CILEGON, WILIP.ID — Cilegon bukan hanya soal baja dan industri berat. Kota ini kini tengah berada di tikungan sejarah menuju identitas baru: pusat peradaban pers digital Indonesia. Dan motor penggeraknya adalah Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).
Ketua SMSI Provinsi Banten, Lesman Bangun, menyampaikan seruan kuat kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut aktif mendukung pembangunan Monumen Siber Indonesia yang ditargetkan rampung 9 Februari 2026.
“Ini bukan sekadar proyek seremonial. Ini monumen bangsa, simbol perjalanan pers digital Indonesia. Cilegon sebagai tempat lahirnya SMSI layak menjadi rumahnya,” tegas Lesman dalam sambutannya pada Musyawarah Kota (Muskot) SMSI Kota Cilegon di Aula DPRD Cilegon, Senin, 3 November 2025.
Momentum Besar, Jangan Terlewat
Nada Lesman tegas, bahkan cenderung menggugah. Ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah daerah—baik dari sisi kebijakan maupun pendanaan—menjadi kunci agar proyek monumental ini terwujud.
Menurutnya, jika kota lain mampu mengklaim sejarah lewat monumen, mengapa Cilegon tidak?
“Kalau PWI punya monumen di Solo sebagai simbol kelahirannya, maka SMSI pun harus punya monumen di Cilegon. Ini momentum besar. Jangan sampai kita terlambat mendukung sesuatu yang akan jadi kebanggaan nasional,” tekannya.
Lesman mengingatkan, di tengah persaingan kota-kota besar dalam mem-branding diri sebagai kota digital, Cilegon memiliki nilai historis yang tak dimiliki daerah lain. SMSI lahir di kota ini pada 7 Maret 2017—fakta yang menurutnya harus diabadikan, bukan dilupakan.
Dari Kota Baja ke Kota Data dan Literasi
Lebih jauh, Lesman membayangkan monumen ini bukan sekadar patung atau bangunan simbolik, melainkan ruang edukasi, pusat literasi digital, hingga ikon wisata informasi nasional.
Sebuah landmark yang menggarisbawahi pesan:
Cilegon bukan hanya membangun baja, tetapi juga membangun peradaban informasi.
Di tengah arus digitalisasi dan derasnya hoaks, ujar Lesman, Cilegon punya kesempatan memimpin narasi. Bukan ikut arus, tapi membentuk arus.
Pertanyaannya Kini: Siapkah Cilegon Melangkah?
Seruan Lesman menjadi alarm bagi pemangku kebijakan. Ia tak sedang membangun mimpi kosong, melainkan mengajukan tawaran sejarah.
Dalam dinamika global di mana informasi adalah energi baru, ia menegaskan:
Keputusan politik hari ini akan menentukan posisi Cilegon di peta digital Indonesia esok hari.
Akan jadi penggerak? Atau hanya penonton sejarah?
(Elisa/Red)















