CILEGON, WILIP.ID – Insiden dugaan ledakan yang terjadi di kawasan pabrik kimia PT Mitsubishi Chemical Indonesia (MCCI), Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, memicu kepanikan warga di sekitar wilayah Gerem, Senin (25/5/2026). Dentuman keras disertai kepulan asap dan material yang beterbangan membuat masyarakat berhamburan keluar rumah demi menyelamatkan diri.
Di tengah situasi yang masih dipenuhi tanda tanya, warga mengaku khawatir terhadap dampak kesehatan akibat paparan zat yang belum diketahui secara pasti. Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi terkait jenis material maupun potensi risiko kesehatan yang ditimbulkan dari insiden tersebut.
Kondisi itu mendapat sorotan keras dari DPD Gerakan Mahasiswa Al-Khairiyah (Gema) Kota Cilegon. Organisasi mahasiswa tersebut menilai insiden di kawasan industri strategis Kota Cilegon itu tidak bisa dianggap sekadar gangguan teknis biasa, melainkan alarm serius terhadap lemahnya pengawasan keselamatan industri.
Sekretaris DPD Gema Al-Khairiyah Kota Cilegon, Bustomi, mengatakan kepanikan warga menjadi bukti bahwa masyarakat merasakan ancaman langsung dari aktivitas industri yang berada sangat dekat dengan permukiman.
“Warga sampai harus menyelamatkan diri sendiri di tengah minimnya informasi. Ini menunjukkan adanya ancaman nyata yang dirasakan masyarakat di luar area pabrik,” ujar Bustomi dalam keterangannya.
Menurutnya, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa sistem mitigasi dan pengamanan industri belum mampu memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat sekitar. Ia menyebut, keselamatan publik seharusnya menjadi prioritas utama, terutama bagi perusahaan yang bergerak di sektor kimia berisiko tinggi.
Gema Al-Khairiyah juga menyoroti lambatnya penyampaian informasi resmi terkait dampak zat yang diduga menyebar ke lingkungan sekitar pasca-ledakan. Ketidakjelasan informasi dinilai memperbesar kecemasan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan industri Gerem.
“Jangan sampai masyarakat dibiarkan berspekulasi tentang udara yang mereka hirup sendiri. Publik berhak mengetahui secara terbuka apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan,” katanya.
Selain itu, Gema Al-Khairiyah menilai insiden tersebut menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap konsep buffer zone atau wilayah penyangga aman antara kawasan industri dan permukiman warga. Sebab, dalam praktiknya, masyarakat masih merasakan langsung dampak dari aktivitas industri ketika terjadi gangguan operasional.
Organisasi tersebut mendesak pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap sistem keselamatan operasional PT MCCI, termasuk memastikan standar mitigasi keadaan darurat berjalan efektif.
“Keselamatan warga tidak boleh menjadi harga yang dibayar atas aktivitas industri. Pemerintah harus hadir memastikan rasa aman masyarakat tetap terlindungi,” tegasnya.
Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu penjelasan resmi dari pihak perusahaan maupun otoritas terkait mengenai penyebab insiden, dampak lingkungan yang ditimbulkan, serta langkah penanganan yang sedang dilakukan.
(Has/Red*)















