CILEGON, WILIP.ID – Rencana pembangunan pabrik truk listrik pertama di Indonesia di Kota Cilegon bukan sekadar proyek industri biasa. Dengan nilai investasi mencapai Rp10 triliun, proyek ini membawa harapan besar: membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, hingga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara.
Dikutip dari mediaindonesia.com, proyek strategis ini akan digarap oleh Nusantara Halid Group bersama Grand Seleron Indonesia dan CangKuang Mining Machinery. Produksi yang direncanakan tidak hanya mencakup truk listrik, tetapi juga alat berat hingga tongkang berbasis energi listrik, lengkap dengan ekosistem komponennya, termasuk baterai.
Tahap awal pembangunan dimulai dengan penyediaan lahan seluas 8 hektare di kawasan Krakatau Industrial Estate, dengan rencana ekspansi hingga 50 hektare. Khusus pengadaan lahan saja, nilai investasinya sudah menyentuh Rp1,2 triliun—angka yang menunjukkan keseriusan sekaligus besarnya taruhannya.
Namun di balik optimisme tersebut, ada satu faktor krusial yang tak boleh diabaikan: stabilitas dan kondusivitas daerah.
Ketua Team Serangkai, Nino Suyitno, menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan modal dan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sosial dan dukungan masyarakat lokal.
“Team SERANKAI menyambut hangat dan gembira rencana ini. Dampak positifnya sangat besar bagi masyarakat dan Pemerintah Kota Cilegon,” ujar Nino, Sabtu (18/4/2026).

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya peran semua elemen dalam menjaga iklim investasi tetap sehat. Bagi Team Serangkai, proyek ini bukan sekadar investasi, melainkan momentum yang harus dikawal bersama dari awal hingga beroperasi penuh.
“Mari keluarga besar SERANKAI kita kawal dan jaga kondusifitas proyek ini, mulai dari perencanaan, pembangunan, sampai saat produksi. Agar para investor merasa aman, nyaman, dan tetap percaya pada Cilegon,” tegasnya.
Seruan ini bukan tanpa alasan. Sejarah investasi di berbagai daerah menunjukkan, banyak proyek besar justru tersendat bukan karena kekurangan dana, melainkan karena gangguan sosial, konflik kepentingan, atau lemahnya pengawalan di lapangan.
Di titik inilah, sikap Team Serangkai menjadi menarik. Mereka tidak hanya menyambut, tetapi juga mengambil posisi sebagai “penjaga iklim investasi”—sebuah peran yang, jika konsisten dijalankan, bisa menjadi faktor pembeda bagi keberhasilan proyek ini.
Menutup pernyataannya, Nino menyampaikan pesan khas yang sarat semangat kolektif:
“Salam SERANKAI… Jaga KS Group, jaga investor, tetap kondusif, Endah Juare.”
Pesan tersebut sederhana, namun mengandung makna strategis: investasi besar membutuhkan rasa aman yang besar pula. Tanpa itu, angka triliunan rupiah bisa dengan mudah berpindah ke daerah lain yang dianggap lebih siap.
Kini, bola ada di tangan semua pihak—pemerintah, masyarakat, hingga kelompok-kelompok sosial seperti Team Serangkai. Apakah Cilegon mampu menjaga momentum ini dan menjadikannya tonggak baru industrialisasi hijau? Atau justru kembali kehilangan peluang karena abai menjaga kondusivitas?
Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti, investasi sebesar ini tidak datang dua kali.
(Has/Red*)















