CILEGON, WILIP.ID — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Cilegon semestinya menjadi panggung capaian pembangunan kota industri. Namun di balik deru investasi dan geliat pabrik, potret ketimpangan masih nyata. Di sudut Link Perigi, RT 06/RW 03, Kelurahan Cikerai, Kecamatan Cibeber, seorang warga bernama Ibu Hadarah justru bertahan hidup di rumah yang nyaris ambruk.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan kondisi hunian yang jauh dari standar kelayakan. Dinding rumah retak dan sebagian telah roboh. Atap genteng tampak rapuh, bahkan berlubang di sejumlah titik. Saat hujan turun, air dengan mudah mengalir masuk dan membasahi hampir seluruh bagian rumah.
“Kalau hujan saya takut di dalam rumah, takut roboh. Ini hanya sekadar untuk berteduh saja,” ujar Hadarah, Minggu (26/4/2026).
Kondisi tersebut bukan hanya soal kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan. Setiap hujan deras, ancaman bangunan ambruk menjadi bayang-bayang yang nyata bagi keluarga ini.
Dari sisi ekonomi, beban yang ditanggung pun tak ringan. Hadarah menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan, mengumpulkan plastik bekas untuk dijual. Sementara suaminya tak lagi mampu bekerja akibat faktor usia dan kondisi kesehatan yang menurun pasca sakit. Di tengah keterbatasan itu, rumah tersebut juga dihuni beberapa anggota keluarga, menambah tekanan ekonomi yang sudah rapuh.
Ironinya, realitas ini hadir di tengah citra Cilegon sebagai salah satu pusat industri nasional. Deretan perusahaan besar berdiri kokoh, namun belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan seluruh warganya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tampak belum merata menyentuh lapisan paling bawah.
Lebih jauh, temuan di lapangan mengindikasikan bahwa keluarga Hadarah belum tersentuh optimal oleh program bantuan pemerintah, seperti Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) maupun bantuan sosial lainnya. Hal ini memunculkan pertanyaan serius soal akurasi data penerima bantuan serta efektivitas distribusi program kesejahteraan.
Momentum HUT ke-27 seharusnya menjadi refleksi, bukan sekadar selebrasi. Warga sekitar berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik dan ekspansi industri, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat kecil terpenuhi secara konkret.
Bagi Hadarah, harapan itu sederhana—namun mendasar.
“Kalau ada bantuan rumah, saya sangat bersyukur. Saya hanya ingin tempat tinggal yang aman,” ucapnya.
Kisah ini menjadi pengingat tajam: di balik gemerlap industri Cilegon, masih ada warga yang hidup dalam ketidakpastian. Pembangunan sejati tak hanya diukur dari tinggi cerobong pabrik, tetapi dari seberapa banyak warga yang bisa tidur nyenyak di rumah yang aman.
(Has/Red*)















