MAN 2 Cilegon Dorong Siswa Kelas 12 Kenali Potensi Diri, Orang Tua Diajak Siapkan Masa Depan Anak

CILEGON, WILIP.ID — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Cilegon terus memperkuat pendampingan bagi siswa kelas 12 dalam menentukan langkah setelah lulus. Tak hanya membidik perguruan tinggi, madrasah juga membuka wawasan siswa terhadap dunia kerja dan pendidikan vokasi.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan parenting dan pengenalan potensi diri yang melibatkan siswa kelas 12 bersama orang tua atau wali. Kegiatan ini digelar berkolaborasi dengan mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang tengah menjalani Praktik Lapangan Persekolahan (PLP) integratif di MAN 2 Kota Cilegon.

Kepala MAN 2 Kota Cilegon Mamad mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar siswa mampu mengenali kemampuan, karakter, serta potensi dirinya sebelum menentukan pilihan masa depan.

“Tujuannya bagaimana siswa dapat mengenali potensi dirinya sehingga dapat memilih masa depannya, baik untuk melanjutkan perkuliahan maupun masuk dunia kerja sesuai dengan potensi yang dimiliki,” kata Mamad, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Orang tua diharapkan tidak sekadar mengarahkan, tetapi mampu memberikan dukungan terhadap pilihan dan cita-cita anak berdasarkan potensi yang dimilikinya.

“Orang tua juga dapat mendukung apa yang dicita-citakan putra-putrinya,” ujarnya.

Mamad mengatakan program penguatan orientasi masa depan siswa tidak berhenti pada kegiatan parenting. MAN 2 Cilegon juga menyiapkan program Edutalk yang mempertemukan siswa dengan berbagai informasi mengenai perguruan tinggi, dunia kerja, hingga pendidikan vokasi.

Dalam kegiatan tersebut, pihak madrasah juga berencana menghadirkan para alumni MAN 2 Cilegon yang kini tersebar di berbagai daerah. Alumni diharapkan dapat berbagi pengalaman mengenai perjalanan pendidikan dan karier setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah.

“Alhamdulillah manfaatnya sangat besar. Anak-anak jadi memiliki motivasi yang tinggi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi yang mereka pilih,” kata Mamad.

Ia menyebut, selama ini mayoritas lulusan MAN 2 Kota Cilegon melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Angkanya disebut mencapai sekitar 80 hingga 90 persen setiap tahun.

Sementara siswa yang memilih tidak melanjutkan kuliah tetap mendapat pendampingan melalui informasi mengenai dunia kerja dan pendidikan vokasi.

“Karena tidak setiap anak semuanya melanjutkan perguruan tinggi. Yang lainnya kami jembatani melalui pemaparan dan sosialisasi dunia kerja atau vokasi,” jelasnya.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui sejumlah kegiatan di luar madrasah. Salah satunya kunjungan ke sejumlah institusi pendidikan dan pelatihan untuk memberikan gambaran langsung mengenai kebutuhan dunia industri.

Mamad mencontohkan kunjungan ke salah satu perguruan tinggi bidang petrokimia di kawasan Anyer. Dari kegiatan tersebut, sejumlah siswa kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program ikatan dinas yang berkaitan dengan bidang perindustrian.

“Alhamdulillah hasilnya ada lima orang anak kita yang masuk ke PPEB, yang merupakan ikatan dinas dari dinas perindustrian,” ungkapnya.

MAN 2 Cilegon juga membawa siswa mengenal lingkungan Balai Latihan Kerja (BLK). Di sana, siswa mendapatkan pemahaman mengenai kompetensi yang dibutuhkan industri serta gambaran mengenai dunia kerja.

Selain itu, madrasah menggandeng LP3I Cilegon untuk memberikan sosialisasi terkait dunia kerja dan program magang. Untuk jalur perguruan tinggi, madrasah juga memfasilitasi siswa melalui program Beasiswa Perintis Salman ITB.

“Alhamdulillah ada tujuh orang dari Bandung yang hadir ke madrasah kami untuk memberikan sosialisasi dan arahan bagaimana masuk perguruan tinggi yang mereka dambakan,” katanya.

Mamad menegaskan, status madrasah sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan tidak membuat ruang pengembangan siswa menjadi terbatas. MAN 2 Cilegon, kata dia, justru berupaya menyiapkan siswa agar memiliki pilihan masa depan yang lebih luas.

“Madrasah kami siapkan tidak hanya untuk keagamaan, tetapi juga untuk dunia kerja dan pendidikan umum. Jadi lebih luas jangkauannya,” ujarnya.

Di sisi lain, pendidikan keagamaan tetap menjadi bagian penting dari pembentukan karakter siswa. Sejumlah program seperti tahfiz, Musabaqah Tilawatil Quran, syarhil Quran dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya terus dikembangkan.

Menurut Mamad, program tersebut tidak hanya diarahkan pada kemampuan keagamaan, tetapi juga pembentukan karakter dan kompetensi siswa.

Kemampuan tersebut juga menjadi modal bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, termasuk melalui sertifikat atau piagam tahfiz.

“Alhamdulillah tahun kemarin anak-anak kita sudah sampai 20 juz kurang hafalannya,” katanya.

Bahkan, MAN 2 Kota Cilegon telah mengantarkan siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mamad menyebut dua siswa akan diberangkatkan menuju Kairo, Mesir, untuk menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar.

“Mulai besok mereka akan diberangkatkan menuju Kairo, Mesir. Kita doakan mudah-mudahan dua anak kita yang menuju Universitas Al-Azhar Kairo diberikan kelancaran dan kemudahan untuk perkuliahan sampai selesai,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Komite MAN 2 Kota Cilegon Rachmatullah AS menilai kegiatan parenting menjadi ruang penting untuk mempertemukan sekolah, siswa, dan orang tua dalam membicarakan masa depan peserta didik.

Ia mengapresiasi mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang menginisiasi kegiatan tersebut melalui program PLP integratif.

“Kegiatan ini sangat memotivasi anak-anak kami yang berada di kelas 12, yang satu tahun terakhir ini harus mempersiapkan diri untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” kata Rachmatullah.

Menurutnya, keberhasilan siswa dalam menentukan masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Pendampingan orang tua dan guru juga memiliki peran penting dalam proses tersebut.

“Kesuksesan dan masa depan anak bukan hanya bergantung kepada anak, tetapi bagaimana pendampingan orang tua dan guru. Jika orang tua dan guru bersatu, insyaallah program sekolah dapat terlaksana dan harapan orang tua terhadap masa depan anak bisa diwujudkan,” ujarnya.

Rachmatullah berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai seminar atau agenda seremonial. Pengetahuan yang diperoleh siswa dan orang tua diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan pendidikan maupun pekerjaan.

“Jangan hanya didengarkan, tetapi menjadi catatan dan bisa dilaksanakan. Sehingga kalau anak-anak harus lanjut ke perguruan tinggi, mereka mendapatkan perguruan tinggi dan jurusan sesuai sifat, watak, karakter, dan kemampuan selama menimba ilmu di MAN 2 Kota Cilegon,” katanya.

Begitu pula bagi siswa yang memilih langsung bekerja setelah lulus. Menurutnya, informasi mengenai peluang kerja dan pendidikan vokasi perlu terus dibuka agar siswa memiliki alternatif yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

Dengan pola pendampingan tersebut, MAN 2 Kota Cilegon berupaya menempatkan kelulusan bukan sebagai garis akhir pendidikan, melainkan pintu masuk menuju pilihan masa depan. Siswa didorong mengenali dirinya, orang tua dilibatkan dalam prosesnya, sementara madrasah berperan membuka sebanyak mungkin akses menuju perguruan tinggi, dunia industri, maupun jalur vokasi.

(Alfa/Red*)