CILEGON, WILIP.ID – Di tengah pesatnya geliat industri dan aktivitas pelabuhan di Kecamatan Pulomerak, masih ada persoalan mendasar yang belum juga terpecahkan. Warga Lingkungan Jelawe, Kelurahan Suralaya, hingga kini masih bergelut dengan krisis air bersih yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Bagi masyarakat Jelawe, mendapatkan air layak pakai bukan lagi sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan perjuangan yang harus dilakukan setiap hari. Air bersih untuk minum, mandi, mencuci hingga kebutuhan rumah tangga lainnya semakin sulit diperoleh.
Kondisi tersebut diperparah saat musim kemarau tiba. Banyak sumur milik warga mengering, sementara sebagian lainnya menghasilkan air yang keruh, berbau, bahkan terasa asin sehingga tidak layak dikonsumsi.
Diduga, penurunan muka air tanah, intrusi air laut, serta belum terjangkaunya jaringan distribusi air bersih menjadi faktor utama yang menyebabkan krisis tersebut terus berlarut.
Akibatnya, sebagian besar warga terpaksa membeli air bersih menggunakan mobil tangki dengan biaya yang tidak sedikit. Di sisi lain, pasokan air tangki juga tidak selalu tersedia sehingga masyarakat harus mengantre atau mencari sumber air ke wilayah lain.
Ketua RT Jelawe, M. Amin, saat dikonfirmasi mengatakan persoalan air bersih menjadi keluhan utama masyarakat yang hingga kini belum memperoleh penyelesaian secara menyeluruh.
“Kami berharap persoalan ini segera mendapat solusi nyata. Warga membutuhkan bantuan dari pemerintah maupun perusahaan-perusahaan industri di sekitar agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi,” ujarnya, Minggu 19 Juli 2026.
Menurutnya, selama ini warga telah berupaya secara mandiri mengatasi persoalan tersebut. Mulai dari memperdalam sumur bor, membuat penyaringan air sederhana hingga bergotong royong mencari sumber air alternatif. Namun berbagai upaya itu belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara permanen.
Keluhan juga telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga dinas terkait di Pemerintah Kota Cilegon. Namun hingga kini warga masih menunggu langkah konkret yang dapat mengakhiri krisis air bersih di wilayah mereka.
Dampak dari minimnya akses air bersih tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi karena meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk membeli air. Kondisi tersebut juga berpotensi mengancam kesehatan masyarakat. Penggunaan air yang tidak memenuhi standar kebersihan berisiko memicu penyakit kulit, gangguan pencernaan hingga berbagai penyakit lainnya, terutama bagi balita dan lanjut usia.
Salah seorang warga Jelawe, Tini, berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar masyarakat tidak terus hidup dalam keterbatasan air bersih.
“Kami berharap pemerintah segera membangun jaringan pipa air bersih, menyediakan sumur umum yang layak, serta melakukan pengawasan terhadap dampak aktivitas industri di sekitar Suralaya. Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat dan sudah seharusnya mudah diakses oleh semua warga,” katanya.
Di tengah keberadaan kawasan industri strategis nasional yang mengelilingi wilayah Suralaya, masyarakat berharap persoalan air bersih tidak lagi dipandang sebagai masalah biasa. Akses terhadap air bersih merupakan hak dasar setiap warga negara yang semestinya menjadi prioritas pembangunan.
Kini, warga Jelawe menunggu komitmen nyata pemerintah daerah bersama perusahaan-perusahaan industri untuk menghadirkan solusi permanen, sehingga masyarakat tidak lagi hidup dalam bayang-bayang krisis air bersih yang telah berlangsung terlalu lama.
(Has/Red*)















