Memuliakan Al-Qur’an, Prof. Hasani Ahmad Said Resmi Jadi Guru Besar UIN Jakarta

JAKARTA, WILIP.ID – Ketekunan, konsistensi, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an mengantarkan Dr. Hasani Ahmad Said, M.A. meraih jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar bidang Tafsir Maqashidi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nama akademisi asal Kota Cilegon, Banten, itu resmi masuk dalam daftar penerima Keputusan Menteri Agama (KMA) Penetapan Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode III Tahun 2025, yang dijadwalkan diserahkan pada 13 Juli 2026 di Jakarta.

Bagi Prof. Hasani, capaian tersebut bukan semata penghargaan akademik, melainkan buah dari perjalanan panjang yang dibangun dengan keyakinan bahwa memuliakan Al-Qur’an akan menghadirkan kemuliaan dalam kehidupan.

“Kalau saya boleh menceritakan pencapaian hari ini, semuanya karena kemuliaan dan memuliakan Al-Qur’an.”

Kalimat itu menjadi benang merah perjalanan intelektualnya selama lebih dari dua dekade mengabdikan diri pada pengembangan ilmu tafsir dan kajian Al-Qur’an.

Berawal dari Lingkungan Pesantren

Lahir di Cilegon pada 21 Februari 1982, Hasani tumbuh dalam tradisi pendidikan Islam. Ia mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah Al-Khairiyah, kemudian memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Salafi Nurul Qamar yang kini dikenal sebagai Pondok Pesantren Banu Al-Qamar.

Lingkungan pesantren itulah yang membentuk kecintaannya terhadap Al-Qur’an sekaligus menjadi fondasi perjalanan akademiknya hingga tingkat tertinggi.

Sejak menyelesaikan pendidikan sarjana, Hasani nyaris tidak pernah berhenti belajar. Ia menuntaskan pendidikan tinggi secara berkesinambungan dengan capaian yang terbilang luar biasa.

Program Sarjana (S1) diselesaikan hanya dalam waktu 3 tahun 4 bulan, program Magister (S2) selama 2 tahun, dan program Doktor (S3) ditempuh dalam 2 tahun 6 bulan.

Rangkaian prestasi tersebut mengantarkannya meraih gelar doktor pada usia 28 tahun, sekaligus tercatat sebagai doktor termuda, tercepat, dan lulusan terbaik Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia juga menjadi lulusan terbaik Pendidikan Kader Mufassir (PKM) Pusat Studi Al-Qur’an.

Produktif Menulis dan Aktif di Forum Internasional

Selepas menyandang gelar doktor, Prof. Hasani terus memperkuat kiprahnya sebagai akademisi melalui riset dan publikasi ilmiah.

Puluhan artikel ilmiah diterbitkan pada jurnal nasional maupun internasional bereputasi, termasuk jurnal terindeks Scopus. Ia juga menulis berbagai buku yang menjadi rujukan dalam studi Al-Qur’an, di antaranya Tafsir Maqasidi, Tafsir Tasawuf, Sejarah Al-Qur’an, Corak Sastra Tafsir Al-Qur’an, hingga Jaringan dan Pembaharuan Ulama Tafsir Nusantara.

Jejak akademiknya juga membawanya mengikuti berbagai program penelitian di luar negeri, mulai dari Universitas Al-Azhar Mesir hingga sejumlah negara di Asia Tenggara, Iran, Turki, Uzbekistan, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa.

Pengalaman internasional tersebut memperkaya perspektifnya dalam mengembangkan kajian tafsir yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan Islam.

Dakwah dan Pengabdian Berjalan Beriringan

Tak hanya dikenal sebagai akademisi, Prof. Hasani juga aktif berdakwah. Ia kerap mengisi kajian keagamaan di televisi nasional, menjadi khatib, imam, narasumber seminar, hingga pembicara pada berbagai forum ilmiah internasional.

Di lingkungan kampus, ia mengabdikan diri sebagai dosen tetap Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi Ilmu Tasawuf dan pengajar pada sejumlah program pascasarjana.

Konsistensi dalam pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi fondasi yang mengantarkannya menyandang jabatan Guru Besar.

Amanah Baru untuk Melahirkan Generasi Mufasir

Bagi Prof. Hasani, jabatan Guru Besar bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memperkuat khazanah keilmuan Al-Qur’an serta mencetak generasi mufasir masa depan.

“Al-Qur’an telah mengantarkan saya menempuh pendidikan, menulis, berdakwah, berkeliling ke berbagai negara, hingga mencapai jabatan Guru Besar. Karena itu, saya meyakini bahwa kemuliaan yang hakiki bukan berasal dari gelar, melainkan dari sejauh mana seseorang memuliakan Kalam Allah.”

Perjalanan Prof. Hasani Ahmad Said menjadi potret bahwa ketekunan menuntut ilmu, disiplin dalam berkarya, dan komitmen memuliakan Al-Qur’an dapat mengantarkan seseorang pada puncak prestasi akademik sekaligus menghadirkan manfaat yang luas bagi umat. Kisah tersebut menjadi inspirasi bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar sarana meraih gelar, melainkan jalan panjang menuju pengabdian.

(Has/Red*)