CILEGON, WILIP.ID — Usai mengikuti rangkaian seremoni Riung Mungpulung dan rapat paripurna, Wali Kota Cilegon Robinsar tak berhenti pada agenda formal semata. Di tengah euforia Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Cilegon, ia memilih melanjutkan langkah ke sebuah titik yang lebih sunyi: makam Tb Aat Syafaat di Jombang Wetan, Senin (27/4/2026).
Ziarah ini bukan sekadar ritual tahunan yang sarat simbolik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya mengingat kembali fondasi awal berdirinya Kota Cilegon—yang hari ini terus tumbuh sebagai kota industri, namun tak boleh kehilangan jejak sejarah dan nilai perjuangan para pendirinya.
Rombongan yang hadir terbilang lengkap. Mulai dari Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo, unsur Forkopimda, jajaran pejabat eselon II, hingga para camat dan lurah. Mantan Wakil Wali Kota Sanuji Pentamarta juga tampak ikut dalam rombongan. Kehadiran para elite birokrasi ini mempertegas bahwa ziarah bukan agenda personal, melainkan sikap kolektif pemerintah daerah.
Dalam sambutannya, Robinsar menegaskan posisi Tb Aat Syafaat sebagai figur sentral dalam sejarah Cilegon. Ia menyebut almarhum bukan hanya sebagai pendiri, tetapi juga pemimpin dengan visi panjang yang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan daerah.
“Beliau bukan hanya membangun secara fisik, tetapi juga meletakkan nilai-nilai kepemimpinan dan pengabdian,” ujar Robinsar.
Namun, pernyataan itu menyisakan pertanyaan yang lebih penting: sejauh mana nilai-nilai tersebut benar-benar diimplementasikan dalam tata kelola pemerintahan hari ini?
Robinsar menekankan bahwa semangat pengabdian Tb Aat Syafaat harus menjadi cermin bagi aparatur sipil negara (ASN), terutama dalam hal pelayanan publik dan pembangunan daerah. Pernyataan ini menjadi semacam pengingat—bahwa di tengah kritik terhadap birokrasi yang kerap dianggap lamban dan berjarak, teladan masa lalu seharusnya menjadi standar, bukan sekadar narasi seremonial.
“Nilai-nilai kehidupan beliau harus kita teladani, khususnya bagi ASN dalam memberikan pelayanan,” tegasnya.
Di sisi lain, harapan juga disampaikan agar dedikasi almarhum menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Sebuah ungkapan yang tak hanya bernuansa religius, tetapi juga mengandung pesan moral: bahwa pembangunan sejati adalah yang memberi dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Sementara itu, perwakilan keluarga Tb Aat Syafaat yang juga Ketua DPRD Kota Cilegon, Rizki Khairul Ichwan, menyampaikan apresiasi atas konsistensi pemerintah kota dalam menjaga tradisi ziarah ini. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar penghormatan, tetapi juga ruang refleksi bersama.
“Ini momentum penting untuk mengingat jasa para pendiri yang telah meletakkan fondasi kuat bagi kemajuan Kota Cilegon,” kata Rizki.
Di tengah geliat pembangunan dan ambisi investasi yang terus didorong, ziarah ini menjadi semacam jeda—mengajak seluruh pemangku kebijakan untuk menengok ke belakang, sebelum melangkah lebih jauh ke depan.
Sebab pada akhirnya, kota bukan hanya soal angka pertumbuhan dan proyek infrastruktur. Ia adalah akumulasi dari nilai, perjuangan, dan warisan pemikiran para pendahulunya. Dan ziarah ini, setidaknya, menjadi pengingat bahwa pembangunan tanpa ingatan adalah kehilangan arah.
(Has/ADV*)















