CILEGON, WILIP.ID – Nuansa religius dan budaya menyatu dalam acara tasakuran akikah cucu kedua Sekretaris DPD Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PPSI) Kota Cilegon, Rahmatullah AS, yang dirangkai dengan peringatan Milad ke-5 Padepokan Bandrong Tegal Papak, Sabtu malam (11/1/2026).
Rahmatullah menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar hajatan keluarga, melainkan momentum kebersamaan para pelaku, pecinta, dan pelestari budaya persilatan di Banten.
“Alhamdulillah, malam ini Allah SWT mempertemukan kami sekeluarga dengan saudara-saudara, keluarga besar PPSI, serta para penggiat budaya persilatan. Ini menjadi kebahagiaan dan kekuatan tersendiri bagi kami,” ujar Rahmatullah disela kegiatan.
Ia menjelaskan, acara tersebut digelar dalam rangka tasakuran akikah cucu keduanya—putri kedua dari Muhammad Rizki Baidullah—yang sekaligus bertepatan dengan lima tahun berdirinya Padepokan Bandrong Tegal Papak. Menurutnya, momen ini menjadi simbol kesinambungan nilai religius, kekeluargaan, dan budaya.
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian khusus dengan kehadiran tokoh adat dan budaya Banten, K.H. Abdul Basit, yang merupakan generasi ke-9 Sultan Ageng Tirtayasa. Kehadiran tokoh keturunan kesultanan itu dinilai menjadi energi moral bagi para pelaku budaya persilatan.
“Kehadiran beliau merupakan kehormatan besar bagi kami. Di tengah kesibukan, beliau tetap menyempatkan hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya Banten,” kata Rahmatullah.
Dalam kesempatan itu, K.H. Abdul Basit mengungkapkan rasa haru dan kebanggaannya saat menyaksikan langsung kegiatan paguron yang digelar. Meski undangan diterimanya secara mendadak, ia mengaku terkesan dengan semangat kebersamaan para pelaku budaya.
“Hati saya terasa indah melihat paguron malam ini. Undangannya memang dadakan, tetapi saya bahagia bisa bertemu langsung dengan saudara-saudara yang terus meneruskan budaya leluhur,” tuturnya.
Menurutnya, paguron bukan hanya ruang silaturahmi, tetapi juga medium penting untuk merawat warisan Kesultanan Banten yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal. Ia berharap semangat pelestarian budaya ini terus tumbuh dan mengakar.
“Semoga ke depan semakin jaya, lebih mantap, dan terus berkembang,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen generasi penerus kesultanan untuk mendukung pelestarian budaya secara konkret. Menurutnya, upaya menjaga tradisi tidak boleh berhenti pada seremoni semata.
“Kami selaku penerus akan terus men-support agar kegiatan budaya ini lebih giat dan menyebar ke seluruh wilayah Banten, bahkan Indonesia,” tegasnya.
Lebih jauh, K.H. Abdul Basit menyinggung pentingnya menghidupkan kembali tradisi saptonan, yakni pertemuan rutin setiap hari Sabtu yang dahulu menjadi ruang silaturahmi keluarga besar dan masyarakat. Tradisi tersebut dinilai relevan untuk memperkuat ikatan sosial dan pewarisan nilai budaya di tengah perubahan zaman.
“Ini warisan lama yang perlu kita hidupkan kembali, tentu dengan pendekatan seni dan kebudayaan yang sesuai dengan konteks Republik Indonesia,” katanya.
Rahmatullah menilai pesan tersebut menjadi penguat bagi PPSI dan para penggiat persilatan untuk terus bergerak menjaga marwah budaya Banten. Ia berharap dukungan tokoh adat, masyarakat, dan pemerintah dapat memperluas ruang hidup budaya persilatan.
“Budaya adalah jati diri. Jika terus dirawat dan diwariskan, persilatan akan tetap hidup dan menjadi kebanggaan Banten serta Indonesia,” pungkasnya.
Acara tersebut menjadi penanda bahwa warisan budaya Kesultanan Banten masih memiliki denyut kehidupan, dijaga lintas generasi melalui kolaborasi nilai religius, seni, dan kebudayaan di tengah dinamika zaman modern.
(Pis/Red*)















