Berita  

Baznas Cilegon Dorong “Satu Rumah Satu Sarjana” untuk Putus Rantai Kemiskinan

CILEGON, WILIP.ID – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Cilegon kembali menunjukkan perannya sebagai motor penggerak pemberdayaan sosial. Sebanyak 344 mustahik menerima bantuan, yang secara simbolis diserahkan kepada 26 penerima dari berbagai latar belakang, termasuk lansia, penyandang disabilitas, dan keluarga prasejahtera.

Namun lebih dari sekadar bantuan jangka pendek, perhatian publik kini tertuju pada salah satu program unggulan Baznas Cilegon: “Satu Keluarga Satu Sarjana”. Program ini ditujukan untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi keluarga miskin, dengan harapan satu orang dari setiap keluarga dapat menempuh kuliah dan menjadi agen perubahan di lingkungannya.

“Kami ingin menciptakan efek domino kebaikan. Ketika satu anak dalam keluarga berhasil meraih gelar sarjana, maka potensi perubahan sosial dan ekonomi dalam keluarga itu jauh lebih besar,” kata Wakil Ketua III Baznas Cilegon, H. Bambang Widiyatmoko, saat ditemui di Kantor Baznas Cilegon, Selasa (3/6/2025).

Pendidikan Sebagai Pilar Pemberdayaan

Program “Satu Keluarga Satu Sarjana” menjadi bagian dari upaya Baznas dalam mendobrak rantai kemiskinan struktural. Tak sekadar memberikan beasiswa, program ini juga menyentuh aspek pendampingan dan pelatihan agar para penerima mampu menyelesaikan studi dengan baik.

Bambang menyebutkan bahwa Baznas secara aktif berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar program ini mendapat dukungan maksimal, baik dalam bentuk data calon penerima, skema pendanaan bersama, maupun jaminan keberlanjutan program.

“Kami tidak bekerja sendiri. Wali Kota Cilegon juga telah memberi arahan agar program Baznas selaras dengan arah pembangunan daerah. Pendidikan adalah investasi jangka panjang,” tegasnya.

Sentuh Disabilitas, Ringankan Beban Ijazah

Baznas Cilegon juga menaruh perhatian pada kelompok rentan. Bantuan alat bantu dengar disalurkan untuk penyandang tuna rungu, serta pelatihan membaca Al-Qur’an braille untuk tuna netra.

Bambang menegaskan bahwa kelompok disabilitas sering kali terpinggirkan dalam program sosial, padahal mereka juga memiliki hak yang sama atas akses pendidikan dan spiritual.

“Kami tidak ingin berhenti di bantuan fisik. Ada upaya pemberdayaan berbasis pendidikan agama yang kami dorong, agar mereka tetap merasa berdaya dan dihargai,” ujarnya.

Sementara itu, untuk pelajar dari keluarga kurang mampu, Baznas turut menyalurkan bantuan penebusan ijazah, khususnya di jenjang SMA, agar para siswa tidak terhenti hanya karena kendala administrasi.

“Selama ini bantuan pendidikan kami memang fokus ke SD dan SMP, tapi banyak siswa SMA yang tertahan ijazahnya karena belum mampu membayar. Ini harus segera diatasi,” tambahnya.

Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci

Bambang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Baznas bukan lagi sekadar lembaga distribusi zakat, tetapi kini berperan sebagai agen perubahan sosial.

Baznas Cilegon juga terus membuka ruang kolaborasi dengan instansi pemerintahan, komunitas, hingga sektor swasta. Keterlibatan Baznas dalam apel hingga peringatan hari besar nasional menjadi bagian dari upaya memperkuat legitimasi dan kepercayaan publik.

“Program seperti ini tidak bisa jalan sendiri. Perlu sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga seperti Baznas. Jika berhasil, maka satu sarjana di setiap rumah bukan lagi mimpi,” pungkas Bambang.

(Elisa/Red)