SSB Citra Pertanyakan Diskualifikasi, Manajemen dan Orang Tua Pemain Soroti Keputusan Panitia

0-0x0-0-0#

CILEGON, WILIP.ID – Polemik diskualifikasi SSB Citra U-12 dalam ajang Piala Presiden tingkat Kota Cilegon terus bergulir. Setelah sebelumnya dinyatakan sebagai juara usai menang telak 4-0 di partai final, status tim tersebut mendadak berubah setelah panitia menjatuhkan sanksi diskualifikasi akibat persoalan administrasi pemain.

Manajer SSB Citra U-12, Uung Rosdiana, menegaskan pihaknya menerima jika terdapat kesalahan administratif dalam proses pendaftaran pemain. Namun, ia keberatan jika kesalahan tersebut dikategorikan sebagai pemalsuan data atau pencurian umur.

“Kami tidak pernah memalsukan data pemain. Semua dokumen asli, mulai dari akta kelahiran, kartu keluarga hingga KIA. Yang terjadi hanya kesalahan pemasangan foto pada buku identitas pemain,” kata Uung, Senin, 1 Mei 2026 dalam konferensi pers.

Menurutnya, dalam statuta dan manual pertandingan terdapat aturan yang mengatur bentuk pelanggaran maupun dasar pemberian sanksi kepada tim peserta. Karena itu, pihaknya mempertanyakan keputusan diskualifikasi yang dinilai tidak sesuai dengan hasil pembahasan dalam forum musyawarah.

Uung mengungkapkan, dalam rapat yang dihadirinya setelah pertandingan final, sempat disampaikan bahwa status juara pertama SSB Citra dibatalkan dan digeser menjadi juara kedua. Sementara posisi juara pertama diberikan kepada Duta Junior sebagai lawan di partai final.

Namun, saat pengumuman resmi dilakukan, keputusan yang disampaikan justru berbeda.

“Dalam rapat yang kami ikuti, hasilnya Citra turun menjadi juara dua. Tetapi saat diumumkan ke publik, Citra justru didiskualifikasi dan tidak mendapatkan posisi juara sama sekali,” ujarnya.

Keputusan tersebut menimbulkan tanda tanya bagi manajemen tim. Sebab, jika SSB Citra didiskualifikasi, menurut mereka seharusnya terdapat mekanisme yang jelas mengenai penentuan peringkat berikutnya berdasarkan regulasi kompetisi.

Mereka juga mempertanyakan dasar penetapan tim yang naik peringkat setelah diskualifikasi dijatuhkan.

“Kalau memang ada diskualifikasi, seharusnya mekanismenya jelas. Karena yang kalah dari Duta di semifinal berbeda dengan yang kalah dari Citra. Itu yang menjadi pertanyaan kami,” kata Uung.

Selain mempermasalahkan keputusan panitia, manajemen SSB Citra juga membantah keras tudingan yang beredar di media sosial terkait pencurian umur pemain.

Menurut Uung, seluruh pemain yang diturunkan telah melalui proses verifikasi dan memiliki dokumen kependudukan yang sah.

“Kalaupun ada persoalan, itu hanya terkait foto yang tidak sesuai dengan pemain yang bertanding. Bukan pencurian umur. Semua usia pemain sesuai aturan karena kami membawa data asli,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pada hari pertandingan seluruh orang tua pemain juga membawa dokumen asli sebagai bentuk kesiapan apabila sewaktu-waktu dilakukan pemeriksaan ulang oleh panitia.

Kekecewaan juga datang dari para orang tua pemain. Salah satunya disampaikan Nursidik yang menilai keputusan tersebut berdampak langsung terhadap kondisi psikologis anak-anak yang telah berjuang sepanjang turnamen.

Menurutnya, para pemain berhasil meraih kemenangan secara sportif di lapangan dan menunjukkan permainan yang baik hingga menutup final dengan skor meyakinkan 4-0.

“Saya jujur kecewa. Yang paling saya pikirkan adalah mental anak-anak. Mereka sudah berjuang, sudah menang di lapangan, lalu tiba-tiba hasilnya berubah. Anak-anak tentu bertanya-tanya,” katanya.

Nursidik mengaku sempat kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan anaknya terkait keputusan tersebut.

“Bahkan ada anak yang bertanya, kok yang mencetak gol banyak justru tidak menang? Saya bingung harus menjelaskan seperti apa,” ujarnya.

Menurut dia, jika memang terdapat pelanggaran yang dianggap fatal, seharusnya persoalan itu diselesaikan sebelum kompetisi berjalan atau sebelum tim melangkah hingga partai final.

“Kalau memang mau didiskualifikasi, kenapa tidak dari awal? Jangan setelah anak-anak berjuang sampai final lalu keputusannya berubah,” katanya.

Lebih lanjut, pihak SSB Citra menilai dampak terbesar dari polemik ini bukan semata soal gelar juara, melainkan menyangkut nama baik klub dan pembinaan pemain usia dini yang selama ini mereka bangun.

Mereka mengaku keberatan dengan narasi yang berkembang di media sosial yang menyebut adanya pencurian umur dan manipulasi data pemain.

“Yang paling kami sesalkan adalah nama baik SSB Citra menjadi tercoreng. Seolah-olah kami melakukan kecurangan, padahal tidak ada pencurian umur maupun pemalsuan identitas,” kata Uung.

Menurutnya, target utama SSB Citra bukan semata mengejar trofi atau tiket menuju tingkat provinsi, melainkan membentuk karakter dan mengembangkan kemampuan sepak bola anak-anak.

“Filosofi kami adalah mencetak pemain. Soal juara itu bonus. Kalau bisa mewakili Kota Cilegon ke tingkat provinsi tentu membanggakan, tetapi yang paling penting adalah proses pembinaan anak-anak,” ujarnya.

Karena itu, pihak manajemen dan orang tua berharap polemik tersebut dapat diselesaikan secara transparan dan adil. Mereka juga meminta adanya klarifikasi resmi agar tidak muncul stigma negatif terhadap para pemain maupun klub.

“Kami hanya ingin keadilan untuk anak-anak. Jangan sampai kejadian ini menjadi contoh yang tidak baik bagi pembinaan sepak bola usia dini di Kota Cilegon,” pungkasnya.

(Has/Red*)