Sosial  

Nasib Pilu Sang Pendekar: 4 Tahun Supriyadi Terbaring Lemah, Menanti Kawan Seperjuangan Datang Menjenguk

CILEGON, WILIP.ID – Ada masa ketika Supriyadi selalu berada di tengah riuhnya dunia persilatan di Kota Cilegon. Ia hadir dalam kegiatan, berkumpul dengan para pendekar, dan bersama sahabat-sahabatnya ikut membesarkan dunia pencak silat sejak era 1990-an.

Kini, keadaan itu tinggal kenangan.

Supriyadi yang dulu dikenal aktif dan selalu hadir dalam berbagai kegiatan, kini lebih banyak menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur. Sudah sekitar empat tahun ia terbaring lemah setelah mengalami stroke.

Tubuh yang dahulu begitu kuat dan aktif, kini tak lagi mampu membawanya menemui kawan-kawan seperti dulu.

Malam itu, salah seorang sahabat baik sekaligus sahabat seperjuangannya, Zainal Abidin, datang menjenguk.

Kunjungan sederhana itu membawa kembali ingatan tentang masa lalu. Masa ketika mereka bersama-sama melewati suka dan duka, ikut membesarkan dunia persilatan di Kota Cilegon.

“Alhamdulillah, malam ini saya bisa menjenguk kawan lama saya. Dulu kami bersama-sama, melewati suka dan duka untuk membesarkan dunia persilatan di Kota Cilegon. Sekarang Kang Supri terbaring lemah karena sakit stroke,” ujar Zainal, Senin malam, 10 Agustus 2026.

Ada kesedihan dalam pertemuan itu.

Sahabat yang dulu bisa ditemui di berbagai acara kini hanya bisa terbaring. Sosok yang dahulu ikut bergerak bersama kawan-kawannya kini harus menjalani hari dalam keterbatasan.

Zainal berharap kawan-kawan seperjuangan Supriyadi tidak melupakan sahabat lama mereka.

“Semoga teman-teman yang lain juga bisa menjenguk. Tidak perlu apa-apa, kehadiran teman-teman saja sudah lebih dari cukup untuk memberikan semangat kepada Kang Supri,” katanya.

Bagi Zainal, menjenguk Supriyadi bukan sekadar bertamu. Ada persaudaraan lama yang perlu kembali dirawat.

Sebab selama bertahun-tahun, mereka pernah berdiri di tempat yang sama. Berjalan bersama, menghadiri kegiatan bersama, tertawa bersama, dan melewati berbagai cerita dalam perjalanan dunia persilatan.

Kini, satu di antara mereka sedang terbaring.

Dan mungkin yang paling dibutuhkan bukan sesuatu yang besar.

Hanya sebuah kunjungan.

Sebuah sapaan.

Sebuah genggaman tangan.

Atau sekadar duduk di sampingnya sembari berkata, “Kang Supri, kami masih ingat dan tidak melupakanmu.”

Empat tahun adalah waktu yang panjang untuk dilalui dalam kesunyian.

Selama itu pula Supriyadi tak lagi bisa hadir di tengah kawan-kawannya seperti dahulu. Tak ada lagi langkahnya menuju arena. Tak ada lagi sosoknya dalam keramaian acara. Tak ada lagi obrolan panjang bersama sahabat seperjuangan.

Yang tersisa adalah kenangan.

Dan harapan agar persaudaraan yang pernah mereka bangun tidak ikut terbaring bersama tubuh Supriyadi.

Dulu, ketika kawan-kawan berkumpul, Supriyadi selalu berusaha hadir.

Kini keadaan berbalik.

Ketika kaki Supriyadi sudah tak mampu membawanya menemui kawan, mungkinkah kaki-kaki para sahabatnya masih mau melangkah datang menemuinya?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Supriyadi, sebuah kunjungan bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Karena orang yang sedang sakit tidak selalu membutuhkan banyak kata.

Terkadang, ia hanya ingin tahu bahwa dirinya masih diingat.

Bahwa perjuangannya dahulu tidak sia-sia.

Bahwa kawan-kawan yang pernah berjalan bersamanya masih ada.

Dan bahwa setelah bertahun-tahun terbaring, ia tidak sedang menghadapi semuanya seorang diri.

Supriyadi mungkin sudah tak mampu lagi berdiri di tengah kawan-kawannya. Tetapi jangan biarkan ia merasa berdiri sendirian dalam sunyi.

(Has/Red*)