SERANG, WILIP.ID – Pesantren Fest 2026 tak sekadar menjadi ajang pameran pendidikan dan wisata religi. Lebih dari itu, kegiatan ini dimaknai sebagai momentum strategis untuk menegaskan kembali posisi pesantren sebagai pusat pembinaan karakter sekaligus pengembangan prestasi generasi muda.
Pimpinan Pondok Pesantren Fajrul Karim, KH. Mulhat Ali Nuh, menekankan bahwa keberadaan pesantren hari ini harus dipahami secara lebih utuh—tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang pembentukan sumber daya manusia yang berdaya saing.
“Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembinaan karakter dan pengembangan prestasi. Momentum Pesantren Fest ini penting untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pesantren mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya, Minggu, 3 Mei 2026 disela acara Pesantren Fest 2026 di Area Kesultanan Banten.
Menurutnya, selama ini masih ada persepsi sempit yang memandang pesantren sebatas institusi tradisional. Padahal, kata dia, pesantren telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang mengintegrasikan nilai keislaman, kedisiplinan, serta kompetensi akademik dan non-akademik.
Melalui Pesantren Fest, KH. Mulhat melihat peluang besar untuk membuka ruang interaksi antara pesantren dan masyarakat. Dengan hadirnya berbagai program, mulai dari expo hingga kompetisi, publik dapat melihat langsung kualitas pembinaan yang dilakukan di lingkungan pesantren.
“Ini bukan hanya soal promosi, tapi edukasi. Masyarakat bisa melihat bahwa santri tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga berprestasi di berbagai bidang,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembinaan karakter di tengah tantangan era digital. Menurutnya, pesantren memiliki keunggulan dalam membentuk akhlak, kedisiplinan, dan kemandirian—nilai-nilai yang kerap tergerus di tengah arus modernisasi.
“Karakter adalah fondasi. Tanpa itu, prestasi tidak akan bertahan lama. Pesantren hadir untuk memastikan keduanya berjalan beriringan,” tegasnya.
Lebih jauh, KH. Mulhat mendorong agar momentum seperti Pesantren Fest tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem pendidikan pesantren di Indonesia.
Dengan pendekatan yang lebih terbuka dan adaptif, ia optimistis pesantren akan semakin diminati sebagai pilihan utama pendidikan, khususnya bagi orang tua yang menginginkan keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan prestasi.
Hal itu, kata dia, bukan sekadar klaim. Lulusan Pondok Pesantren Fajrul Karim telah tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri, baik di tingkat nasional maupun luar negeri—menjadi bukti konkret bahwa pesantren mampu mencetak generasi unggul yang kompetitif.
“Kami senantiasa memegang teguh visi pesantren, yakni membentuk calon ulama yang menguasai syariah dan sains, hafal Al-Qur’an, serta berakhlak mulia,” ujarnya.
Dengan fondasi tersebut, Fajrul Karim menegaskan posisinya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat lahirnya generasi masa depan yang berilmu, berkarakter, dan berprestasi.
(Has/Red*)
















