CILEGON, WILIP.ID — Persoalan sampah di Kota Cilegon tak cukup diselesaikan dengan mengangkut limbah dari tempat pembuangan ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Perubahan harus dimulai dari sumbernya, termasuk sekolah yang menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda.
Semangat itulah yang diusung Pemerintah Kota Cilegon bersama PT Chandra Asri Pacific dan Yayasan Bakti Barito melalui peluncuran Program Kolaborasi Kelola Sampah Ekonomi Sirkular (Kolase) Batch 3 dan 4 Tahun 2026. Program ini melibatkan 120 sekolah di Kota Cilegon sebagai bagian dari upaya membangun budaya pengelolaan sampah sejak lingkungan pendidikan.
Peluncuran yang berlangsung pada Kamis (24/9/2026) tersebut menandai penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, satuan pendidikan, dan masyarakat dalam mendorong pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Direktur Legal and External Affairs PT Chandra Asri Pacific, Edi Riva’i, mengatakan perluasan Program Kolase menunjukkan bahwa gerakan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular terus berkembang. Program yang semula diterapkan di empat sekolah, kemudian meluas menjadi 25 sekolah, kini diperluas hingga 120 sekolah.
Menurut Edi, sekolah memiliki posisi strategis untuk menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah. Melalui pendidikan dan pembiasaan, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami pentingnya kebersihan, tetapi juga mampu mengelola sampah secara bertanggung jawab.
“Bagaimana sekolah menjadi agen pengelolaan sampah. Pemerintah kota sebagai inisiator sekaligus pemegang kebijakan memberikan perhatian dan dukungan terhadap program ini,” ujar Edi.
Ia berharap sekolah-sekolah di Kota Cilegon dapat menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Namun, keberhasilan program tersebut, kata dia, tidak semata-mata diukur dari banyaknya sekolah yang terlibat.
Lebih dari itu, ukuran keberhasilan terletak pada perubahan perilaku, mulai dari kebiasaan memilah sampah, mengurangi timbulan sampah, hingga memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat.
“Kalau berjalan dengan baik, dampaknya bisa dirasakan sekitar 240 ribu orang. Sampah juga memiliki nilai ekonomi dan beban TPA dapat berkurang,” katanya.
Direktur Yayasan Bakti Barito, Anis Purbasari, mengatakan isu pendidikan dan lingkungan menjadi perhatian lembaganya. Hal tersebut mencakup persoalan perubahan iklim, ekonomi sirkular, dan konservasi.
Sejak 2022, Yayasan Bakti Barito telah menjangkau hampir 200 sekolah melalui program pengelolaan sampah. Dari pelaksanaan tersebut, sekitar 35,3 ton sampah tercatat telah dikelola.
Anis berharap pendampingan terhadap 120 sekolah peserta Program Kolase dapat memberikan dampak langsung dan berkelanjutan.
“Kami berharap dapat terus mendampingi dan memberikan dampak langsung bagi 120 sekolah yang menjadi bagian dari program ini,” ujarnya.
Program Kolase menjadi gambaran bahwa pengelolaan sampah tidak harus berhenti pada aktivitas membersihkan lingkungan. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, sampah dapat dipilah, dimanfaatkan kembali, didaur ulang, atau diolah sehingga memiliki nilai guna dan ekonomi. Pada saat yang sama, jumlah sampah yang berakhir di TPA diharapkan dapat ditekan.
Wali Kota Cilegon Robinsar menegaskan bahwa sampah merupakan persoalan yang dihadapi banyak daerah, termasuk Kota Cilegon. Karena itu, penanganannya tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus dimulai dari hulu hingga hilir.
Ia mengingatkan bahwa kenyamanan hidup sehari-hari tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan persoalan sampah. Tanpa pengelolaan yang serius, sampah berpotensi menumpuk, menimbulkan gangguan lingkungan, dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
“Sampah menjadi persoalan bukan hanya di Cilegon. Karena terlalu nyaman, kita tidak terlalu fokus membenahinya. Akhirnya sampah menggunung dan menjadi penyakit. Ini harus betul-betul diselesaikan dari hulu sampai hilir,” kata Robinsar.
Bagi Robinsar, Program Kolase bukan sekadar upaya mengurangi volume sampah. Program tersebut juga menjadi sarana edukasi untuk membentuk karakter generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
“Program ini bukan hanya untuk menghilangkan sampah, tetapi menjadi sarana edukasi dan pembelajaran agar generasi ke depan tidak sembarangan membuang sampah dan memahami bagaimana mengelola sampah,” ujarnya.
Ia meminta kepala sekolah dan para guru menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pembelajaran sehari-hari. Kebiasaan memilah dan mengelola sampah di sekolah diharapkan dapat terbawa ke rumah dan lingkungan masyarakat.
Dengan demikian, sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi titik awal perubahan perilaku dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Selain memperkuat pengelolaan sampah melalui sekolah, Robinsar menyampaikan rencana pengembangan pengolahan sampah menjadi energi di wilayah Serang Raya.
Ia menyebut, pada 2028 direncanakan groundbreaking pembangunan pembangkit listrik dengan alokasi pengolahan sampah untuk Kota Cilegon sekitar 300 ton per hari.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Kendati demikian, pengolahan sampah menjadi energi tetap membutuhkan kesiapan teknologi, infrastruktur, tata kelola, dan pemilahan sampah dari sumbernya.
“Bagaimana ke depan sampah ini betul-betul bisa diolah. Output utamanya adalah mengubah paradigma, mengubah habit, sama-sama menjaga lingkungan sehingga sampah bisa berkurang,” tuturnya.
Robinsar juga mengajak dunia industri di Kota Cilegon untuk memberikan dukungan maksimal terhadap berbagai program pengelolaan sampah. Menurutnya, persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, sekolah, masyarakat, dan para penggiat lingkungan diharapkan terus diperkuat. Sebab, membangun kota yang bersih tidak cukup hanya dengan menambah armada pengangkut sampah atau memperluas tempat pembuangan.
Perubahan yang lebih mendasar harus dimulai dari kebiasaan. Dari sekolah, gerakan itu diharapkan tumbuh menjadi budaya di rumah, lingkungan masyarakat, hingga kawasan industri.
“Terima kasih banyak kepada Chandra Asri, Yayasan Bakti Barito, dan teman-teman penggiat sampah yang terus memberikan dukungan. Mari bersama-sama mewujudkan Cilegon yang semakin bersih,” pungkasnya.
(Alfa/Red*)















