Ekbis  

Daun Talas Beneng: Potensi Emas Hijau Penghasil Dollar

 

Hujan baru saja membasahi kaki Gunung Karang, saat matahari baru saja menampakkan sinarnya yang hangat dari balik awan hitam yang beranjak pergi. Hamparan kebun talas terbentang luas sejauh mata memandang. 

Daun-daunnya yang hijau lebar melambai lembut ditiup angin, menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Setiap helai daun talas tampak segar, seolah menyerap kebaikan dari tanah subur dan air yang melimpah.

Kebun talas ini bukan hanya sekedar pemandangan indah. Di balik hijaunya daun-daun yang tumbuh subur, tersembunyi harapan dan potensi. Setiap petani yang merawat kebun ini tahu, daun talas bukan hanya bagian dari tanaman, melainkan sumber kehidupan. 

Mereka mengolah tanah dengan penuh cinta, memastikan setiap tanaman mendapatkan perawatan terbaik, berharap kelak akan mengubah dedaunan ini menjadi peluang yang menguntungkan.

“Daun talas mungkin tampak biasa saja, tetapi ditangan yang tepat, ia bisa berubah menjadi ladang dolar. Kemampuan melihat potensi daun talas adalah langkah pertama menuju kesuksesan.”

Begitulah pernyataan Idi Suryadi, Direktur Bumdes Sumur Tujuh Saninten (STS) Kecamatan Kaduhejo melihat peluang daun talas beneng bisa menjadi lembaran hijau uang dolar. Pemuda asal Pandeglang, Provinsi Banten itu tampak tekun menggeluti usaha budidaya daun talas beneng. Inovasi dan kreativitas, daun yang sederhana bisa menjadi sumber pendapatan yang luar biasa di pasar global.

Seperti daun talas yang kuat menahan air, Kang Idi Suryadi sangat gigih membangun usaha budidaya talas beneng di daerah Kaki Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang. Kang Idi Suryadi bersama puluhan petani yang tergabung dalam BUMDES STS memiliki cita-cita yang sama, yaitu menjadikan daun talas sebagai emas hijau yang dapat menghasilkan dollar dari pasar global. Untuk itu perlu membekali para petan sebuah konsep usaha pertanian berkelanjutan untuk memenuhi target tercapainya ekspor daun talas kering ke luar negeri.

“Permintaan ekspor daun talas kering ke negara-negara Asia saja besar, ditambah lagi permintaan dari Eropa, Amerika dan Australia,” kata Kang Idi Suryadi menyampaikan peluang usaha ekspor daun talas beneng kering di kebunnya, Selasa 17 Juni 2024.

BUMDES STS yang mendapatkan pembinaan dari Desa Sejahtera Asta menatap peluang ekspor daun talas beneng kering cukup menjanjikan. Disebut Kang Idi Suryadi diantaranya adalah permintaan pasar internasional sangat tinggi untuk memenuhi bahan baku produk kesehatan, kuliner dan industri.

“Saat ini yang menjadi populer adalah daun talas beneng kering bisa dijadikan sebagai pengganti tembakau untuk produk rokok. Talas beneng dipercaya memiliki kandungan lebih sehat atau bisa dikatakan sebagai produk herbal dan alami,” kata Kang Idi Suryadi.

Pemenuhan ekspor satu kontainer daun talas beneng kering atau setara 7,5 ton harus terpenuhi di setiap pengiriman. BUMDES STS yang dipimpin Kang Idi Suryadi selama ini masih bergabung dengan kelompok usaha di bawah binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten untuk pemenuhan ekspor.

“Karena sudah merasakan proses ekspor dan tahu peluangnya, saya punya keyakinan BUMDES ini bisa mandiri melakukan ekspor,” kata Kang Idi Suryadi.

Kang Idi Suryadi memiliki keyakinan sanggup secara mandiri ekspor daun talas beneng ke luar negeri. Kini ia sedang berusaha untuk memenuhi sertifikasi dan kepatuhan dalam regulasi ekspor.

“Ini jadi tantangan kita untuk mengurus proses perizinan dan regulasi ekspor yang sering kali rumit dan memerlukan pemahaman mendalam tentang persyaratan negara tujuan,” kata Kang Idi Suryadi.

Bukan Kang Idi Suryadi namanya jika tidak berani mendobrak hambatan itu. Kini perizinan sudah diproses, seperti pemenuhan HACCP atau ISO 22000 untuk legal ekspor daun talas.

Kedepan, Kang Idi Suryadi bersama para petani di Kecamatan Kaduhejo berupaya menjadikan tanaman talas beneng sebagai komoditas pertanian berkelanjutan. 

Apalagi tanaman yang dipatenkan sebagai tanaman asli dari Kabupaten Pandeglang ini mudah dibudidayakan dan tahan terhadap hama. Ini akan menarik perhatian bagi negara-negara yang mendukung produk ramah lingkungan.

“Saya akui masih kesulitan untuk memenuhi kuota kontainer untuk bisa dikirim ke luar negeri. Perkebunan yang ada di kaki gunung karang sementara baru mencukupi kebutuhan pasar lokal,” kata Kang Idi Suryadi.

Pengalaman mengirimkan daun talas dari bumi kaki Gunung Karang Pandeglang setidaknya pernah menjelajahi pasar Internasional. Pengalaman ini membangkitkan gairah Kang Idi Suryadi untuk lebih aktif membina para kelompok tani agar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen daun talas beneng.

“Kita sangat terbuka membangun jaringan untuk berkolaborasi meningkatkan pemasaran daun talas beneng.  Tujuannya adalah petani di Kabupaten Pandeglang lebih sejahtera,” kata Kang Idi Suryadi.

Rupanya tidak hanya pengiriman daun talas kering ke luar negeri memiliki tantangan yang cukup rumit. Di saat musim penghujan, panen daun akan melimpah luar biasa. Pengeringan daun talas yang sudah dirajang atau dicacah biasanya terkendala cuaca yang kerap hujan.

“Saat musim hujan kita senang banget melihat daun-daun talas yang hijau dan besar-besar. Panen melimpah. Sayangnya keterbatasan mesin pengering  untuk pengolahan hasil panen daun inilah yang masih terbatas,” kata Kang Idi Suryadi.

BUMDES STD belum memiliki mesin pencacah dan pengering yang memiliki kapasitas besar. Meski begitu, Kang Idi Suryadi tidak tinggal diam. Advokasi dengan berbagi instansi pemerintah dilakukannya. 

“Kita butuh banyak dukungan, dari perizinan hingga modal. Kekurangan yang kita miliki, harus berkolaborasi dengan pihak-pihak yang dapat membantu untuk bisa mewujudkan cita-cita para petani di kaki Gunung Karang,” Kang Idi Suryadi. 

Mesin pengering yang berkualitas tinggi dan teknologi yang tepat sangat penting untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Disadari Kang Idi Suryadi, investasi awal untuk mesin pengering ini cukup besar.

Menyadari musim penghujan menjadi salah satu penghambat proses pengeringan daun talas beneng. Kang Idi Suryadi harus pintar-pintar mengolah daun talas beneng yang sudah disetorkan ke BUMDES STS. 

Menjaga kualitas pengolahan daun talas beneng menjadi keharusan dan konsisten. Metode pengeringan yang tidak konsisten dapat mengakibatkan produk akhir yang tidak memenuhi standar.

Maka cara pengolahan bahan baku dapat mempengaruhi kualitas produksi akhir. Proses pengeringan harus dilakukan dengan tepat untuk memastikan daun talas tetap hijau dan tidak kehilangan kualitas. 

 

Kang Idi Suryadi memiliki keyakinan, tanah di kaki Gunung Karang merupakan salah satu gunung purba di Banten ini memiliki kandungan yang bagus untuk pertanian. Pendapatan para petani selama tiga tahun terakhir dari hasil penjualan daun talas cukup bagus untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Masa panen bisa diatur sendiri, daun talas bisa dipanen setiap hari, sama artinya para petani bisa cuan setiap hari. Berbeda dengan tanaman lainnya yang ada di perkebunan seperti durian, jengkol, petai, dan mangga yang bisa dipanen saat musiman saja.

“Saya percaya hambatan ini secara proaktif dan strategis, usaha daun talas beneng dapat tumbuh dan berkembang di pasar domestik maupun internasional,” ungkap Kang Idi Suryadi dengan penuh keyakinan.

Pengolahan daun talas beneng yang tepat, nilai jual bisa lebih tinggi. Tak hanya daun, produk turunan seperti tepung dari umbi juga punya nilai yang mampu bersaing untuk komoditas pasar internasional.

“Bicara peluang ekspor ke Eropa dan Amerika saja gak bakal mati, karena permintaan untuk produk herbal dan alami yang sangat tinggi. Apalagi daun talas kering dipercaya sebagai produk premium untuk kesehatan dan kebugaran,” kata Kang Idi Suryadi.

 

Petani sedang menanam bibit talas beneng

Harapan Pertanian Berkelanjutan

Di sisi kebun yang lain, Pak Nasrudin, seorang petani berjalan menyusuri sela-sela daun talas, memeriksa setiap tanaman dengan teliti. Ia seperti memahami bahwa daun-daun talas memiliki nilai lebih dari sekadar keindahan. 

Dari kebun sederhana ini, Pak Nasrudin melihat masa depan yang cerah, dimana jerih payah petani bisa menghasilkan dollar dan meningkatkan kesejahteraan komunitas yang tergabung di BUMDES STS.

Harapan besar bagi petani talas beneng adalah keberlanjutan. Pak Nasrudin saat membersihkan perkebunan mengaku ada peningkatan perekonomian dari penjualan daun talas.

“Ya, harus rajin-rajin saja membersihkan kebun talas. Setiap sore bisa sortir sekaligus panen daun yang sudah layak. Kemudian dibawa ke BUMDES untuk disetorkan,” kata Pak Nasrudin.

Setiap kali membawa daun talas hasil panen, sedikitnya Pak Nasrudin bisa menghasilkan Rp100.000. Pendapatan yang mampu memenuhi kebutuhan dapur rumah tangganya.

“Panen bisa saja setiap hari. Paling penting liat cuaca, kalau lagi hujan terus ya ditahan dulu. Khawatir kualitas rusak saat penyimpanan dan pengeringan,” kata Pak Nasrudin.

Menyadari potensi daun talas beneng di pasaran, Pak Nasrudin semakin getol mengolah kebunnya. Jika penghasilan ingin bertambah, maka perlu adanya penambahan bibit tanaman dan menjaga kualitasnya.

“Sebagai rasa syukur, maka harus menjaga dan mengurus pohon talas agar bisa menghasilkan daun terbaik dan premium. Saya percaya kualitas akan menentukan harga,” kata Pak Nasrudin.

Kebun talas yang menghijau itu menggambarkan simbol dari potensi dan harapan. Setiap daun yang tumbuh mewakili kesempatan untuk meraih impian. Di tengah kehijauan yang menyejukkan mata, tersembunyi kisah-kisah perjuangan, dedikasi, dan keyakinan para petani, bahwa apa yang tampak sederhana bisa menjadi jalan menuju kesuksesan. 

Hamparan kebun talas ini bukan hanya ladang tanaman, melainkan ladang harapan yang siap dituai oleh petani. Potensi daun talas beneng untuk menghasilkan dollar di luar negeri sangat besar, terutama dengan strategi pemasaran yang tepat, kualitas produk yang konsisten dan inovasi berkelanjutan. 

Dengan mengatasi hambatan dan memanfaat peluang ini, BUNDES Sumur Tujuh Saninten dapat membuka pasar internasional yang luas dan menguntungkan.