Nelayan Madura yang Berani Protes ke Tuhan

 

Mang Wayut

(Dongeng Sufi Abuya Muhlis Mengutip Ceramah Cak Nun)

Cak Nun pernah cerita soal orang Madura yang saking akrabnya sama Tuhan, sampai berani nge- gojlok Tuhan. Demikian Abuya Muhlis mengawali cerita sufinya.

Ada nelayan Madura yang protes ke Tuhan gara-gara nggak dapat ikan. Padahal udah seharian dia taruhan nyawa di tengah laut.

“Ya Allah, masa njenengan tega lihat anak-istri saya kelaparan? Mbok ya dikasih, empat lah, berapa gitu.”

Nggak lama, empat ekor ikan loncat ke perahunya.

Orang normal udah seneng, kan? Ini orang Madura malah nengok ke langit lagi. “Ya Allah, masa dikasih empat beneran? Njenengan nggak paham kode saya, ya?”

Baru juga selesai ngomong, perahunya banjir ikan. Saking penuhnya, dia sampai nggak muat naik ke perahu sendiri. Perahunya pun sampai diseret sambil berenang ke tepian.

Sampai di pantai, disambut kabar: rumahnya kebakaran.

Bukannya panik, dia malah mendongak lagi ke langit, tangan kacak pinggang. “Ya Allah… urusan laut, mbok ya jangan dibawa-bawa ke darat.”

Coba pikir ulang. Nelayan itu nggak cuma protes, dia negosiasi, ngasih kode, dan pas ditegur, masih sempat protes lagi. Itu bukan kurang ajar biasa. Itu ada logikanya.

Pertama, soal jarak. Dalam falsafah Ibnu Sina, Tuhan itu Wajib al-Wujud; sebab dari segala sebab, jauh di atas kategori “bisa diajak ngobrol.” Tapi si nelayan berurusan dengan Tuhan versi lain: Tuhan yang, kata Al-Qur’an, “lebih dekat dari urat leher.”

Lucu-nya cerita ini lahir dari jarak antara dua Tuhan itu; yang jauh secara logika, didekati seakan tetangga sebelah rumah. Itu bukan penistaan. Itu keakraban sufistik, derajat spiritual tinggi, bukan rendah.

Kedua, soal keberanian. Dalam tasawuf ada dua kutub: haybah (gentar, jaga jarak) dan uns (akrab, hangat). Orang awam biasanya berhenti di haybah. Nelayan ini lompat langsung ke uns, sampai berani nge-gojlok. Dari luar terlihat kurang ajar. Tapi dari dalam, itu tanda dia sudah tidak takut karena yakin Tuhan sayang padanya. Takutnya hilang bukan karena kurang iman, tapi karena iman yang sudah matang jadi cinta.

Ketiga, soal kode. Waktu dia bilang “nggak paham kode saya?” dia sedang mencari isyarah, tanda tersembunyi dari kehendak Tuhan. Tapi dia salah kaprah: dia menempatkan diri sebagai pengirim kode, padahal yang punya otoritas atas tanda-tanda itu ya Tuhan, bukan manusia. Manusia hanya bisa membaca, bukan mendikte. Itu yang bikin geli. Secara logis terbalik, tapi secara emosional terasa manusiawi. Siapa sih yang nggak pernah begitu sama Tuhan?

Keempat, soal rumah kebakaran. Ibnu Rusyd membedakan pemahaman zahir (permukaan) dan ta’wil (batin). Nelayan ini terjebak di level zahir. Dia pikir laut urusan laut, darat urusan darat. Padahal dalam qadha-qadar, kehendak Tuhan itu satu kesatuan, tidak bisa dipilah manusia sesuka hati.

Rumah terbakar bukan “salah alamat.” Itu tamparan atas keyakinannya bahwa dia bisa menegosiasikan wilayah kekuasaan Tuhan. Manusia boleh akrab dengan Tuhan, tapi keakraban tidak pernah memberi hak untuk mengatur-Nya.

Jadi mungkin itulah kenapa cerita ini lucu sekaligus dalam. Dari takut, jadi akrab, jadi terlalu percaya diri sampai ditegur dengan cara paling sederhana: rumah kebakaran. Bukan hukuman. Cuma pengingat: sedekat apa pun kamu, kendali tetap bukan di tangan kamu.