Panggilan Yang Mana Yang Kau Dengar?

 

Mang Wayut

(Guyon Santri Ala Mang Sam sewaktu pulang takziah)

Ada seorang santri yang setiap kali azan berkumandang, jalannya seperti kucing malas keluar dari dapur; santai, leyah-leyeh, seolah Tuhan tidak keberatan menunggu. Tapi begitu Pak Kiai memanggil namanya, kakinya berubah jadi mesin Pajero Sport. Tergopoh-gopoh, nyaris nyungsep di depan pintu.

Pak Kiai menatapnya tajam. “Kamu kalau dipanggil azan datangnya kok leyah-leyeh. Padahal itu panggilan kemenangan dari Allah. Tapi kalau saya yang panggil, kamu datang tergopoh-gopoh gini?”

“Karena Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengerti,” jawab si santri, tenang tanpa beban. “Kalau Pak Kiyai kan tidak…”

Hening. Pak Kiai mematung. Bukan karena jawaban itu salah dalil, memang benar secara logika tapi keliru secara adab, dua hal yang jarang sekali datang bersamaan.

Inilah yang paling sering dibongkar para sufi: kebenaran kecil yang dipinjam untuk menutupi kemalasan besar.

Di sinilah letak lucu sekaligus menggelikannya kita sebagai manusia. Kita jauh lebih takut kepada atasan yang bisa memecat, ketimbang kepada Yang menciptakan pekerjaan itu sendiri. Kita lebih sigap membalas chat bos daripada menjawab panggilan salat. Kita hafal jadwal meeting sampai ke menit, tapi lupa jadwal subuh sampai keteteran. Bukan karena kita tidak percaya Tuhan itu ada, tapi karena kita diam-diam yakin Tuhan itu “pengertian”, sementara bos tidak.

Ini penyakit yang sangat halus: menjadikan sifat baik Tuhan sebagai tameng untuk berbuat buruk. Allah Maha Pengampun, jadi santai saja berbuat dosa. Allah Maha Penyabar, jadi tidak apa-apa menunda taubat. Allah Maha Bijaksana, jadi wajar kalau azan didengar sambil lalu.

Padahal sifat-sifat agung itu diturunkan bukan untuk jadi bantal empuk kemalasan, melainkan cermin yang seharusnya membuat kita malu; masa yang Maha Pemurah saja begitu telaten mengurus kita, sementara kita begitu pelit meluangkan lima menit untuk-Nya?

Ada ungkapan lama di kalangan sufi, dengan nada menggoda: Tuhan tidak butuh salat kita, kitalah yang butuh cara untuk mendekat. Azan bukan absensi yang Tuhan periksa satu-satu, ia panggilan kemenangan. Undangan untuk berhenti sejenak dari perlombaan dunia dan mengingat siapa sebenarnya yang menggenggam segalanya. Sementara panggilan Pak Kiai, sehebat apa pun wibawanya, tetaplah panggilan manusia yang fana, yang besok bisa saja sudah tiada.

Anehnya, kita justru sering membolak-balik prioritas ini. Yang abadi kita anggap remeh, yang sementara kita perlakukan seperti titah raja. Persis santri tadi: berlari kencang untuk kiai yang hanya bisa menegur, tapi jalan santai untuk Allah yang menggenggam nyawanya sendiri.

Maka kalau suatu hari nanti kau mendapati dirimu bergegas untuk atasan tapi bermalas-malasan untuk panggilan-Nya, jangan buru-buru mencari pembenaran secanggih santri tadi. Cukup tanya pada diri sendiri: kalau Yang Maha Bijaksana saja begitu sabar menunggumu tanpa pernah sekalipun memecatmu, bukankah itu justru alasan paling kuat untuk berlari, bukan untuk berleyeh-leyeh?

Karena pada akhirnya, kemalasan yang dibungkus dalil selicin apa pun, tetaplah kemalasan. Dan Tuhan, meski Maha Memaklumi, mungkin sedang menunggu kita sadar sendiri. Sebelum Dia yang memanggil untuk terakhir kalinya.