Robohnya Rumah Mang Sub

Oleh: Mang Wayut

Musibah tak pernah diundang. Tapi kadang, ia datang membawa sesuatu yang lebih besar dari luka itu sendiri: kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Malam itu, motor Subhi, atau biasa dipanggil Mang Sub, dibawa kabur begal. Satu-satunya alat mencari nafkah, lenyap dalam gelap.

Tapi yang membuat orang tertegun bukan itu. Yang membuat hati tercekat adalah kenyataan di baliknya: rumah yang nyaris roboh, atap bocor, dinding rapuh menahan angin seadanya.

Ia tinggal sendiri. Ia bertahan sendiri. Tanpa keluh, tanpa pinta. Bertahun-tahun. Lalu kabar imenyebar. Dan sesuatu yang indah terjadi. Pemerintah bergerak. Baznas mengulurkan tangan.

Warga, aparatur, dan para dermawan datang tanpa diminta. Rumah yang dulu nyaris tumbang, kini berdiri lagi. Lebih kokoh, lebih hangat, lebih layak untuk disebut rumah.

H. Rahmatullah, Anggota DPRD Kota Cilegon dari Fraksi PAN, ikut datang. Bukan lewat perantara. Ia duduk langsung di hadapan Mang Sub, menatap matanya, memastikan sendiri bahwa pria itu benar-benar bangkit.

Ia membawa kebutuhan pokok. Sederhana. Tapi cukup untuk meringankan satu, dua langkah Mang Sub ke depan.

Kepedulian yang sama juga datang dari jauh. Aflahul Aziz, Anggota DPRD Kota Cilegon dari Fraksi Gerindra yang juga Ketua Karang Taruna Kota Cilegon.

Azis langsung membelikan motor baru pengganti motor Mang Sub yang dibegal. Lewat sebuah pesan WhatsApp singkatnya di sebuah grup, ia menitipkan rasa syukurnya dapat ikut membantu:

“Peristiwa mang subhi ini sebagai pengingat bahwa nilai gotong royong dan kepedulian sosial masih tumbuh kuat ditengah masyarakat demi menghadirkan manfaat bagi sesama. Terimakasih juga saya ucapkan atas donasi nya Pak Sokhidin selaku Wakil Ketua DPRD dan Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna Kota Cilegon.”

Pesannya singkat. Tapi cukup untuk menegaskan: gotong royong tak butuh sorotan kamera untuk menjadi nyata.

Kini, malam-malam panjang Mang Sub yang dulu ia lalui sendirian, ditemani angin yang menembus dinding, dan hujan yang jatuh tepat di atas ranjangnya, kini tinggal kenangan. Ia bisa tidur nyenyak. Untuk pertama kalinya, entah setelah berapa lama.

Tapi di balik kisah yang berakhir hangat ini, ada satu kenyataan yang menampar: Mang Sub bukan satu-satunya.

Di gang-gang yang tak jauh dari rumah kita, mungkin ada Mang Sub yang lain. Menahan sakit dalam sunyi. Memilih diam karena malu, karena tak ingin merepotkan siapa pun. Mereka tidak menunggu viral untuk pantas dibantu. Mereka hanya menunggu seseorang yang mau menoleh.

Kepada yang Tuhan titipkan rezeki lebih: kisah ini adalah tamparan pelan sekaligus panggilan yang tulus. Sebuah rumah layak, bagi sebagian orang hanyalah angka kecil di rekening. Tapi bagi seorang Mang Sub, itu adalah selisih antara bertahan dan menyerah.

Harta yang ditumpuk sendiri hanya akan menjadi beban. Harta yang mengalir kepada yang membutuhkan akan menjadi atap, menjadi rumah, menjadi napas panjang bagi orang lain untuk terus berjuang.

Kisah Mang Sub telah berakhir dengan senyum. Tapi di luar sana, masih banyak kisah yang belum sempat ditulis, belum sempat didengar, dan mungkin tak akan pernah viral.

Mereka hanya butuh satu hal yang sama: hati yang tergerak sebelum penderitaan sendiri yang memaksa dunia untuk peduli.

(Red*)