Halal Bihalal Sambil ‘Ngerond’ Catur, Cara Cerdas Percasi Cilegon Rajut Solidaritas Pecinta Olahraga Otak

CILEGON, WILIP.ID – Halal bihalal tak lagi sekadar tradisi saling bermaafan. Di tangan Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Cilegon, momentum pasca-Idulfitri ini disulap menjadi ruang konsolidasi lintas komunitas pecinta catur se-Provinsi Banten, Minggu (12/4/2026), dengan pendekatan yang segar dan inklusif.

Mengusung konsep “ngerond” atau bermain catur santai bersama, kegiatan ini menghadirkan suasana hangat dan cair. Tak hanya diisi dengan silaturahmi formal, para peserta—mulai dari pengurus, atlet, hingga penghobi catur—terlibat langsung dalam adu strategi di atas papan hitam-putih yang sarat makna.

Ketua Percasi Kota Cilegon, Hasan Saidan, menegaskan bahwa kegiatan ini memang dirancang untuk melampaui seremoni biasa. “Halal bihalal ini kami kemas sebagai ajang silaturahmi yang hidup. Bukan hanya saling bermaafan, tetapi juga mempererat koneksi melalui interaksi langsung di papan catur,” ujarnya.

Kehadiran Wakil Gubernur Banten, Ahmad Dimyati Natakusumah, menjadi magnet tersendiri. Ia bahkan turut larut dalam permainan santai bersama peserta, memperlihatkan bahwa catur bukan sekadar olahraga kompetitif, melainkan medium komunikasi sosial yang efektif.

“Ini inisiatif yang patut diapresiasi. Percasi mampu memadukan tradisi halal bihalal dengan olahraga intelektual. Saya berharap kegiatan seperti ini terus digelar untuk memperkuat solidaritas sekaligus memasyarakatkan catur,” kata Dimyati.

Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini membawa pesan strategis: membangun ekosistem olahraga berbasis komunitas yang solid dan berkelanjutan. Catur, dalam konteks ini, menjadi simbol bagaimana strategi, konsentrasi, dan sportivitas dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan sosial yang harmonis.

Dengan dihadiri sejumlah tokoh penting, seperti Kepala UPTD Samsat Cilegon, Ketua Gupura Banten, perwakilan industri, serta jajaran pengurus Percasi, kegiatan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi lintas sektor bisa dimulai dari ruang-ruang sederhana—bahkan dari sebuah papan catur.

Percasi Cilegon tampaknya ingin menegaskan satu hal: menjaga tradisi bisa berjalan beriringan dengan inovasi. Dan dari bidak-bidak kecil di papan catur, lahir langkah besar menuju kebersamaan.

(Has/Red*)