Bukan Sekadar Jualan Online, GOW Cilegon Dorong UMKM Perempuan Kuasai Strategi Digital Branding

CILEGON, WILIP.ID – Persaingan usaha di era digital menuntut pelaku UMKM tidak sekadar memiliki produk berkualitas. Kemampuan membangun identitas merek, mengemas cerita produk, hingga menjangkau konsumen melalui media sosial kini menjadi bagian penting dalam menentukan daya saing usaha.

Tantangan itulah yang coba dijawab Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Cilegon melalui Workshop Digital Branding UMKM Perempuan Tingkat Kota Cilegon Tahun 2026 di Aula DPRD Kota Cilegon, Rabu (4/11/2026).

Mengusung tema “From Ordinary Women to Digital Entrepreneurs”, kegiatan tersebut diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai organisasi perempuan serta pelaku UMKM, baik binaan maupun mandiri.

Workshop ini bukan sekadar agenda pelatihan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya mendorong perempuan pelaku usaha agar tidak tertinggal dalam perubahan pola perdagangan yang semakin bergantung pada teknologi digital.

Sebab, di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka, produk yang bagus belum tentu mudah dikenal konsumen. Tanpa strategi pemasaran dan identitas merek yang kuat, produk lokal berpotensi kalah bersaing, bahkan sebelum konsumen mengenal kualitasnya.

Owner Raseye, Ratu Ani Staffiani, A.Md., Kes., yang hadir sebagai narasumber, menekankan bahwa kemampuan memanfaatkan media digital sudah menjadi kebutuhan bagi pelaku UMKM, khususnya perempuan.

Menurut dia, pola pemasaran konvensional yang hanya mengandalkan toko fisik tidak lagi cukup untuk menjawab perubahan perilaku konsumen. Pelaku usaha perlu aktif memanfaatkan platform digital agar produknya semakin dikenal dan memiliki jangkauan pasar lebih luas.

Namun, membangun pemasaran digital bukan semata-mata rutin mengunggah foto produk atau menawarkan barang melalui media sosial. Ada strategi komunikasi yang perlu diperhatikan agar konten mampu menarik perhatian calon pembeli.

Salah satunya melalui pendekatan storytelling, yakni menyampaikan cerita di balik sebuah produk.

Ratu Ani mencontohkan, pelaku UMKM dapat membagikan proses pemilihan bahan baku, aktivitas produksi, hingga cerita keseharian dalam menjalankan usaha. Konten semacam itu dinilai mampu menghadirkan sisi autentik produk sekaligus membangun kepercayaan konsumen.

“Cara sederhananya adalah dengan melakukan storytelling dalam keseharian bisnis, seperti membagikan cerita proses pemilihan bahan baku hingga pembuatan produk. Konsumen saat ini lebih tertarik pada proses otentik sebuah produk,” ungkap Ratu Ani.

Ia juga mengingatkan agar pelaku UMKM tidak terjebak dalam pola promosi yang monoton. Konten dengan bahasa terlalu kaku dan narasi panjang justru berpotensi membuat audiens kehilangan minat.

Sebaliknya, cerita yang sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan memperlihatkan proses nyata di balik produk dapat menjadi kekuatan dalam membangun komunikasi dengan konsumen.

Dengan pendekatan tersebut, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai etalase digital, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan karakter, nilai, dan keunggulan sebuah usaha.

Sementara itu, Ketua GOW Kota Cilegon, Nur Kusuma Ngarasati Fajar, mengatakan workshop digital branding merupakan bagian dari pelaksanaan program kerja organisasi sepanjang 2026.

Ia menyebut, tingginya partisipasi peserta menunjukkan besarnya minat perempuan pelaku usaha untuk mendapatkan pengetahuan mengenai pemasaran digital.

“Dari target 70 orang, yang hadir mencapai 90 peserta. Ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari para perempuan pelaku UMKM di Cilegon,” ujar Nur Kusuma.

Menurut dia, capaian jumlah peserta tersebut menjadi salah satu indikator positif bahwa program pemberdayaan perempuan melalui peningkatan kapasitas usaha mendapat respons baik dari masyarakat.

Ke depan, GOW Kota Cilegon berencana memperluas jangkauan pembinaan hingga tingkat kecamatan dan perguruan tinggi. Dengan demikian, pengetahuan mengenai digital branding tidak hanya berhenti pada peserta yang mengikuti workshop, tetapi dapat menjangkau lebih banyak perempuan pelaku usaha.

Langkah tersebut sekaligus membuka peluang kolaborasi antara organisasi perempuan, pelaku UMKM, dan lingkungan akademis dalam memperkuat kapasitas kewirausahaan.

Pada akhirnya, tantangan UMKM perempuan bukan hanya bagaimana menghasilkan produk, melainkan bagaimana membuat produk tersebut dikenal, dipercaya, dan dipilih konsumen.

Digital branding menjadi salah satu pintu masuk untuk menjawab tantangan itu. Sebab, di tengah pasar yang semakin kompetitif, kemampuan bercerita tentang produk bisa menjadi pembeda yang tidak dimiliki semua pelaku usaha.

Melalui kegiatan ini, GOW Kota Cilegon berupaya mendorong perempuan agar tidak hanya menjadi pelaku usaha di lingkungannya sendiri, tetapi juga mampu tampil sebagai pengusaha yang adaptif, kreatif, dan kompetitif di ruang digital.

(Duh/Red*)