Tradisi Panjang Mulud Berhadiah 8 Kerbau di Masjid Jami’ At-Ta’awun Cibeber Masih Dipertahankan

CILEGON, WILIP.ID — Di tengah perubahan zaman, tradisi Panjang Mulud di lingkungan Masjid Jami’ At-Ta’awun, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, masih dipertahankan. Bukan sekadar perayaan, tradisi yang digelar setiap momentum Maulid Nabi Muhammad SAW itu menjadi simbol gotong royong, sedekah, sekaligus bentuk kecintaan masyarakat kepada Rasulullah.

Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, Selasa (25/8/2026), tradisi tersebut kembali digelar dengan meriah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah delapan ekor kerbau yang disiapkan sebagai bagian dari hadiah dalam rangkaian tradisi Panjang Mulud.

Selain kerbau, panitia juga menghimpun sembilan panjang mulud yang kemudian diberikan kepada para pendzikir dan sejumlah pondok pesantren di wilayah Cibeber.

Ketua Pelaksana Maulid Nabi 1448 H, H. Saiful Machsoni, mengatakan tradisi Panjang Mulud tetap dijaga karena telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Cibeber.

“Alhamdulillah, masyarakat Link Cibeber sangat antusias, kompak dan luar biasa. Tradisi ini terus kami pertahankan dari tahun ke tahun,” ujar Saiful.

Menurutnya, keberlangsungan tradisi tersebut tidak terlepas dari peran masyarakat dan para donatur. Untuk pelaksanaan Maulid Nabi tahun ini, panitia berhasil menghimpun dana sekitar Rp458 juta.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bagi panitia, angka tersebut menunjukkan bahwa semangat masyarakat untuk menjaga tradisi keagamaan masih sangat kuat.

Delapan Kerbau untuk Tradisi yang Terus Hidup

Tradisi Panjang Mulud di Cibeber tidak hanya menghadirkan kemeriahan. Di baliknya terdapat semangat berbagi yang menjadi bagian penting dari perayaan Maulid Nabi.

Tahun ini, delapan ekor kerbau disiapkan sebagai hadiah bagi kelompok pendzikir yang mengikuti rangkaian kegiatan. Dua kelompok pendzikir berasal dari Link Karang Tengah, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, dan Kampung Blosong, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang.

Keduanya mengikuti penilaian yang dilakukan dewan juri berdasarkan sejumlah aspek, antara lain jumlah peserta, lantunan lagu atau dzikir serta kerapian.

Link Karang Tengah meraih juara pertama dengan hadiah empat ekor kerbau dan uang tunai. Sedangkan Link Blosong meraih juara kedua dengan hadiah empat ekor kerbau dan uang tunai.

Bagi masyarakat, hadiah kerbau bukan sekadar nilai materi. Tradisi tersebut menjadi bagian dari mekanisme gotong royong dan sedekah yang membuat perayaan Maulid Nabi terasa sebagai milik bersama.

Ketua DKM Masjid Jami’ At-Ta’awun Cibeber, H. Hasanudin, mengatakan masyarakat secara konsisten menjaga tradisi tersebut sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Sebesar apa pun yang diberikan masyarakat, bukan untuk pamer. Ini merupakan bentuk kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW,” ujar Hasanudin.

Ia berharap tradisi Panjang Mulud terus dipertahankan dan semakin berkembang pada tahun-tahun mendatang.

“Harapan kami tentunya pelaksanaan ini semakin meningkat setiap tahunnya,” katanya.

Di tengah modernisasi yang bergerak cepat, Panjang Mulud di Cibeber menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak selalu harus ditinggalkan ketika zaman berubah.

Justru melalui tradisi itu, masyarakat menemukan ruang untuk berkumpul, bersedekah, mempererat silaturahmi dan merawat kecintaan kepada Rasulullah.

Delapan ekor kerbau dan sembilan panjang mulud akhirnya bukan sekadar angka. Di baliknya ada gotong royong warga, sedekah para donatur dan sebuah tradisi yang hingga kini masih dipertahankan agar tidak hilang ditelan zaman.

(Has/Red*)