Cilegon Fest 2026: Panggung Etnik di Tengah Kota Industri, Dekranasda Dorong Produk Lokal Naik Kelas

CILEGON, WILIP.ID — Di tengah identitasnya sebagai kota industri, Cilegon mencoba menegaskan satu hal: pembangunan tak melulu soal baja dan beton. Lewat Dekranasda Cilegon Fest 2026, warna budaya justru tampil mencolok di jantung kota.

Bertempat di Alun-Alun Kota Cilegon, Minggu (26/4/2026), acara yang digagas Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) ini disulap menjadi ruang temu antara kreativitas, budaya, dan kepentingan ekonomi. Bukan sekadar festival seremonial, kegiatan ini membawa misi yang lebih jauh: mengangkat potensi lokal agar tak tenggelam di tengah dominasi industri besar.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya hiburan tahunan. Ia menyebut, festival tersebut menjadi instrumen strategis dalam memperkuat ekonomi kreatif sekaligus menjaga identitas budaya daerah.

“Ini bukan sekadar acara, tapi ruang ekspresi masyarakat. Ada kreativitas, inovasi, sekaligus penguatan nilai lokal yang harus terus dijaga,” ujar Aziz dalam sambutannya.

Lebih dari itu, ia menyoroti pentingnya menjadikan sektor kriya dan fashion berbasis kearifan lokal sebagai kekuatan ekonomi baru. Dalam pandangannya, peragaan busana etnik yang menjadi sorotan utama festival bukan hanya soal estetika, melainkan simbol komitmen bersama dalam mengangkat produk daerah ke panggung yang lebih luas.

Pesan yang dibawa cukup tegas: produk lokal tak boleh lagi dipandang sebelah mata.

Aziz bahkan mendorong gerakan “Bangga Menggunakan Produk Lokal” sebagai langkah konkret untuk memperkuat perputaran ekonomi daerah. Menurutnya, kemandirian kota tidak hanya dibangun dari investasi besar, tetapi juga dari keberanian masyarakatnya mencintai hasil karya sendiri.

“Kalau bukan kita yang mengangkat produk lokal, siapa lagi?” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Dekranasda Kota Cilegon, Didin S. Maulana, menyebut festival ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun ekosistem industri kreatif yang lebih kokoh. Mengusung tema “Melalui Budaya Kita Perkuat Jati Diri dan Kemajuan Kota Cilegon”, acara ini diarahkan untuk memperluas ruang promosi bagi para perajin dan desainer lokal.

Menurut Didin, sektor kriya dan wastra memiliki nilai lebih karena tidak hanya menjual produk, tetapi juga filosofi dan identitas budaya.

“Yang kita dorong bukan sekadar jualan, tapi bagaimana produk lokal punya cerita dan daya saing,” ujarnya.

Antusiasme peserta pun tak main-main. Lebih dari 30 peserta ambil bagian dalam fashion show, mulai dari unsur Forkopimda, perangkat daerah, hingga BUMD. Kehadiran mereka dinilai bukan sekadar partisipasi simbolik, melainkan bentuk dukungan nyata dalam mempromosikan wastra lokal.

Di sisi lain, rangkaian kegiatan seperti senam sehat, lomba mewarnai anak, hingga pameran produk unggulan turut memperkuat daya tarik festival. Stand-stand Dekranasda dipenuhi berbagai produk kriya yang mencerminkan kekayaan budaya lokal—sebuah kontras yang menarik di tengah citra Cilegon sebagai kota industri berat.

Namun di balik kemeriahan itu, ada pesan yang tak bisa diabaikan: Cilegon sedang mencari keseimbangan. Antara industri dan identitas. Antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya.

Dekranasda Cilegon Fest 2026 menjadi pengingat bahwa kemajuan kota tak hanya diukur dari tinggi cerobong pabrik, tetapi juga dari seberapa kuat ia menjaga akar budayanya.

Dan untuk itu, panggung kecil di alun-alun bisa jadi punya dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat.

(Has/Red*)