Jangkar Yang Tak Pernah Berkarat

Oleh : Mang Wayut

Terinspirasi dari tulisan Kang Nasir diKompasiana “Catatan Kecil Ultah Kota Cilegon ke-19”, 24 April 2018)

Di sudut Cilegon yang kini gaduh oleh gemerlap lampu alun-alun dan tarian air mancur yang berpendar seperti kembang yang mekar tanpa akar, Kang Nasir duduk mengheningkan cipta. Ia lelaki bersahaja, yang selalu menyebut dirinya sekadar orang kampung yang tinggal di kampung, sebuah pengakuan yang aneh, tapi terdengar lebih agung daripada gelar apa pun.

Ditatapnya bentangan kota itu dengan dada bergetar, seperti seorang ayah memandang anak yang telah tumbuh jauh melampaui pelukan pertama yang dulu menimangnya.

Baginya, kesederhanaan bukanlah kepasrahan hidup yang tunduk pada nasib. Kesederhanaan adalah jangkar iman. Sebuah pemberat yang menahan jiwa agar tak hanyut oleh gemerlap dunia yang pandai berdusta dengan cahaya.

Masa lalu berputar bagai sinema tua di ingatannya, gambar-gambarnya buram namun tak pernah benar-benar pudar. Ia mengenang dinginnya angin di penghujung Desember 1998, ketika peluh dan air hujan menyatu di atas sepeda motor yang meliuk licin menuju Mancak.

Kala itu, tujuannya sederhana: sebungkus emping melinjo, segenggam gula merah asli, oleh-oleh bagi para wakil rakyat di Jakarta. Anak-anak muda yang tergabung di LPMC (Lembaga Peduli Masyarakat Cilegon) menembus gelap malam itu tanpa keluh, tanpa janji gaji, tanpa iming-iming jabatan. Hanya berbekal keyakinan bahwa sesuatu yang besar sedang mereka rintis dengan tangan yang kecil.

Ada pula noktah keputusasaan yang menggelitik nurani, ketika kain kafan dari Masjid Agung terpaksa “dilelang” fungsinya, disulap menjadi tirai backdrop bagi diskusi pembentukan kota. Sebuah ironi yang getir sekaligus suci: kain yang semestinya menyelubungi keberangkatan, justru dipakai untuk menyambut kelahiran.

Lagi Kang Nasir, loyalitas adalah pengorbanan yang tak pernah menuntut tebusan. Dan ketika cita-cita itu akhirnya berbuah pada 27 April 1999, hari ketika air mata haru menetes di ruang sidang dan ribuan warga bersujud syukur di tanah mereka sendiri, ia tahu bahwa satu babak perjuangan telah selesai ditulis.

Namun sejarah, seperti kata orang bijak, sering menderita amnesia. Kini, di tengah hingar-bingar perayaan yang gilang-gemilang, Kang Nasir kerap mengelus dada menyaksikan sebagian orang yang justru berjarak dari kotanya sendiri. Mereka menikmati buah pembangunan tanpa sudi berbaur dengan yang jelata, seolah lupa bahwa tanah yang mereka pijak hari ini berdiri di atas darah, keringat, dan doa orang-orang kecil yang namanya tak pernah tercantum di prasasti mana pun.

“Kota ini lahir dari ketulusan rakyat, bukan dari keserakahan,”bisik Kang Nasir pelan, namun kalimat itu menghujam lebih dalam daripada pidato paling lantang. Filosofi hidupnya sesungguhnya sangat lurus, hampir bersahaja hingga terasa berat: jangan pernah melupakan akar sejarah, dan jangan pernah mengkhianati tanah yang telah menghidupimu.

Meski banyak kawan seperjuangannya kini tersisih, tergilas oleh roda sistem yang tak kenal ampun, Kang Nasir tak menyimpan dendam di dadanya. Ia memilih tetap bersahaja, berdiri tegak dalam ketenangan jiwa yang telah lama berdamai dengan sunyi.

Dan barangkali di situlah pelajaran terbesarnya, jernih seperti mata air yang tak pernah keruh: kehormatan seorang manusia tidak diukur dari seberapa tinggi panggung yang ia naiki, melainkan dari seberapa tulus ia menjaga janji setia pada nilai-nilai kebaikan, bahkan ketika dunia telah lama berhenti mengingat namanya.

Sebab mencintai kota, pada akhirnya, tak selalu berwujud gegap gempita. Kadang ia hanya seorang lelaki tua yang duduk diam di sudut alun-alun, mengheningkan cipta bagi kampung halamannya sendiri, dan itu sudah cukup.