CILEGON, WILIP.ID – Sebanyak 11 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sebelumnya hidup terlantar di jalanan kini menjalani proses rehabilitasi di Yayasan Asyifa Amalia, hasil kerja sama dengan Dinas Sosial Kota Cilegon.
Program ini bukan sekadar penampungan, melainkan bagian dari upaya serius Pemkot Cilegon untuk memanusiakan mereka yang terlupakan.
“Kalau sudah ditangani Dinas Sosial, prinsip kami satu: perlakukan mereka layaknya manusia,” ujar Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Cilegon, Adnan, kepada Wilip.id, Senin (16/6/2025).
Bukan Ditelantarkan, Tapi Dipulihkan
Sebelas ODGJ yang kini berada di bawah pengawasan Yayasan Asyifa Amalia menjalani pendampingan medis dan psikologis secara bertahap. Mereka juga mulai dikenalkan pada rutinitas hidup sehat dan aktivitas sosial ringan.
Adnan menjelaskan bahwa proses rehabilitasi dimulai dari metode dinafis—yakni pendataan dan identifikasi personal berbasis geometri wajah serta data visual yang kemudian disebarkan lewat media sosial resmi Dinsos Cilegon.
“Beberapa dari mereka sudah mulai bisa diajak bicara, bahkan ada yang mulai mengingat nama keluarganya. Itu titik awal penting,” ujar Adnan.
Identifikasi Lewat Medsos, Sambung Kembali yang Putus
Upaya penelusuran identitas tidak berhenti di dalam ruang rehabilitasi. Dinsos Cilegon juga aktif menyebarluaskan informasi lewat Instagram dan Facebook, dengan harapan ada keluarga atau kerabat yang mengenali.
“Begitu kita temukan titik terang soal identitasnya, kami segera hubungi keluarganya. Targetnya, bukan hanya sembuh, tapi bisa pulang dan diterima kembali di lingkungan sosialnya,” jelasnya.
Dinsos Gandeng Lembaga Peduli
Dalam upaya memperkuat layanan, Dinsos juga menjalin kemitraan dengan SCTV Peduli. Kolaborasi ini meliputi dukungan logistik, penyuluhan, hingga jangkauan informasi ke masyarakat yang lebih luas.
“Ini bukan proyek satu-dua hari. Ini adalah misi kemanusiaan yang kami jalankan dengan sungguh-sungguh,” tegas Adnan.
Mengubah Takdir, Bukan Mengurung
Cerita 11 ODGJ ini menjadi simbol bahwa pemulihan bukanlah hal mustahil, bahkan untuk mereka yang sudah lama terasing dari keluarga dan masyarakat. Di tangan para pekerja sosial dan relawan, mereka diberi kesempatan untuk mengubah takdir.
Cilegon mungkin bukan kota besar, tapi untuk urusan memanusiakan manusia, kota ini sedang memberi contoh.
(Elisa/Red)















