CILEGON, WILIP.ID — Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda belum sepenuhnya reda. Status gunung masih berada di Level III (Siaga), sementara potensi erupsi dalam beberapa waktu ke depan dinilai masih tinggi.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi masyarakat pesisir Banten, termasuk Kota Cilegon.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Cilegon, Fathurrohman, mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, terutama jika terjadi paparan abu vulkanik.
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker dan pelindung mata, serta mengurangi aktivitas di luar apabila abu vulkanik mulai menyebar.
Berdasarkan evaluasi PVMBG per 7 September 2026, Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi strombolian. Sebelumnya, erupsi menerus berlangsung selama sekitar 25 jam, sejak 4 September hingga 6 September 2026.
Ancaman bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Jika erupsi menerus kembali terjadi, potensi aliran lava juga tetap ada.
Meski demikian, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tidak panik dan tidak mempercayai isu yang tidak bersumber dari otoritas resmi, termasuk kabar mengenai tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau.
Bagi warga Cilegon, pesan mitigasinya sederhana: tetap beraktivitas dengan waspada, gunakan masker dan pelindung mata saat terpapar abu, serta ikuti arahan BPBD dan informasi resmi PVMBG.
Gunung Anak Krakatau saat ini juga masih menerapkan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Jangan panik, tapi jangan lengah.
(Has/Red*)















