Bangun Pendidikan Islam Berkelanjutan, STIT dan SDIT Al-Khairiyah Citangkil Teken MoU

CILEGON, WILIP.ID – Komitmen membangun pendidikan Islam yang berkualitas terus digencarkan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon. Kali ini, STIT memperkuat langkahnya lewat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Khairiyah Citangkil, Senin (10/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan kelembagaan antar-unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Al-Khairiyah. Tujuannya jelas: membangun sinergi berkelanjutan untuk mencetak generasi Islam yang unggul, cerdas, dan berakhlak mulia.

Dalam MoU tersebut, kedua lembaga sepakat menjalin kolaborasi di berbagai bidang keagamaan dan pembinaan karakter, antara lain:

1. Pendampingan tahfidz bagi siswa-siswi SDIT Al-Khairiyah.

2. Pelatihan Baca Iqra’ jilid 1–6 untuk memperkuat kemampuan dasar membaca Al-Qur’an.

3. Penguatan kegiatan keagamaan rutin seperti salat dhuha berjamaah, tadarrus Al-Qur’an, dan salat dzuhur berjamaah.

Sebagai pelaksana lapangan, STIT Al-Khairiyah akan menurunkan 15 mahasiswa penerima beasiswa tahfidz dari berbagai semester — mulai dari hafalan 3, 5 hingga 30 juz. Mereka akan berperan sebagai pendamping dan penggerak kegiatan keagamaan di SDIT Al-Khairiyah.

Ketua STIT Al-Khairiyah, H. Ahmad Munji, M.Pd., menyampaikan bahwa kerja sama ini bukan sekadar bentuk pengabdian, tetapi juga sarana pembentukan karakter mahasiswa.

“Program ini bukan hanya tentang pengabdian, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa mengaktualisasikan ilmunya di lapangan. Mereka tidak hanya belajar teori, tapi juga berinteraksi dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.

Ahmad Munji menegaskan, melalui kegiatan ini STIT ingin melahirkan calon pendidik yang profesional, religius, dan berjiwa sosial tinggi — sejalan dengan visi lembaga.

Kepala SDIT Al-Khairiyah Citangkil, Tuti Alwi, S.Pd.I, menyambut antusias kerja sama tersebut. Ia menilai, pendampingan dari mahasiswa STIT akan memperkuat pembelajaran Al-Qur’an dan kegiatan keagamaan di sekolahnya.

“Kami sangat menyambut positif program ini. Kehadiran mahasiswa STIT menjadi angin segar bagi kami, karena bidang tahfidz masih perlu dukungan dan penguatan,” tutur Tuti.

Kerja sama ini akan berjalan selama empat tahun, dengan mekanisme teknis yang akan dievaluasi secara berkala sesuai kebutuhan kedua pihak.

Melalui kolaborasi ini, STIT dan SDIT Al-Khairiyah berharap bisa memperkuat ekosistem pendidikan Islam di Cilegon — bukan hanya di tataran konsep, tapi dalam praktik nyata di ruang belajar dan kehidupan sehari-hari.

“Semoga ini menjadi langkah berkelanjutan untuk mewujudkan visi STIT Al-Khairiyah: mencetak pendidik yang profesional, religius, dan bermanfaat bagi umat serta bangsa,” tutup Ahmad Munji.

 

(Elisa/Red*)