Ulama yang Terkenal di Langit: Kisah Syeh Abuya KH. Abdul Fakkar Al Mathlubi

Oleh : M. Ibrohim Aswadi

Ia dijuluki Ulamanya ulama. Gurunya para guru. Sosok yang tak pernah silau oleh pangkat dunia, tak tergoda oleh ketenaran di bumi, tapi diyakini begitu masyhur di langit. Dialah Syeh Abuya KH. Abdul Fakkar Al Mathlubi, ulama kharismatik dari tanah Banten yang hidup di penghujung abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.

Lahir sekitar tahun 1841 di Kampung Pagebangan, Kubangsari, Ciwandan, Cilegon, dari pasangan KH. Abdurrohman dan Hj. Nyi Aniyah, Abdul Fakkar tumbuh tanpa pendidikan formal. Sejak kecil ia hanya mengenal rumah sebagai madrasah, kobong sederhana sebagai kawah candradimuka, dan orang tuanya sebagai guru pertama.

Namun langkahnya tak berhenti di sana. Menginjak remaja, ia menimba ilmu dari pesantren ke pesantren di tanah Banten dan Jawa. Hingga akhirnya, orang tuanya mengirimkan ia ke Mekkah al-Mukarromah. Di tanah suci, selama sembilan tahun ia berguru kepada ulama besar, termasuk Syeh Nawawi al-Bantani—sahabat dekat ayahandanya.

Di Mekkah pula, ia mendapat gelar tambahan dari para gurunya: Al Mathlubi. Sejak itu, namanya dikenang sebagai Syeh Abuya KH. Abdul Fakkar Al Mathlubi.

Bersahabat dengan Para Ulama Besar

Jejaknya sejajar dengan nama-nama besar: Syeh Abuya Cholil Bangkalan, KH. Asnawi Caringin, Syeh Abdul Karim Tanara, hingga KH. Wasyid, panglima Geger Cilegon. Ia juga bersahabat dengan ulama-ulama muda yang kemudian menjadi pejuang bangsa, seperti KH. Syam’un, KH. Abbas Buntet, dan KH. Abdul Latif Cibeber.

Namun di tengah jaringan ulama besar itu, Abdul Fakkar tetap memilih kesederhanaan. Fan ilmu agama ia kuasai, tapi tauhid menjadi fokus utama yang ia perdalam. Sepanjang hidupnya hanya diisi dengan mengajar, berdakwah, dan berjuang.

Dawuh yang Membekas

Kalimat-kalimatnya sederhana, tapi membekas di hati umat:

“Awas mati ora nggowo iman.”

“Sing akeh eling ning Allah, lan akeh sholawat ning Rasulullah.”

“Masyhur iku tipuan.”

Dari dawuh itulah, orang-orang menyebutnya bapaknya ulama, gurunya para guru.

Menolak Bintang Empat Bung Karno

Sejarah mencatat, selepas Indonesia merdeka, sekitar 1947, Presiden Sukarno mendatanginya diam-diam pada dini hari Jumat. Bung Karno ingin menobatkannya sebagai pahlawan dan menganugerahkan pangkat jenderal penuh bintang empat.

Namun, Abuya Abdul Fakkar menolak halus. “Saya berjuang ikhlas karena Allah dan demi kemerdekaan bangsa. Saya tidak ingin jadi jenderal dunia, tapi jenderal akhirat di hadapan Robb-Nya,” begitu jawaban tawadhu yang ia sampaikan.

Bintang empat pun dikembalikan. Ia memilih tak dikenal di bumi, tapi ingin dikenal di langit.

Jejak Abadi di Banten

Abuya Abdul Fakkar wafat dan dimakamkan di kampung istrinya, Ciruy, Samangraya, Citangkil, Cilegon. Di sana, pesantren kobong salaf yang ia bangun bersama masjid tua masih berdiri hingga kini, diteruskan oleh anak cucu dan murid-muridnya.

Jejaknya bukan sekadar sejarah, tapi warisan spiritual. Seorang wali yang tidak haus pangkat, seorang ulama yang menolak popularitas, seorang guru yang namanya harum bukan karena ingin viral di bumi, melainkan karena sudah viral di langit.

Al-Fatihah… khususon para ulama syuhada pejuang Cilegon dan seluruh Indonesia.

 

Cilegon, 22 September 2025