Mang Wayut
Catatan Penulis:
Narasi ini adalah karya fiktif belaka. Namun, cerita ini hadir sebagai peringatan nyata: jika keserakahan terus mendorong manusia untuk menyedot pasir laut di Selat Sunda dan mengabaikan ingatan purba tentang daya hancur alam, tragedi dahsyat seperti tsunami Krakatau bukanlah sekadar kenangan masa lalu, melainkan ancaman yang bisa terulang kembali. Alam tidak pernah lupa, dan ketakziman kita pada laut adalah satu-satunya penawar agar bencana silam tak menjadi kenyataan di hari ini.
Angin Selat Sunda malam itu membawa bau belerang, berkelindan busuk dengan uap benzena dari kilang petrokimia. Di atas pasir dingin dan basah, sesosok tubuh membeku dalam sila. Diam, seolah menunggu sesuatu yang hanya ia yang tahu akan datang. Itulah Cak Moel.
Dulu, suaranya menggelegar memimpin orasi menolak izin pengerukan pasir. Kini ia membalut tubuh dalam jubah lusuh, menukar megafon dengan keheningan. Warga bilang ia sudah menyerah, lari ke dalam doa-doa sufi yang tak berdaya.
Mereka tidak tahu. Di balik matanya yang terpejam, dua hal bertarung tanpa ampun: rasa bersalah karena gagal menghentikan manusia, dan keputusasaan yang kini haus tumbal.
Lima kilometer di laut gulita, kapal keruk raksasa merayap bak parasit mekanis berkarat. Belalainya yang baja menancap ke rahim samudra, mengunyah jutaan ton pasir hitam demi satu proyek: reklamasi Cilegon.
Bagi insinyur di geladak, pasir itu cuma material tambang. Murah, tak bernilai. Mereka tak tahu, atau tak mau tahu, bahwa setiap butirnya adalah pasak bumi, penahan diam-diam yang menjaga tebing Anak Krakatau agar tak runtuh seperti 1883.
Dalam semadinya yang pekat, jiwa Cak Moel menjulur menembus air yang kian menghangat. Dan ia merasakannya: laut bukan lagi air. Laut adalah raksasa yang bernapas, dan sesuatu sedang mengulitinya hidup-hidup.
Di bawah sana, belalai besi itu menembus lapisan terakhir.
Raung mesin bungkam. Sonar buta. Dasar samudra patah. Air mendidih, menyemburkan belerang purba yang mencekik, lalu palung magmatik terbuka lebar dan menelan kapal itu. Bulat-bulat. Tanpa jejak.
Lalu, laut berdiri.
Dinding air legam puluhan meter, membiaskan kilat merah dari puncak Krakatau. Menghantam benteng petrokimia. Tangki-tangki meledak, satu demi satu. Api beracun mengapung di atas tsunami. Kota lumat dalam hitungan menit, tagihan utang ekologis yang datang tanpa negosiasi.
Cak Moel tersentak dari kesurupannya. Napasnya memburu. Peluh dingin membasahi jubah.
Ia menatap tangannya yang gemetar. Warga selalu mengira ritualnya adalah doa memohon perlindungan. Mereka salah. Dalam bahasa leluhur, tidak ada mantra untuk memadamkan amarah bumi. Yang ada hanya satu kata: menyerah.
Cak Moel tidak pernah berdoa menyelamatkan Cilegon. Ia berdoa mengizinkan roh para buyut mengambil kembali hak samudra, walau harganya adalah tanah kelahirannya sendiri.
Deru kapal keruk di kejauhan lenyap. Total.
Cak Moel menunduk. Air di bawah kakinya menyurut cepat, terlalu cepat, menelanjangi lumpur hitam dan ikan yang menggelepar putus asa. Di ufuk barat, bayangan raksasa bergerak mendekat dalam diam yang paling menakutkan.
Cak Moel memejamkan mata sekali lagi.
Tetap bersila di garis pantai.
Menyambut gemuruh pertama yang datang menagih penyesalan.















