Oleh: Mulyadi Sanusi, Wakil Ketua Umum Kadin Kota Cilegon
Ada satu kenyataan yang tak bisa dibantah. Ketika Krakatau Steel melemah, denyut ekonomi Cilegon ikut melambat. Sebaliknya, ketika industri baja nasional itu mulai bangkit, harapan ribuan keluarga di Kota Baja kembali menyala. Sebab sejak awal, Krakatau Steel dan Cilegon bukan sekadar bertetangga. Keduanya lahir dari sejarah yang sama, tumbuh dalam perjuangan yang sama, dan hingga hari ini masih berbagi nasib yang sama.
Tak berlebihan jika mengatakan bahwa Krakatau Steel adalah jantung industri Cilegon. Perusahaan ini berdiri bukan hanya karena keputusan negara, tetapi juga karena pengorbanan masyarakat Cilegon yang mendukung penuh Proyek Trikora yang digagas Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Dari tanah inilah cita-cita membangun kemandirian industri baja nasional dimulai.
Namun perjalanan panjang itu tidak selalu mulus.
Dalam beberapa tahun terakhir, Krakatau Steel diterpa badai yang nyaris mengguncang fondasinya. Persaingan industri baja dunia semakin brutal. Di sisi lain, persoalan tata kelola dan arah bisnis pada masa lalu perlahan menggerus daya saing perusahaan. Dampaknya bukan hanya dirasakan di ruang rapat direksi, tetapi menjalar hingga ke pelaku UMKM, kontraktor lokal, pekerja, dan masyarakat yang selama puluhan tahun menggantungkan harapan pada perputaran ekonomi industri baja.
Karena itu, kabar bahwa Krakatau Steel berhasil mencatatkan keuntungan hingga Rp4 triliun di awal kepemimpinan Direktur Utama Akbar Djohan menjadi lebih dari sekadar laporan keuangan. Angka tersebut adalah simbol kebangkitan. Sebuah sinyal bahwa perusahaan strategis milik negara itu masih memiliki masa depan dan peluang untuk kembali menjadi tulang punggung industri nasional.
Tetapi jangan pernah berpikir kebangkitan itu bisa diwujudkan sendirian.
Krakatau Steel membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat Cilegon. Pemerintah, pelaku usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, hingga warga biasa memiliki kepentingan yang sama agar perusahaan ini kembali kokoh. Sebab jika Krakatau Steel kembali kuat, ekonomi Cilegon ikut bergerak. Lapangan pekerjaan terbuka, investasi tumbuh, dan roda usaha masyarakat kembali berputar.
Di sisi lain, masyarakat juga berhak mengawasi. Krakatau Steel adalah aset negara yang dibangun dengan uang rakyat. Kritik terhadap perusahaan adalah sesuatu yang wajar, bahkan diperlukan. Namun kritik seharusnya menjadi vitamin bagi perubahan, bukan berubah menjadi senjata untuk menjatuhkan, mengintimidasi, atau dijadikan alat tawar-menawar demi kepentingan pribadi.
Sudah saatnya semua pihak berhenti saling menyalahkan. Energi Cilegon harus diarahkan untuk membangun, bukan memperpanjang konflik yang justru menghambat proses pemulihan.
Harapan itu mulai terlihat.
Di bawah kepemimpinan Akbar Djohan, Krakatau Steel bersama Pemerintah Kota Cilegon berhasil menyelesaikan salah satu persoalan yang bertahun-tahun menjadi ganjalan, yakni kesepakatan terkait akses Pelabuhan Cilegon Mandiri. Persoalan yang sempat buntu sejak perjanjian tahun 2012 akhirnya menemukan jalan keluar melalui dialog dan semangat kolaborasi.
Kesepakatan tersebut menjadi bukti bahwa kepentingan industri dan kepentingan daerah tidak harus dipertentangkan. Ketika komunikasi dibangun dengan baik, solusi yang menguntungkan semua pihak selalu bisa ditemukan.
Kini, tantangan berikutnya jauh lebih besar: menjaga momentum kebangkitan itu agar tidak kembali padam.
Cilegon tidak membutuhkan kegaduhan yang lahir dari kepentingan sesaat. Kota ini membutuhkan persatuan, keberanian mengambil keputusan, serta komitmen untuk menjaga salah satu aset industri paling strategis milik bangsa.
Karena pada akhirnya, nasib Krakatau Steel adalah cerminan masa depan Cilegon. Jika baja nasional kembali tegak, Cilegon akan berdiri lebih kokoh. Namun jika Krakatau Steel kembali terpuruk, yang kehilangan bukan hanya sebuah perusahaan, melainkan sebuah kota yang selama puluhan tahun menggantungkan denyut ekonominya pada industri kebanggaan Indonesia.
Krakatau Steel dan Cilegon adalah satu nadi, satu perjuangan, dan satu masa depan. Menjaga Krakatau Steel berarti menjaga masa depan Kota Cilegon itu sendiri.
(Red*)















