CILEGON, WILIP.ID — “Bicara kebudayaan itu bukan sekadar hadir di forum, melainkan memahami ruhnya,” tegas KH. Nawawi Sahim, budayawan sesepuh Kota Cilegon yang akrab disapa Haji Wawi, di hadapan peserta Diskusi Budaya Sesi ke-3 yang digelar Studio Seni dan Wilip Institut bertajuk “Mencatat Kembali Perjumpaan-perjumpaan antara Modernisasi dan Lokalitas, serta Rencana Kota Merawat Nasib Kebudayaan dan Identitas Dirinya”, Jumat malam, 2 Mei 2025, di Kafe Luang Pesona, Cilegon.
Bagi Haji Wawi, kebudayaan bukanlah rentetan seremoni tanpa makna. Ia adalah napas yang menyatu dalam keseharian wong Cilegon — dari lahir, menikah, hingga berpulang. Tradisi-tradisi itulah, kata dia, yang mesti dipahami secara utuh sebelum bicara soal pelestarian. “Kalau yang bicara tak paham, bagaimana mau merawat?” ujarnya lugas.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Dalam banyak diskusi dan program kebudayaan, kerap muncul narasumber atau pengurus yang lebih dipilih karena kedekatan personal ketimbang kompetensi. Haji Wawi mengingatkan, jika pola semacam ini dibiarkan, yang lahir hanyalah wacana kosong, bukan langkah nyata.
Lebih jauh, ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah menyediakan museum kebudayaan yang didanai melalui APBD. Museum ini, menurutnya, penting sebagai rumah bersama: tempat edukasi, dokumentasi, sekaligus benteng terakhir pelestarian tradisi. “Agar anak cucu kita kelak tahu siapa dirinya,” katanya.
Diskusi malam itu turut menghadirkan nama-nama lain seperti KH. Muktillah, Heni Anita Susila, Muhammad Rois Rinaldi, dan Dadang Maskur, dengan Mang Pram sebagai moderator.
Tema yang diangkat memang relevan dan tak kunjung usai diperdebatkan: bagaimana kota seperti Cilegon menavigasi jalan di tengah derasnya modernisasi tanpa kehilangan akar budayanya.
Apa yang disuarakan Haji Wawi sejatinya adalah alarm: kebudayaan bukan benda mati yang sekadar dipajang di etalase proyek pemerintah. Ia adalah denyut hidup yang hanya bisa dirawat oleh mereka yang benar-benar mengerti, bukan sekadar yang berada dekat dengan lingkar kekuasaan. Sebab pada akhirnya, budaya adalah tentang keberlanjutan, bukan hanya seremoni.
(Red)















