Eks Pengusaha Ini Pilih Turun Gunung, Bantu Gelora Cilegon Bangkit

Oplus_131072

CILEGON, WILIP.ID – Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap dianggap jauh dari denyut kehidupan rakyat, seorang pengusaha di Cilegon justru memilih jalan sebaliknya. Ia turun gunung, meninggalkan kenyamanan dunia usaha untuk menambatkan diri di gelanggang politik. Namanya Hikmatullah, kini menjabat sebagai Ketua DPD Partai Gelora Kota Cilegon.

Bagi Hikmatullah, politik bukanlah menara gading tempat segelintir elite menatap rakyat dari kejauhan. “Kita jangan hidup di atas awan. Kita harus hidup di tengah masyarakat, memahami apa yang rakyat mau,” ujarnya saat berbincang santai di Cilegon, Minggu, 5 Oktober 2025.

Kalimat itu bukan basa-basi. Ia percaya partai politik seharusnya tidak muncul hanya saat musim kampanye, melainkan hadir dalam denyut sosial masyarakat setiap hari. “Kalau kita tahu apa yang masyarakat mau, baru kita bisa bekerja maksimal. Politik itu bukan ruang hampa, tapi tempat rakyat didengar,” katanya menegaskan.

Dari Dunia Usaha ke Dunia Ide

Sebelum menapaki jalan politik, Hikmatullah dikenal sebagai pengusaha. Dunia politik baginya awalnya terasa asing. Namun, ketertarikannya tumbuh setelah ia mengenal sosok Fahri Hamzah, salah satu pendiri Partai Gelora yang dikenal dengan pemikiran tajam dan gaya bicara logis.

“Saya melihat Bang Fahri itu luar biasa. Logikanya jalan, pengetahuannya luas. Saya pikir, keren juga orang ini,” kenangnya.

Dari kekaguman itu, jalan politiknya terbuka. Ia kemudian diajak rekannya, Irfan Maulidi, untuk bergabung dalam struktur Gelora Cilegon.
“Siapa di atasnya?” tanya saya waktu itu.
“Bang Fahri,” jawabnya.
“Ya sudah, boleh deh,” katanya sambil tertawa kecil.

Kala itu, Hikmatullah belum paham betul tentang strategi dan intrik politik. Namun satu hal yang ia yakini: ia tak ingin membiarkan orang baik berjuang sendirian.

Cilegon: Kecil, Tapi Padat Persaingan

Kota Cilegon bukan wilayah yang luas, tapi kompetisi politiknya rapat dan keras. Di antara puluhan partai yang bersaing memperebutkan simpati publik, Partai Gelora termasuk yang paling muda.

“Berat banget persaingannya,” aku Hikmatullah. “Sebagai partai baru, kita harus berjuang dengan cara yang berbeda. Kalau strateginya sama dengan partai lama, kita akan tenggelam.”

Strategi yang ia maksud bukan sekadar slogan. Gelora Cilegon mencoba menanamkan pendekatan sosial yang lebih membumi—menghidupkan dialog dengan warga, membangun jejaring dengan komunitas lokal, dan hadir dalam persoalan sehari-hari masyarakat.

Meneladani Rasulullah, Meneguhkan Arah Partai

Dalam setiap langkah politiknya, Hikmatullah kerap mengutip teladan Rasulullah SAW. “Rasulullah hidup di tengah masyarakat, bukan di atas mereka. Beliau mengajarkan bahwa memahami rakyat adalah kunci keberhasilan,” ujarnya.

Bagi Hikmatullah, politik adalah cermin akhlak, bukan sekadar alat kekuasaan. “Manusia pasti punya salah. Tapi kalau kita belajar terus dari masyarakat, insya Allah arah perjuangan kita tetap benar,” katanya.

Kini, di bawah kepemimpinan nasional Anis Matta dan Fahri Hamzah, Hikmatullah semakin optimistis bahwa Partai Gelora akan tumbuh sebagai kekuatan politik baru yang menyalurkan aspirasi rakyat dengan cara yang jujur dan rasional.

“Masyarakat bisa menilai bagaimana mereka bekerja. Kami yakin, Gelora akan makin dipercaya karena yang memimpin pun orang-orang yang amanah,” tutupnya.

 

(Elisa/Red*)