Buka Warung Kopi 5 Jari, TTKKBI Perkuat Silaturahmi Antarperguruan Silat Banten

CILEGON, WILIP.ID — Secangkir kopi menjadi pintu pertemuan. Dari sebuah tempat yang berada di kawasan menanjak dengan panorama Kota Cilegon, silaturahmi antarpegiat pencak silat kembali dirajut.

Suasana itu terasa dalam pembukaan Warung Kopi 5 Jari milik H. Ahyadi Yusuf, Pembina TTKKBI DPC Purwakarta, yang berlokasi di Lingkungan Pecinan, Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, Minggu malam, 20 September 2026.

Lokasinya sedikit menanjak, namun justru menyuguhkan lanskap Kota Cilegon yang asri. Warung kopi tersebut diharapkan bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, tetapi juga menjadi ruang bertemu, berbincang dan mempererat hubungan antarkomunitas.

Acara tersebut juga dirangkai dengan doa bersama dan gembrung budaya yang diinisiasi pengurus TTKKBI DPC Purwakarta. Kegiatan mengusung tema “Silaturahmi Ratakan”, sebagai pesan untuk memperluas dan meratakan jalinan persaudaraan antarperguruan pencak silat serta masyarakat.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Camat Purwakarta H. Suadilah, Lurah Pabean Buhori, jajaran RT/RW Lingkungan Pecinan, Kelurahan Pabean, serta Owner Warung Kopi 5 Jari yang juga Pembina TTKKBI DPC Purwakarta, H. Ahyadi Yusuf.

Momentum tersebut turut dimanfaatkan TTKKBI atau Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia untuk meneguhkan komitmen membangun silaturahmi dan memperkuat persatuan antarperguruan pencak silat di Banten.

Ketua Umum DPP TTKKBI, H. Tb. Arif Hidayat, mengatakan silaturahmi merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan pencak silat sekaligus seni budaya Banten.

Menurut Arif, TTKKBI ingin menjadi ruang bersama bagi berbagai aliran dan perguruan pencak silat. Perbedaan aliran, kata dia, tidak semestinya menjadi sekat, tetapi dapat menjadi kekayaan yang memperkuat persaudaraan.

“TTKKBI selalu mengedepankan silaturahmi, khususnya dalam pembinaan pencak silat. Kita mewadahi seluruh perguruan, baik aliran Cimande, Terumbu, Bandrong maupun yang lainnya,” kata Arif.

Pesan itu menjadi penting di tengah beragamnya perguruan pencak silat yang tumbuh di Banten. Setiap perguruan memiliki tradisi, karakter dan sejarah masing-masing. Namun, seluruhnya memiliki akar yang sama: menjaga seni bela diri dan warisan budaya yang diturunkan para leluhur.

Karena itu, TTKKBI mendorong agar keberagaman tersebut tidak menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, perbedaan diharapkan menjadi energi untuk membangun komunikasi dan persaudaraan yang lebih kuat.

“Intinya adalah silaturahmi. Kita ingin menjaga dan menyatukan setiap perguruan,” ujar Arif.

Pembukaan Warung Kopi 5 Jari menjadi gambaran bagaimana sebuah ruang sederhana dapat memiliki fungsi lebih luas. Di tempat seperti inilah obrolan dapat berkembang menjadi gagasan, pertemuan berubah menjadi silaturahmi, dan silaturahmi dapat melahirkan kolaborasi.

Kehadiran doa bersama dan gembrung budaya semakin memperkuat nuansa tersebut. Tradisi dan kebersamaan dipertemukan dalam satu ruang, dengan pencak silat dan budaya Banten sebagai salah satu titik temunya.

Bagi TTKKBI, pembinaan pencak silat tidak cukup hanya dilakukan melalui latihan fisik. Ada nilai persaudaraan, budaya dan penghormatan terhadap tradisi yang juga harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Semangat itu sejalan dengan perkembangan TTKKBI yang kini disebut telah menembus delapan provinsi. Organisasi yang baru berusia sekitar tiga tahun tersebut terus memperluas jaringan ke sejumlah daerah di Indonesia.

Arif menyebut Bali, Jawa Tengah, Kalimantan dan Riau menjadi sejumlah wilayah yang masuk dalam rencana pengembangan TTKKBI ke depan.

Namun, perluasan jaringan tersebut bukan semata-mata tentang bertambahnya struktur organisasi.

Lebih dari itu, TTKKBI ingin memperluas ruang persaudaraan. Semakin banyak perguruan dan daerah yang terhubung, semakin luas pula ruang untuk menjaga silaturahmi dan melestarikan budaya.

Dewan Penasihat TTKKBI DPW II Kota Cilegon, Jubaidi Abdul Jabar, yang akrab disapa Kang Bedi, menilai Warung Kopi 5 Jari dapat menjadi ruang untuk membangun silaturahmi sekaligus mencari inspirasi.

Menurutnya, keberadaan ruang seperti itu penting untuk mempertemukan masyarakat, khususnya generasi muda, dengan nilai-nilai budaya yang mulai menghadapi tantangan zaman.

“Kang Bedi Cafe Lima Jari adalah tempat untuk silaturahmi dan mencari inspirasi,” kata Jubaidi.

Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut mengambil peran dalam menjaga seni budaya Banten.

“Kepada para pemuda, anak-anak, penerus ataupun generasi bangsa, mari bersama-sama melestarikan, mengembangkan dan menjaga seni budaya pencak silat dan debus,” ujarnya.

Jubaidi mengingatkan pencak silat dan debus bukan sekadar tontonan. Keduanya merupakan bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dan diturunkan kepada generasi berikutnya.

“Karena itu warisan yang harus kita jaga dan harus kita turunkan kepada anak cucu kita. Jangan sampai punah, jangan sampai padam, jangan sampai hilang ditelan masa,” tegasnya.

Dari Lingkungan Pecinan, Kelurahan Pabean, pesan “Silaturahmi Ratakan” menjadi benang merah kegiatan tersebut.

Berbeda perguruan bukan berarti berbeda tujuan. Beragam aliran bukan alasan untuk membuat jarak.

Secangkir kopi mungkin hanya menghangatkan tangan. Tetapi dari meja yang sama, silaturahmi bisa menghangatkan persaudaraan.

Dan bagi TTKKBI, persaudaraan itulah yang menjadi modal untuk menjaga pencak silat dan budaya Banten tetap hidup, berkembang dan diwariskan kepada generasi mendatang.

(Alfa/Red*)