CILEGON, WILIP.ID – Cilegon selama puluhan tahun menyandang predikat sebagai Kota Baja. Asap cerobong industri mengepul setiap hari, baja diproduksi dalam jumlah besar, namun di balik megahnya kawasan industri itu, pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) logam justru masih bergulat dengan persoalan klasik: sulitnya memperoleh bahan baku.
Ironi ini menjadi sorotan Ketua IKM Logam Cilegon-Banten, M. Ibrohim Aswadi. Menurutnya, mustahil berbicara mengenai hilirisasi industri, pemberdayaan usaha lokal, hingga peningkatan penggunaan produk dalam negeri apabila pelaku IKM yang berada di sekitar kawasan industri masih kesulitan mengakses baja sebagai bahan baku utama.
“IKM logam di Cilegon memiliki kemampuan, pengalaman, dan sumber daya manusia yang siap berkembang. Tantangan terbesar kami adalah akses terhadap bahan baku. Apabila mata rantai pasok dari PT Krakatau Steel dapat diperkuat, maka kami mampu meningkatkan kapasitas produksi, menciptakan lapangan kerja baru, dan menghasilkan produk berkualitas yang mampu bersaing di pasar nasional,” tegas Ibrohim, Senin, 3 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi atas kondisi yang selama ini dirasakan banyak pelaku industri kecil. Di satu sisi, Cilegon merupakan rumah bagi industri baja nasional. Di sisi lain, sebagian IKM masih harus berjuang mendapatkan bahan baku untuk menjaga roda produksi tetap berputar.
Padahal, pelaku IKM logam di Cilegon telah memproduksi beragam kebutuhan industri dan masyarakat, mulai dari alat-alat pertanian, kontainer office, roda gerbang, catok roda gerbang, rel Henderson, hingga berbagai komponen logam lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Menurut Ibrohim, persoalan bahan baku bukan semata-mata menyangkut kelangsungan usaha. Lebih dari itu, kondisi tersebut berpengaruh terhadap daya saing industri lokal, kapasitas produksi, hingga peluang membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Cilegon.
Ia menilai sudah saatnya PT Krakatau Steel sebagai perusahaan baja nasional memperkuat kemitraan dengan pelaku IKM melalui sistem distribusi bahan baku yang berkelanjutan, transparan, dan memberikan ruang tumbuh bagi industri kecil di daerah.
“Cilegon memiliki modal besar untuk membangun ekosistem industri dari hulu sampai hilir. Jangan sampai industri besar tumbuh, tetapi industri kecil yang berada di sekitarnya justru berjalan sendiri-sendiri. Sinergi harus benar-benar diwujudkan agar manfaat keberadaan industri juga dirasakan oleh pelaku usaha lokal,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan rantai pasok akan menjadi langkah strategis dalam mendukung program hilirisasi nasional. Ketika bahan baku lebih mudah diakses, IKM mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, memperkuat penggunaan produk dalam negeri, sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Ibrohim berharap kolaborasi antara PT Krakatau Steel, pemerintah, dan pelaku IKM tidak berhenti pada slogan pemberdayaan, tetapi diwujudkan melalui kebijakan yang membuka akses lebih luas bagi industri lokal terhadap bahan baku.
“Kalau Cilegon ingin benar-benar dikenal sebagai Kota Baja, maka kemajuan itu harus dirasakan bersama. Jangan sampai baja diproduksi di Cilegon, tetapi pelaku IKM logam di Cilegon justru kesulitan memperoleh bahan bakunya. Sudah saatnya industri hulu dan hilir berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan demi kemajuan ekonomi daerah dan industri nasional,” pungkasnya.
(Has/Red*)















