CILEGON, WILIP.ID — Dukungan terhadap kepemimpinan Ketua PCNU Kota Cilegon, H. Erik Rebiin, kian menguat. Kali ini datang dari organisasi kepemudaan Kaji Muda Banten yang menilai kepemimpinan satu tahun terakhir telah menunjukkan arah yang progresif dan terukur.
Panglima Besar Kaji Muda Banten, M. Ibrohim Aswadi, secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap keberlanjutan kepemimpinan Erik Rebiin. Ia menilai, dalam waktu relatif singkat, PCNU Cilegon mampu bergerak lebih dinamis, terutama dalam membangun fondasi kaderisasi dan memperkuat struktur organisasi hingga ke tingkat bawah.
“Baru satu tahun, tapi dampaknya sudah terasa. Struktur organisasi hidup sampai ke kecamatan. Ini bukan kerja biasa, ini kerja serius membangun fondasi,” kata Ibrohim dalam keterangannya, Sabtu 25 April 2026.
Menurutnya, pengkaderan yang dilakukan secara masif menjadi salah satu indikator keberhasilan. Basis kader Nahdlatul Ulama (NU) di Cilegon dinilai semakin meluas, seiring meningkatnya partisipasi generasi muda dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.
Tak hanya itu, konsolidasi internal organisasi juga disebut mengalami penguatan signifikan. Hubungan antar struktur, dari tingkat cabang hingga ranting, kini dinilai lebih solid dan terorganisir. Sinergi antar badan otonom (Banom) seperti GP Ansor, Fatayat, Muslimat, hingga IPNU-IPPNU pun semakin terlihat nyata dalam berbagai program bersama.
“Ini yang sebelumnya sulit, sekarang mulai terbangun. Banom jalan bareng, kegiatan hidup, dan masyarakat merasakan kehadiran NU,” ujarnya.
Di sisi lain, intensitas kegiatan sosial-keagamaan juga mengalami peningkatan. Mulai dari pengajian rutin, pelatihan kader, hingga gerakan sosial kemasyarakatan yang menyasar langsung kebutuhan warga.
Namun, bukan hanya kerja-kerja internal yang mendapat sorotan. Ibrohim menilai Erik Rebiin juga piawai menjaga keseimbangan antara konsolidasi organisasi dan relasi eksternal. Silaturahmi dengan ulama, pesantren, lembaga, hingga pemerintah dinilai menjadi kunci dalam memperkuat posisi NU di tengah masyarakat.
“Beliau tidak hanya membangun ke dalam, tapi juga keluar. Itu penting untuk menjaga eksistensi dan pengaruh organisasi,” tegasnya.
Lebih jauh, Ibrohim menyoroti visi besar yang diusung Erik Rebiin: mengembalikan identitas Cilegon sebagai kota santri. Di tengah kuatnya karakter sebagai kota industri, gagasan ini dinilai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan nilai-nilai religius.
“Cilegon ini kota industri, tapi jangan kehilangan ruhnya. Konsep kota santri yang diusung beliau itu penting, bagaimana ulama, umaro, santri, dan dunia industri bisa berjalan beriringan,” jelasnya.
Ia juga melihat adanya peningkatan “ghiroh” atau semangat kader NU yang dinilai lebih hidup dibanding sebelumnya. Bagi Kaji Muda Banten, hal ini bukan sekadar capaian program, melainkan tanda kebangkitan ruh organisasi.
“Ada semangat baru. Ini bukan hanya kegiatan, tapi gerakan. Dan itu terasa di lapangan,” katanya.
Atas dasar itu, Kaji Muda Banten menilai keberlanjutan kepemimpinan menjadi hal krusial. Konsistensi dinilai sebagai kunci agar program-program yang telah berjalan tidak terhenti di tengah jalan.
“Kami ingin yang sudah baik ini dilanjutkan. Jangan sampai terputus. NU Cilegon harus terus tumbuh, modern, tapi tetap berakar kuat pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah,” pungkasnya.
Dukungan ini menjadi sinyal bahwa dinamika internal organisasi keagamaan di Kota Cilegon tengah bergerak ke arah konsolidasi yang lebih matang. Di tengah tantangan zaman dan kompleksitas masyarakat industri, NU dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga tetap teguh menjaga identitas dan nilai-nilai dasarnya.
(Has/Red*)















