, dukungan pemerintah dan dunia industri menjadi penting agar inovasi tersebut tidak berhenti sebagai eksperimen skala kecil.
Jika dikembangkan dengan kajian teknis yang tepat, Bank Sampah Gerem berpotensi menjadi lebih dari sekadar tempat pengumpulan sampah.
Tempat itu bisa menjadi laboratorium kecil ekonomi sirkular: plastik dikumpulkan, diolah, diberi nilai tambah, dan pada akhirnya berpotensi kembali menjadi sumber energi.
Bagi Rebudin, pesan besarnya sederhana. Sampah plastik jangan hanya dilihat sebagai barang buangan.
“Peralihan energi itu bisa dilakukan melalui proses sendiri,” kata dia.
Kini bola berada di tangan pemerintah dan dunia industri. Apakah inovasi dari Gerem ini akan berhenti sebagai prototipe, atau justru menjadi embrio teknologi pengolahan sampah berbasis masyarakat di Kota Cilegon?
(Has/Red*)















