SERANG, WILIP.ID – Pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Nusantara Jaya Provinsi Banten, Minggu (19/7/2026), menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pelestarian seni budaya Islam di Tanah Jawara. Organisasi ini diharapkan mampu menjadi ruang kolaborasi berbagai elemen masyarakat dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya Islam di tengah perubahan zaman.
Acara pelantikan dihadiri tokoh agama, budayawan, akademisi, hingga perwakilan Pemerintah Provinsi Banten. Selain menjadi penanda dimulainya kepengurusan baru, forum tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai tantangan pelestarian qasidah, hadrah, marawis, gambus, dan berbagai kesenian Islam yang kini menghadapi persaingan budaya populer.
Ketua DPW LASQI Nusantara Jaya Provinsi Banten, Hj. Ade Yuliasih, SH., M.Kn, menegaskan bahwa kepengurusan yang dibentuk berasal dari berbagai latar belakang profesi, organisasi kemasyarakatan, hingga unsur politik. Menurutnya, keberagaman tersebut merupakan modal besar untuk membangun organisasi yang inklusif.
“LASQI adalah rumah besar seni budaya Islam. Tidak ada sekat politik maupun golongan. Yang menyatukan kita adalah kecintaan terhadap budaya Islam dan semangat mengabdi kepada masyarakat,” kata Ade dalam sambutannya.
Ia menegaskan, pelantikan bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk menghadirkan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Ade, setiap pengurus memiliki peran yang sama pentingnya dalam membesarkan organisasi, baik melalui tenaga, gagasan, jejaring, maupun dukungan lainnya.
“Organisasi tidak akan berkembang kalau hanya bergantung kepada satu atau dua orang. Semua harus bergerak sesuai kapasitasnya agar LASQI benar-benar hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ade juga menekankan pentingnya membangun sinergi dengan pemerintah daerah, Kementerian Agama, pondok pesantren, lembaga pendidikan, hingga organisasi kemasyarakatan.
Ia mengungkapkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten telah membuka peluang kerja sama dengan LASQI untuk menjalankan berbagai program pelestarian budaya.
“Kalau seluruh DPD di kabupaten dan kota mampu membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah daerah, saya optimistis program LASQI akan berkembang dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tuturnya.

Budaya Menjadi Benteng Identitas Bangsa
Ketua Umum DPP LASQI Nusantara Jaya, KH Jazilul Fawaid, mengatakan tantangan pelestarian budaya saat ini semakin kompleks. Menurutnya, ancaman terhadap identitas bangsa tidak lagi hanya datang melalui aspek ekonomi maupun politik, tetapi juga melalui dominasi budaya global.
“Kalau sebuah bangsa sudah tidak bangga terhadap budayanya, makanannya, keseniannya, maka sesungguhnya bangsa itu sedang dijajah secara budaya,” ujarnya.
Ia menilai generasi muda perlu kembali diperkenalkan dengan seni budaya Islam melalui pendekatan yang lebih kreatif dan mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Bukan qasidahnya yang kalah. Yang harus kita perbaiki adalah cara mengemas dan mempromosikannya. Kalau disajikan dengan menarik, generasi muda akan bangga karena itu bagian dari identitas bangsa,” katanya.
Jazilul berharap LASQI mampu menjadi ruang kaderisasi sekaligus wadah lahirnya inovasi agar seni budaya Islam tetap hidup dan diterima lintas generasi.

Ekspresi Budaya Banten Masih Perlu Diperkuat
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Rohendi, menyebut tantangan pembangunan kebudayaan di Banten bukan karena minimnya warisan budaya, melainkan rendahnya pencatatan aktivitas budaya masyarakat.
Menurutnya, berdasarkan Indeks Pembangunan Kebudayaan, posisi Banten masih berada di bawah rata-rata nasional, terutama pada indikator ekspresi budaya.
“Warisan budaya kita sebenarnya sangat kaya, baik benda maupun tak benda. Yang masih rendah justru indikator ekspresi budaya, yakni keterlibatan masyarakat dalam aktivitas kebudayaan yang terdokumentasi,” ujarnya.
Padahal, lanjut Rohendi, berbagai tradisi budaya hampir setiap hari digelar di berbagai daerah di Banten. Namun, banyak kegiatan tersebut belum terdokumentasi secara resmi sehingga tidak tercatat dalam basis data nasional.
Karena itu, ia mendorong setiap penyelenggara kegiatan budaya melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) agar aktivitas kebudayaan masyarakat dapat masuk dalam pendataan nasional.
Selain itu, Rohendi berharap pemerintah semakin memberikan ruang kepada organisasi seni untuk menjadi pelaksana kegiatan kebudayaan.
“Kalau ada lomba qasidah, serahkan kepada LASQI. Kalau kegiatan silat, berikan kepada organisasinya. Pemerintah cukup menjadi fasilitator. Dengan begitu organisasi akan berkembang dan pelestarian budaya berjalan lebih optimal,” katanya.
Pelantikan DPW LASQI Nusantara Jaya Provinsi Banten Periode 2026 – 2031 diharapkan menjadi awal lahirnya gerakan kolaboratif dalam menjaga seni budaya Islam. Di tengah derasnya pengaruh budaya global, keberadaan LASQI dinilai memiliki peran strategis untuk memastikan warisan budaya Islam tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat Banten, khususnya generasi muda.
(Has/Red*)















