Pelantikan Camat Bojonegara Dinilai Jadi Momentum Penguatan Budaya Persilatan Bandrong di Tingkat Kecamatan

SERANG, WILIP.ID – Pelantikan H. Asep Sofwatullah, Lc., MM sebagai Camat Bojonegara, Kabupaten Serang, tidak semata dimaknai sebagai rotasi jabatan birokrasi. Lebih jauh, momen tersebut dibaca sebagai peluang strategis untuk memperkuat peran budaya lokal, khususnya persilatan Bandrong, dalam denyut pemerintahan dan pelayanan publik di tingkat kecamatan.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bandrong Kota Cilegon, Mustasim Madyaksa, menyampaikan apresiasi atas pelantikan tersebut. Ia menilai, kepemimpinan camat memiliki posisi penting sebagai jembatan antara struktur pemerintahan formal dan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Banten.

“Bandrong bukan sekadar seni bela diri, tetapi laku budaya yang mengajarkan disiplin, etika, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini relevan jika dihidupkan dalam tata kelola pemerintahan di tingkat kecamatan,” kata Mustasim dalam keterangan tertulis, Minggu (11/1/2026).

Menurutnya, Kecamatan Bojonegara memiliki basis sosial yang kuat dengan ikatan komunal yang masih terjaga. Dalam konteks ini, persilatan Bandrong berperan sebagai perekat sosial sekaligus ruang pembinaan karakter masyarakat, terutama generasi muda.

Mustasim menekankan bahwa perhatian pemerintah kecamatan terhadap budaya persilatan dapat menjadi pendekatan efektif dalam membangun pelayanan publik yang humanis dan berkarakter. Camat, kata dia, tidak hanya berfungsi sebagai administrator, tetapi juga figur budaya yang mampu membaca dan merawat kearifan lokal.

“Di tingkat kecamatan, ruang interaksi antara pemerintah dan masyarakat sangat dekat. Jika nilai-nilai Bandrong seperti musyawarah, hormat pada sesepuh, dan keberanian bertanggung jawab diinternalisasi, pelayanan publik akan terasa lebih adil dan membumi,” ujarnya.

DPD Bandrong Kota Cilegon juga mendorong adanya sinergi konkret antara pemerintah kecamatan dengan padepokan-padepokan Bandrong serta komunitas budaya lainnya. Sinergi ini dinilai penting agar pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi bagian dari agenda pembinaan sosial dan kebudayaan.

Apalagi, H. Asep Sofwatullah diketahui juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Bandrong Banten Indonesia. Posisi ganda tersebut dipandang sebagai modal sosial untuk memperkuat peran Bandrong di level kebijakan lokal tanpa menghilangkan netralitas birokrasi.

“Budaya persilatan dapat menjadi energi moral bagi aparatur dan masyarakat. Keteladanan pemimpin yang memahami akar budaya akan membangun kepercayaan publik secara alami,” tegas Mustasim.

Dalam perspektif budaya Banten, keteladanan merupakan inti kepemimpinan. Dari ruang pelayanan kecamatan hingga forum warga, kehadiran pemimpin yang berpijak pada nilai persilatan Bandrong diyakini mampu menjaga harmoni sosial sekaligus mendorong kemajuan wilayah secara berkelanjutan.

 

(Pis/Red)