CILEGON, WILIP.ID — Ribuan warga tumpah ruah memadati Alun-Alun Kota Cilegon pada malam penutupan Cilegon Expo 2026, Senin (27/4/2026). Momen puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Cilegon itu bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggung besar yang memperlihatkan denyut kebersamaan sekaligus geliat ekonomi kreatif yang kian terasa.
Sejak sore, arus massa mulai mengalir dari berbagai penjuru kota dan wilayah sekitar. Alun-alun berubah menjadi lautan manusia—padat, hidup, dan penuh ekspektasi. Warga datang bukan hanya untuk menikmati hiburan, tetapi juga merayakan identitas kota industri yang terus bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih inklusif.
Sorotan utama malam itu hadir saat penyanyi nasional Denny Caknan naik ke panggung. Lagu-lagu populernya langsung disambut koor ribuan penonton. Suasana berubah menjadi satu harmoni besar—nyanyian massal, sorak sorai, dan energi kolektif yang menggambarkan betapa kuatnya daya tarik hiburan sebagai perekat sosial.
Di tengah euforia itu, Wali Kota Cilegon, Robinsar, menyampaikan pesan yang lebih dari sekadar ucapan seremonial. Ia mengajak masyarakat mensyukuri perjalanan 27 tahun Kota Cilegon, sembari menekankan harapan yang masih relevan: kesejahteraan dan terbukanya lapangan kerja.
“Hari ini ulang tahun Kota Cilegon ke-27. Semoga semakin sejahtera masyarakatnya dan semakin banyak lowongan pekerjaan,” ujarnya, disambut riuh tepuk tangan warga.
Namun, di balik kemeriahan panggung, terselip pesan penting tentang arah pembangunan kota. Robinsar menegaskan bahwa keberhasilan Cilegon Expo 2026 bukan kerja tunggal pemerintah, melainkan hasil kolaborasi lintas sektor—dari pelaku usaha, komunitas kreatif, hingga unsur pengamanan.
Ia juga membuka sinyal kuat: Cilegon tak ingin berhenti pada euforia tahunan. Pemerintah tengah menjajaki kemungkinan menghadirkan lebih banyak event serupa di luar momentum HUT. Konser, festival, dan aktivitas ekonomi kreatif diharapkan menjadi agenda rutin—bukan insidental.
“Kita ingin ke depan event seperti ini tidak hanya saat HUT. Ada kesinambungan, ada ruang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal untuk tumbuh,” katanya.
Pernyataan ini menjadi penting. Sebab, selama ini geliat hiburan di kota industri seperti Cilegon kerap bersifat musiman. Jika konsisten diwujudkan, agenda event berkelanjutan bisa menjadi mesin baru perputaran ekonomi—menghidupkan UMKM, memperluas lapangan kerja, sekaligus memperkuat identitas kota.
Tak hanya itu, apresiasi juga disampaikan kepada aparat gabungan—Kepolisian, TNI, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan—yang memastikan acara berjalan tertib. Di tengah kerumunan besar, stabilitas menjadi kunci. Dan malam itu, Cilegon berhasil menjaganya.
Menariknya, panggung hiburan tak melulu didominasi artis ibu kota. Band-band lokal turut unjuk gigi, menunjukkan bahwa Cilegon memiliki talenta yang tak kalah kompetitif. Ini menjadi penegasan lain: pembangunan kota tak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang memberi ruang bagi ekspresi dan kreativitas warganya.
Penutupan Cilegon Expo 2026 akhirnya bukan sekadar akhir dari rangkaian acara. Ia menjadi etalase—tentang bagaimana sebuah kota industri mulai menata wajahnya sebagai kota yang hidup, kreatif, dan berorientasi pada kebersamaan.
Pertanyaannya kini, mampukah euforia ini dijaga konsistensinya? Atau kembali redup hingga perayaan berikutnya?
Jawabannya ada pada keberanian pemerintah dan seluruh stakeholder untuk menjadikan event sebagai strategi, bukan sekadar seremoni.
(Has/ADV*)















