CILEGON, WILIP.ID — Kegagalan menembus seleksi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kota Cilegon menjadi titik tekan dalam perjalanan Zidan Al Bantani. Di tengah ketatnya persaingan antar penjaga gawang muda, Zidan harus menerima kenyataan tersisih dari daftar pemain yang lolos. Namun, alih-alih menjadi akhir, momentum ini justru membentuk ulang arah dan ambisinya.
Pada Selasa, 7 April 2026, Zidan mencurahkan isi hatinya kepada wilip.id. Ia mengakui bahwa kegagalan tersebut sempat menjadi pukulan, namun tidak membuatnya kehilangan arah. Justru sebaliknya, ia menjadikannya sebagai bahan bakar untuk bangkit dan membuktikan diri.
Kegagalan itu kini menjadi narasi utama yang membingkai langkahnya. Zidan menjadikannya sebagai refleksi—bahwa persaingan di level daerah pun menuntut kesiapan teknis, mental, dan konsistensi yang tidak bisa ditawar. Dari sana, ia memilih tidak berlama-lama menoleh ke belakang.
Zidan kemudian mengalihkan fokus penuh ke Liga TopSkor U-16 musim ini. Kompetisi yang telah memasuki pekan ketujuh itu menyisakan empat pertandingan menuju akhir putaran pertama—fase krusial yang menjadi ruang pembuktian bagi dirinya.
“Gagal di seleksi POPDA jadi pelajaran besar. Sekarang saya ingin membuktikan lewat pertandingan,” ungkapnya.
Catatan prestasi yang pernah diraih Zidan menjadi modal penting. Pada musim sebelumnya, ia berhasil menyabet gelar Best Goalkeeper dalam ajang Liga TopSkor Championship. Namun, musim ini tantangannya meningkat drastis. Ia bermain di kasta tertinggi, menghadapi akademi-akademi elite seperti RMD, ASIOP, FIFA Farmel, Bimba AIUEO, hingga Tajimalela—tim-tim yang dikenal sebagai lumbung talenta muda terbaik di kawasan Jabodetabek dan sekitarnya.
Situasi ini menempatkan Zidan dalam tekanan sekaligus peluang. Di satu sisi, ia harus bersaing lebih keras. Di sisi lain, panggung Liga TopSkor membuka kemungkinan lebih luas dibanding sekadar seleksi daerah.
Pelatih Serang City, Coach Benxs, melihat kegagalan di POPDA bukan sebagai kemunduran, melainkan bagian dari proses pembentukan pemain.
“Target kami memang empat besar, tapi yang lebih penting pemain bisa dilirik oleh klub Elite Pro Academy, bahkan tim nasional,” ujarnya.
Pernyataan itu mempertegas bahwa jalur pembinaan sepak bola usia muda tidak tunggal. Gagal di satu pintu tidak serta-merta menutup peluang di pintu lain—bahkan bisa jadi membuka jalan yang lebih besar.
Bagi Zidan Al Bantani, kegagalan lolos seleksi POPDA Kota Cilegon kini bukan sekadar catatan pahit, melainkan bahan bakar. Di tengah kompetisi yang lebih keras, ia sedang mengubah kegagalan menjadi legitimasi—bahwa dirinya masih layak diperhitungkan, bahkan di level yang lebih tinggi.
(Has/Red*)















