CILEGON, WILIP.ID – Tradisi bisa bertahan selama masih ada orang yang merawatnya. Namun, untuk membuatnya dikenal lebih luas, tradisi membutuhkan ruang, gagasan, dan keberanian untuk membawanya keluar dari lingkungan tempat ia tumbuh.
Itulah yang tercermin dalam perjalanan lomba ngemping di Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon. Sebuah keterampilan sederhana mengolah buah melinjo menjadi emping, yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, perlahan menjelma menjadi atraksi budaya sekaligus identitas kuliner daerah.
Di balik lahirnya gagasan tersebut, ada nama Nurul Hadiyati, yang akrab disapa Bu Nurul. Saat menjabat sebagai Lurah Pabean, ia melihat tradisi membuat emping bukan sekadar aktivitas produksi rumah tangga. Di dalamnya terdapat keterampilan turun-temurun, ketekunan perempuan, serta potensi ekonomi dan kebudayaan yang layak mendapat perhatian lebih besar.
Gagasan itu mulai menemukan bentuk pada 2022–2023. Nurul melihat Pabean memiliki modal sosial dan budaya yang cukup kuat untuk dikembangkan. Selain kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan tradisi lokal, wilayah ini juga dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil emping melinjo di Kota Cilegon.
Pada Juni 2022, tercatat puluhan perajin emping di wilayah Pabean. Produksi mereka mencapai belasan kuintal setiap pekan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa emping bukan sekadar kudapan tradisional, melainkan bagian dari denyut ekonomi masyarakat, terutama rumah tangga yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan produksi tersebut.
Bagi Nurul, potensi itu tidak seharusnya berhenti di dapur-dapur produksi. Pabean perlu memiliki identitas yang dapat dikenali masyarakat luas. Tradisi membuat emping harus memperoleh ruang apresiasi, bukan hanya dipandang sebagai pekerjaan sehari-hari.
Momentum pengembangan tersebut semakin terbuka setelah Pabean ditetapkan sebagai Desa Budaya melalui SK Wali Kota Cilegon Nomor 140/Kep.281-Dindik/2022.
Penetapan itu menjadi pijakan untuk mengembangkan kekayaan budaya yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat. Nurul kemudian membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, pelaku seni, tokoh agama, serta berbagai unsur warga. Tujuannya, merumuskan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mampu menghidupkan tradisi lokal.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui sejumlah kegiatan konkret. Pada 2023, pembangunan Balai Budaya Pabean mulai dilakukan sebagai ruang bagi masyarakat untuk merawat, menampilkan, dan mengembangkan kesenian maupun tradisi setempat.
Ruang budaya itu menjadi penting. Sebab, tradisi tidak cukup hanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia juga membutuhkan panggung agar masyarakat dapat mengenali, menghargai, dan mengembangkannya.
Dari Dapur Produksi ke Panggung Perlombaan
Titik penting perjalanan gagasan Nurul terjadi pada 27 Desember 2023. Kelurahan Pabean menggelar Pagelaran Seni dan Budaya dengan menghadirkan sejumlah perlombaan tradisional. Ada lomba rudat, membuat kue tradisional, permainan tradisional, hingga lomba ngemping.
Masuknya lomba ngemping dalam agenda tersebut menjadi langkah yang tidak biasa. Aktivitas yang selama ini identik dengan pekerjaan rumahan dibawa ke ruang publik sebagai sebuah kompetisi.
Proses membuat emping yang selama ini berlangsung di lingkungan perajin kini dapat disaksikan sebagai pertunjukan keterampilan. Ketangkasan tangan, ketepatan memukul melinjo, hingga kemampuan menghasilkan emping menjadi bagian dari daya tarik perlombaan.
Di sinilah gagasan pelestarian budaya menemukan bentuknya. Ngemping tidak lagi sekadar proses mengolah bahan pangan, tetapi diperkenalkan sebagai keterampilan tradisional yang memiliki nilai budaya.
Lebih jauh, kegiatan tersebut memberi ruang bagi para perajin untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini mungkin hanya dikenal di lingkungan mereka sendiri. Tradisi yang semula berlangsung secara domestik mulai memperoleh pengakuan di ruang sosial yang lebih luas.
Bagi masyarakat Pabean, lomba ngemping juga menjadi kesempatan untuk mengenali kembali potensi daerahnya. Sementara bagi para pelaku usaha, kegiatan itu membuka peluang memperkenalkan produk emping kepada pengunjung dan khalayak yang lebih luas.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Dari Pabean Menuju Panggung Kota Cilegon
Gagasan itu tidak berhenti pada satu kali penyelenggaraan. Pada 2024, lomba ngemping kembali menjadi bagian dari Pagelaran Seni dan Budaya Pabean.
Panggungnya kemudian semakin luas. Dalam Cilegon Expo 2024 di Alun-alun Kota Cilegon, 3 Mei 2024, kontes emping turut dihadirkan sebagai bagian dari promosi potensi lokal. Sebanyak 18 peserta mengikuti lomba ketangkasan membuat emping yang digagas melalui keterlibatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pabean yang di ketuai oleh saudara Hasidi.
Perkembangan ini menandai perubahan penting. Ngemping mulai bergerak dari kegiatan masyarakat di tingkat kelurahan menuju agenda promosi budaya di tingkat kota.
Ada pesan yang hendak disampaikan melalui perlombaan tersebut: produk lokal tidak harus selalu diperkenalkan melalui kemasan dan transaksi perdagangan. Proses pembuatannya pun dapat menjadi daya tarik tersendiri.
Emping memiliki dua wajah yang saling melengkapi. Di satu sisi, ia merupakan produk kuliner dengan nilai ekonomi. Di sisi lain, proses pembuatannya menyimpan pengetahuan tradisional yang diwariskan antargenerasi.
Ketika kedua aspek itu dipertemukan, emping tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga nilai cerita. Dan cerita itulah yang membuat sebuah produk lokal mempunyai identitas.
Banten Ngemping 2026, Tradisi Mendapat Panggung Lebih Luas
Perjalanan panjang tersebut kini menemukan ruang yang lebih besar melalui penyelenggaraan Banten Ngemping 2026 pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Event ini menjadi penanda bahwa tradisi ngemping telah berkembang melampaui batas kegiatan perlombaan di tingkat kelurahan. Dari Pabean, keterampilan mengolah melinjo kini diperkenalkan dalam panggung yang membawa nama Banten.
Perkembangan itu sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan lokal dapat tumbuh menjadi agenda promosi kebudayaan dan kuliner daerah.
Tentu, keberhasilan pelestarian tradisi tidak cukup diukur dari seberapa meriah perlombaan diselenggarakan. Hal yang jauh lebih penting adalah sejauh mana kegiatan tersebut memberi manfaat bagi masyarakat, menjaga keberlanjutan keterampilan para perajin, serta membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha emping.
Di titik inilah perjalanan lomba ngemping Pabean memiliki arti lebih luas. Tradisi tidak hanya dijadikan tontonan sesaat, tetapi berpotensi menjadi bagian dari penguatan identitas daerah.
Jejak gagasan Nurul Hadiyati menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut. Ia melihat sesuatu yang selama ini dianggap biasa oleh masyarakat, kemudian mendorongnya menjadi kegiatan yang memiliki nilai budaya dan daya tarik publik.
Sebab, melestarikan tradisi bukan semata-mata mempertahankan apa yang diwariskan masa lalu. Pelestarian juga berarti memberikan ruang agar warisan itu tetap relevan dengan kehidupan masa kini.
Dari tangan para perajin di Pabean, emping melinjo telah melewati perjalanan panjang. Dari dapur produksi, masuk ke arena perlombaan, tampil dalam festival budaya, hingga memperoleh panggung dalam Banten Ngemping 2026.
Sebuah perjalanan yang memperlihatkan bahwa identitas daerah terkadang tumbuh dari hal-hal sederhana yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
Dan di balik tradisi yang kini semakin dikenal itu, ada sebuah gagasan: bahwa sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, jika dirawat dan diberi ruang, dapat menjadi kebanggaan bersama.
(Has/Red*)















